Sejarah Reog Ponorogo: Warisan Budaya yang Menjadi Ikon Jawa Timur

Penulis yang percaya setiap kata punya kekuatan. Spesialis di bidang teknologi, personal finance, dan otomotif.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Hendro Ari Gunawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Reog Ponorogo adalah seni pertunjukan tradisional kebanggaan masyarakat Ponorogo, Jawa Timur. Berakar sejak masa Hindu-Buddha dan terus berkembang hingga era modern, kesenian ini kini diakui sebagai warisan budaya yang patut dilestarikan. Untuk mengetahui kisah selengkapnya, berikut sejarah Reog Ponorogo yang dikutip dari laman resmi Disbudparpora Ponorogo.
Awal Mula Reog Ponorogo
Sejarah Reog Ponorogo dapat ditelusuri dari beberapa versi legenda. Salah satunya adalah legenda Prabu Kelanasewandana dari Kerajaan Wengker yang melamar Dewi Sanggalangit dari Kerajaan Kediri pada abad XI. Cerita ini menjadi alur pertunjukan reog versi Bantarangin.
Selain itu, legenda Suryongalam atau Ki Ageng Kutu dari Desa Kutu juga menjadi versi sejarah yang cukup berpengaruh, di mana reog digunakan sebagai bentuk kritik politik terhadap pemerintahan Raja Brawijaya V dari Kerajaan Majapahit pada abad XV.
Kedua versi legenda ini menegaskan bahwa Reog Ponorogo sudah ada sejak zaman Hindu-Buddha.
Transformasi Reog pada Masa Islamisasi
Masuknya Islam ke tanah Jawa, terutama di Ponorogo, membawa perubahan signifikan pada seni reog. Pada akhir abad XV, Raja Katong atau Bathoro Katong memodifikasi reog menjadi media dakwah Islam.
Pada masa ini, terdapat empat peran utama dalam pertunjukan reog, yaitu tari kelana, ganongan, jatilan, dan dadak merak. Kata “reog” sendiri berasal dari kata “riyokun,” yang berarti khusnul khatimah, menandakan perjuangan Bathoro Katong dalam menyebarkan agama Islam agar diridhai Tuhan.
Peran Reog dalam Masa Penjajahan dan Kemerdekaan
Selama masa penjajahan Belanda dan Jepang, pertunjukan reog sempat dibatasi untuk menghindari pengumpulan massa yang dapat memicu pemberontakan.
Namun, setelah Indonesia merdeka, seni Reog Ponorogo mendapatkan kebebasan untuk dipertunjukkan. Pada tahun 1960-an, reog sering digunakan oleh partai politik sebagai sarana mengumpulkan massa.
Organisasi kesenian seperti BREN (Barisan Reog Nasional) dan CAKRA (Cabang Reog Agama) juga muncul untuk melestarikan Reog. Kemudian, Festival Reog Nasional (FRN) mulai digelar pada tahun 1997 sebagai upaya menasionalisasi dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui reog.
Penyebaran Reog Ponorogo
Awalnya, Reog Ponorogo hanya dipraktikkan di Desa Somoroto, Kabupaten Ponorogo, sebelum menyebar ke seluruh kecamatan dan desa. Kini reog juga telah tersebar ke banyak provinsi di Indonesia seperti DKI Jakarta, Lampung, Riau, Kalimantan Timur, Sulawesi Selatan, dan Bali.
Bahkan, seni pertunjukan ini dikenal di beberapa negara seperti Amerika, Belanda, Korea, Jepang, Hongkong, dan Malaysia. Penyebaran ini sebagian besar terjadi karena mobilitas warga Ponorogo untuk bekerja, belajar, atau bepergian ke luar negeri.
Struktur dan Peran dalam Pertunjukan
Reog Ponorogo merupakan seni pertunjukan berbentuk sendratari, di mana para penarinya tampil dengan topeng besar berbentuk kepala harimau yang dihiasi bulu merak indah (dadak merak).
Terdapat peran penting dalam pertunjukan, seperti penari barong, warok, jatil, bujangganong, dan klanasewandana. Musik pengiringnya terdiri dari kendang, kempul, kethuk-kenong, slompret, angklung, dan tipung.
Adapun pertunjukan ini awalnya dilakukan oleh laki-laki, namun kini perempuan juga bisa berpartisipasi, bahkan membentuk grup reog perempuan.
Baca Juga: Sejarah Kerajaan Tarumanegara: Lokasi, Pendiri, dan Puncak Kejayaan
