Konten dari Pengguna

Sejarah Kerajaan Tarumanegara: Lokasi, Pendiri, dan Puncak Kejayaan

Hendro Ari Gunawan

Hendro Ari Gunawan

Penulis yang percaya setiap kata punya kekuatan. Spesialis di bidang teknologi, personal finance, dan otomotif.

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Hendro Ari Gunawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi kerajaan masa lampau Foto: Shutter Stock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi kerajaan masa lampau Foto: Shutter Stock

Banyak kerajaan di Pulau Jawa yang bercorak Hindu, salah satunya Kerajaan Tarumanegara. Kerajaan ini dikenal sebagai salah satu yang tertua dan paling berpengaruh di wilayah Jawa Barat. Mereka memainkan peran penting dalam perkembangan budaya dan pemerintahan pada masanya. Berikut adalah rangkuman sejarah Kerajaan Tarumanegara berdasarkan buku Ensiklopedia Sejarah Kerajaan Nusantara Seri I susunan Aloysius Fernandi.

Tempat dan Tahun Berdirinya Kerajaan Tarumanegara

Kerajaan Tarumanegara berdiri megah di tepi Sungai Citarum, Jawa Barat. Kerajaan ini didirikan oleh seorang bangsawan India bernama Maharesi Jayasingawarman, yang meninggalkan tanah kelahirannya karena konflik.

Bukti keberadaan Kerajaan Tarumanegara dapat ditemukan melalui Prasasti Kebon Kopi dan Prasasti Ciaruteun. Diperkirakan kerajaan ini mulai berdiri pada abad ke-4 atau ke-5 Masehi, dan menjadi salah satu kerajaan Hindu tertua di Pulau Jawa.

Pendiri Kerajaan Tarumanegara

Jayasingawarman, maharesi dari Dinasti Salankayana di India, merupakan pendiri Kerajaan Tarumanegara (358-382 M). Ia memilih datang ke Nusantara setelah wilayahnya ditaklukkan Maharaja Samudragupta.

Di Jawa Barat, Jayasingawarman menikahi putri Raja Dewawarman VIII. Ia kemudian memindahkan pusat pemerintahan dari Rajaputra (Salakanagara) ke Tarumanegara.

Rajaputra, atau Kota Perak sendiri sebelumnya merupakan ibu kota Salakanagara yang terletak di Teluk Lada, Kabupaten Pandeglang, Banten. Setelah pusat pemerintahan dipindahkan, Salakanagara menjadi kerajaan daerah, sementara Tarumanegara muncul sebagai kerajaan utama.

Setelah Jayasingawarman wafat, pemerintahan dilanjutkan oleh Dharmayawarman. Berdasarkan catatan sejarah, Kerajaan Tarumanegara dipimpin oleh 12 raja, yaitu:

1. Jayasingawarman (358-382 M)

2. Dharmayawarman (382-395)

3. Purnawarman (395-434 M)

4. Wisnuwarman (434-455 M)

5. Indrawarman (455-515 M)

6. Candrawarman (515-535 M)

7. Suryawarman (535-561 M)

8. Kertawarman (561-628 M)

9. Sudhawarman (628-639 M)

10. Hariwangsawarman (639-640 M)

11. Nagajayawarman (640-666 M)

12. Linggawarman (666-669 M)

Puncak Kejayaan Tarumanegara

Masa keemasan Kerajaan Tarumanegara terjadi pada pemerintahan Purnawarman. Ia mendirikan ibu kota baru bernama Sundapura pada 397 M, yang menjadi cikal bakal istilah “Sunda” untuk masyarakat Jawa Barat.

Berdasarkan Prasasti Tugu, Purnawarman juga memimpin proyek besar, yaitu penggalian Sungai Gomati sepanjang 12 km. Sungai ini menjadi vital untuk perdagangan, irigasi, dan pengendalian banjir.

Di bawah kepemimpinannya, wilayah kekuasaan Tarumanegara meliputi hampir seluruh Jawa Barat, termasuk wilayah yang kini menjadi Jakarta, Bogor, Cirebon, dan Banten.

Masyarakat hidup sebagian besar sebagai petani, namun juga bekerja di sektor peternakan, perburuan, dan perdagangan barang langka, seperti cula badak, kulit penyu, dan perak.

Kesuksesan Purnawarman juga didukung oleh kedua adiknya, Candrawarman dan Nagajayawarman. Selain cakap dalam politik, Purnawarman dikenal memiliki moralitas tinggi dan selalu memperjuangkan kesejahteraan rakyat.

Sebagai kerajaan bercorak Hindu, Tarumanegara juga menjalankan berbagai ritual keagamaan. Prasasti Tugu mencatat, pada masa Purnawarman, kerajaan melakukan persembahan 1.000 ekor sapi kepada Dewa Brahmana.

Keruntuhan Kerajaan Tarumanegara

Kerajaan Tarumanegara mulai mengalami kemunduran pada masa pemerintahan Linggawarman (666-669 M). Setelah kematiannya, kekuasaan diteruskan oleh menantunya, Tarusbawa. Namun, Tarusbawa memilih kembali ke Kerajaan Sunda, sehingga Tarumanegara kehilangan pengaruh besarnya.

Perpecahan bertambah ketika Kerajaan Galuh menarik diri, sehingga bekas wilayah Tarumanegara terbagi menjadi dua kerajaan, yaitu Sunda dan Galuh, yang dipisahkan oleh Sungai Citarum. Selain itu, tekanan dari luar, termasuk serangan Kerajaan Majapahit, turut melemahkan mereka.

Peninggalan Kerajaan Tarumanegara

Selama berdiri, Kerajaan Tarumanegara meninggalkan beberapa bukti sejarah yang kemudian bisa dijadikan sumber penelitian bagi para sejarawan hingga hari ini. Bukti peninggalan sejarah Kerajaan Tarumanegara ini dapat ditemukan dalam wujud yang beragam, mulai dari prasasti, arca, hingga karya sastra.

Baca Juga: Sejarah Kerajaan Sriwijaya, dari Awal Terbentuk hingga Keruntuhannya