Konten dari Pengguna

Sejarah Penggunaan Ilmu Perbintangan dalam Pelayaran Nusantara

Hendro Ari Gunawan

Hendro Ari Gunawan

Penulis yang percaya setiap kata punya kekuatan. Spesialis di bidang teknologi, personal finance, dan otomotif.

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Hendro Ari Gunawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi ilmu perbintangan dalam pelayaran. Foto: Unsplash
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi ilmu perbintangan dalam pelayaran. Foto: Unsplash

Sejarah penggunaan ilmu perbintangan dalam pelayaran Nusantara telah dilakukan sejak ratusan tahun lalu. Buku Sejarah SMA/MA Kelas XI Bahasa Indonesia oleh H Purwanta, dkk menjelaskan bahwa pengetahuan tentang bintang sangat berperan dalam aktivitas pelayaran dan perdagangan rempah-rempah lintas Samudra Hindia sejak abad ke-7, sehingga Nusantara mampu terhubung dengan dunia luar. Pada masa ketika kompas dan GPS belum dikenal, para pelaut membaca posisi bintang untuk menentukan arah perjalanan, mengenali musim angin, serta menghindari bahaya di laut lepas. Untuk mengetahui bagaimana masyarakat Nusantara menggunakan ilmu perbintangan dalam melakukan pelayaran lebih lanjut, simak terus uraian ini.

Daftar isi

Etnoastronomi untuk Navigasi Pelaut Nusantara

Etnoastronomi adalah ilmu yang mempelajari hubungan antara budaya dan pengetahuan tentang benda langit. Di Indonesia, etnoastronomi mencatat bahwa masyarakat Nusantara telah mengenal setidaknya 27 rasi bintang lokal sejak masa pra-India.

Balai Pelestarian Nilai Budaya Bali melalui kajian Astronomi Tradisional Palelintangan Lombok menyebutkan bahwa pelaut Lombok menggunakan Bintang Selatan dan rasi Orion untuk menentukan arah mata angin saat berlayar.

Sementara itu, buku Sejarah SMA/MA Kelas XI IPS karya Ignas Kingkin Teja, dkk menjelaskan bahwa pelaut Bugis memberi nama lokal pada bintang, seperti Bintang Polaris yang disebut “Bintoeng Balu” sebagai penunjuk arah utara dan rasi Centaurus yang disebut “Bintoeng Ballawo” untuk arah selatan.

Ilmu Naujure Pelaut Bugis-Madura

Pelaut Bugis dikenal memiliki ilmu navigasi tradisional yang disebut “naujure”. Ilmu ini menggabungkan pengamatan bintang, arah angin, dan pola ombak untuk memastikan pelayaran yang aman.

Jurnal Implementasi Rasi Bintang Navigasi Bugis dari UIN Alauddin menyebutkan bahwa rasi Orion dikenal sebagai Bintoeng Pajekkoe yang menandai arah barat, sedangkan Bintoeng Tanra Tellue digunakan sebagai penunjuk arah timur.

Pengetahuan ini juga tercatat dalam naskah Lontaraq Attoreng Toriolo yang tersimpan di Arsip Nasional Republik Indonesia, yang berisi panduan membaca tanda-tanda alam, fenomena langit, serta penyesuaian kalender hijriah dan masehi dalam pelayaran.

Peran Ilmu Perbintangan di Kerajaan Sriwijaya-Majapahit

Pada masa kejayaan Sriwijaya hingga Majapahit, sekitar abad ke-7 sampai ke-15, ilmu perbintangan menjadi bagian penting dalam penguasaan jalur perdagangan laut.

Kemdikbud menyebutkan bahwa prasasti-prasasti Hindu-Buddha menunjukkan adanya sistem pertanggalan berbasis pergerakan bintang yang digunakan untuk menentukan waktu pelayaran dan musim panen.

Pelaut Madura, misalnya, memanfaatkan Bintang Sirius dan Canopus untuk memprediksi datangnya angin monsun yang sangat memengaruhi keselamatan perjalanan laut.

Penggunaan Ilmu Perbintangan untuk Pelayaran di Era Modern

Hingga saat ini, ilmu perbintangan masih digunakan oleh sebagian masyarakat pesisir. Nelayan di kawasan Medan Belawan, misalnya, masih mengamati posisi bintang untuk menentukan arah pulang dan kiblat.

Alasannya karena pemanfaatan benda langit terbukti membantu meningkatkan hasil tangkapan ikan. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) juga mengungkapkan bahwa pihaknya akan terus mengkaji etnoastronomi sebagai upaya melestarikan pengetahuan leluhur Nusantara.

Baca juga: Mengapa Becak Menjadi Transportasi Populer pada Abad ke-20? Ini Alasannya

(NDA)