Bagaimana Pengetahuan Navigasi Diwariskan Secara Lisan di Nusantara?

Penulis yang percaya setiap kata punya kekuatan. Spesialis di bidang teknologi, personal finance, dan otomotif.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Hendro Ari Gunawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pengetahuan navigasi di Nusantara umumnya tidak dibukukan sebagai teori, melainkan dibagikan secara lisan lalu diingat sebagai rangkaian petunjuk praktis untuk mengetahui kapan berangkat, ke mana mengarah, dan tanda apa yang harus dibaca dari langit serta laut. Untuk mengetahui bagaimana pengetahuan navigasi diwariskan secara lisan di Nusantara, simak uraian di bawah ini hingga tuntas.
Daftar isi
Daftar isi

Daftar isi
Pewarisan Navigasi dari Nakhoda ke Awak
Merujuk jurnal Kajian Budaya Maritim Orang Bugis Makassar dan Arah Transformasinya karya Andi Muhammad Akhmar, dkk menegaskan bahwa pengetahuan navigasi tradisional masih diturunkan secara turun-temurun melalui cerita lisan.
Salah satu polanya yakni dengan mengajak anak buah mengikuti nakhoda dalam pelayaran berulang, lalu pelan-pelan diberi tugas membaca tanda alam.
Selain itu, navigasi juga diwariskan lewat pengalaman langsung di lapangan, termasuk pengetahuan arus laut lokal dan teknik orientasi saat siang maupun malam.
Cerita Lisan tentang Bintang dan Arah
Di komunitas bahari seperti Bugis, bintang tidak hanya dipandang sebagai hiasan langit, tetapi sebagai penunjuk arah alami. Rasi bintang dikenali dengan nama-nama lokal yang mudah diingat, lalu diajarkan melalui cerita dan pengulangan.
Penelitian berjudul Implementasi Rasi Bintang Navigasi Bugis oleh Sadri Saputra dan Muammar Bakri menjelaskan bahwa pelaut Bugis menjadikan benda langit sebagai pedoman utama, yang dipadukan dengan tanda alam lain seperti angin, arus, dan ombak. Bagi mereka, peta bukan berupa kertas, melainkan gabungan antara langit dan laut.
Dalam praktiknya, ketika satu nama rasi bintang disebutkan, awak kapal langsung memahami arah yang dituju sekaligus perkiraan musim yang sedang atau akan datang.
Cerita lisan ini berfungsi sebagai alat bantu ingatan. Tanpa harus menghafal istilah teknis, para pelaut dapat menentukan jalur pelayaran hanya dengan mengingat kisah yang sudah mereka dengar sejak muda.
Tanda Alam sebagai “Bahasa Laut”
Selain bintang, pelaut Nusantara juga membaca laut sebagai “bahasa” yang penuh tanda. Arah angin, tinggi gelombang, warna air, hingga arus laut menjadi petunjuk penting dalam perjalanan. Pengetahuan ini mencakup pemahaman rinci tentang arus lokal dan cara memanfaatkannya agar perjalanan lebih aman dan hemat tenaga.
Karena tidak semua awak kapal bisa membaca peta atau alat navigasi modern, pengetahuan ini disampaikan dalam kalimat sederhana. Contohnya dengan menyebut posisi tanjung, gunung di daratan, atau pergerakan matahari.
Semua petunjuk tersebut kemudian diuji lewat praktik berulang di laut. Dengan cara ini, pelaut belajar langsung dari pengalaman, bukan hanya dari teori.
Dari Lisan ke Naskah Lontaraq Bugis
Walaupun tradisi lisan menjadi dasar utama, sebagian pengetahuan pelayaran juga ditulis agar tidak hilang. Lontaraq Attoreng Toriolo yang tersimpan di Arsip Nasional RI merupakan salah satu bentuk naskah yang membahas pengetahuan tradisional ilmu pelayaran.
Namun, naskah tersebut tidak dimaksudkan untuk menggantikan tradisi lisan. Tulisan hanya berperan sebagai pengingat dan penguat. Kemampuan bernavigasi tetap harus diasah melalui latihan langsung di laut.
Karena itu, tradisi lisan tetap bertahan hingga kini. Ia bersifat fleksibel, mudah diajarkan, dan mampu menyesuaikan diri dengan perubahan kondisi laut dari hari ke hari.
Baca juga: Sejarah Penggunaan Ilmu Perbintangan dalam Pelayaran Nusantara
(NDA)
