Konten dari Pengguna
Mengapa Becak Menjadi Transportasi Populer pada Abad ke-20? Ini Alasannya
2 Januari 2026 16:02 WIB
·
waktu baca 3 menit
Kiriman Pengguna
Mengapa Becak Menjadi Transportasi Populer pada Abad ke-20? Ini Alasannya
Mengapa becak menjadi transportasi populer pada abad ke-20? Temukan alasan lengkapnya di sini!Hendro Ari Gunawan
Tulisan dari Hendro Ari Gunawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

ADVERTISEMENT
Becak pernah menjadi salah satu transportasi populer pada abad ke-20 di Indonesia. Becak, rickshaw beroda tiga yang dikayuh, masuk ke Indonesia sekitar pada tahun 1930-an melalui Singapura, kemudian dengan cepat menjadi pilihan utama rakyat biasa. Mengapa becak menjadi transportasi populer pada abad ke-20? Menurut Purnawan Basundoro dalam buku Pengantar Kajian Sejarah Ekonomi Perkotaan, becak banyak dipilih masyarakat karena murah, fleksibel masuk gang sempit, serta tidak membutuhkan bahan bakar seperti delman kuda. Untuk mengetahui alasan becak populer di Indonesia pada abad ke-20, simak terus uraian ini hingga tuntas.
ADVERTISEMENT
Masuknya Becak ke Indonesia
Becak pertama kali masuk ke Indonesia pada 1930-an dan dibawa oleh pedagang Tionghoa dari Singapura, Hongkong, dan Makassar. Desain becak kemudian mengalami adaptasi lokal, seperti penggunaan ban angin dan roda tiga yang lebih stabil di jalan rusak.
Data DPRD DKI Jakarta pada tahun 1936 sendiri mencatatkan jumlah becak di Jakarta mencapai 3.900 unit, lalu meningkat pesat hingga sekitar 92.650 unit pada 1970, seiring pertumbuhan urbanisasi.
Keunggulan Becak Dibanding Transportasi Lain
Dibandingkan delman kuda, becak dinilai lebih bersih karena tidak meninggalkan kotoran di jalan. Tren dan kendaraan besar juga sulit menjangkau gang sempit, sementara becak sangat lincah.
Buku Dekolonisasi Buruh Kota dan Pembentukan terbitan KITLV-Jakarta menyoroti bahwa biaya operasional becak rendah, tidak membutuhkan modal besar, serta cocok bagi buruh miskin di kota.
ADVERTISEMENT
Selain mengangkut penumpang, becak juga dapat membawa barang kecil. Sistem tarif yang fleksibel melalui tawar-menawar membuatnya semakin ramah bagi masyarakat kelas bawah.
Perkembangan Becak di Jakarta
Pada tahun 1950-an, becak disebut sebagai “raja” jalanan Jakarta. Jumlahnya mencapai sekitar 25.000 unit dan beroperasi hampir sepanjang hari dalam tiga shift.
Memasuki tahun 1970-an, jumlah becak di Jakarta diperkirakan mencapai 100.000 unit, dengan sekitar 200.000 orang menggantungkan hidupnya sebagai tukang becak.
Kebijakan Larangan Penggunaan Becak di Jakarta
Pada tahun 1970-an, pemerintah Jakarta mulai menerapkan kebijakan pelarangan becak untuk mengurangi kemacetan dan menata lalu lintas.
Buku Pengantar Kajian Sejarah Ekonomi Perkotaan karya Purnawan Basundoro menjelaskan bahwa kebijakan ini disertai sistem daerah bebas becak serta razia di jalan-jalan utama. Akibatnya, banyak tukang becak kehilangan mata pencaharian.
ADVERTISEMENT
Meski demikian, pada masanya, becak mampu menjawab kebutuhan mobilitas masyarakat kota yang padat dan berpenghasilan rendah. Selain berfungsi sebagai alat angkut, becak juga membentuk relasi sosial antara penarik dan penumpang. Proses tawar-menawar, percakapan singkat, hingga saling mengenal menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.
Karena itu, meski perannya menurun, becak tetap memiliki tempat penting dalam sejarah perkotaan Indonesia. Keberadaannya mengingatkan bahwa kebijakan transportasi ideal perlu mempertimbangkan aspek ekonomi, sosial, dan budaya masyarakat.
(NDA)

