Ciri-Ciri Arsitektur Candi Sewu pada Masa Mataram Kuno

Penulis yang percaya setiap kata punya kekuatan. Spesialis di bidang teknologi, personal finance, dan otomotif.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Hendro Ari Gunawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Candi Sewu adalah salah satu peninggalan Buddha terbesar di Jawa Tengah yang dibangun pada masa Kerajaan Mataram Kuno sekitar abad ke-8 Masehi. Kompleks candi ini berada tidak jauh dari Candi Prambanan dan menunjukkan tingginya kemampuan arsitektur masyarakat Jawa kuno, khususnya pada masa Dinasti Syailendra. Menurut buku Candi Sewu and Buddhist Architecture of Central Java karya Jacques Dumarçay dan Pascal Lordereau, arsitektur Candi Sewu merupakan hasil perpaduan konsep Buddha dari India dengan penyesuaian lokal menggunakan batu andesit, yang mencerminkan kecerdasan perancangnya. Artikel ini akan menguraikan ciri-ciri arsitektur Candi Sewu pada masa Mataram Kuno lebih lanjut.
Tata Letak Mandala dan Simetri Kompleks pada Candi Sewu
Ciri utama arsitektur Candi Sewu adalah tata letaknya yang mengikuti konsep mandala dalam ajaran Buddha. Mandala melambangkan alam semesta yang teratur dan harmonis. Di tengah kompleks terdapat satu candi induk yang dikelilingi ratusan candi perwara.
Balai Konservasi Borobudur mencatatkan, terdapat 249 candi perwara yang disusun simetris mengelilingi candi utama. Candi-candi tersebut dikelompokkan dalam empat arah mata angin, yaitu timur, barat, utara, dan selatan.
Jurnal BRIN berjudul Dua Tipe Ornamentasi Candi Perwara menjelaskan bahwa pola silang lima atau pancawara diterapkan pada setiap kuadran, sehingga menciptakan keseimbangan dan harmoni kosmik sesuai kepercayaan Buddha Mahayana.
Bahan Andesit dan Relief Dekoratif pada Candi Sewu
Bangunan Candi Sewu dibuat dari batu andesit vulkanik yang kuat dan tahan terhadap gempa. Batu ini juga mudah dipahat, sehingga memungkinkan pembuatan relief yang detail.
Pada bagian kaki candi, terdapat relief yang menggambarkan Bodhisattva, dewa pelindung, serta motif bunga teratai yang melambangkan kesucian dan pencerahan.
Buku Candi Sewu and Buddhist Architecture of Central Java karya Jacques Dumarçay dan Pascal Lordereau menyebutkan bahwa banyak relung pada tubuh candi yang dulunya berisi arca, namun kini sebagian besar arca tersebut telah hilang dan hanya menyisakan altar kosong.
Adapun atap candi dibuat dalam bentuk stupa bertingkat dengan susunan berundak hingga sembilan tingkat yang melambangkan tahapan menuju nirwana.
Dwarapala dan Gerbang Akses Candi Sewu
Merujuk buku Eksistensi Candi: Sebagai Karya Agung Arsitektur Indonesia di Asia Tenggara karya Dr. Rahadhian P.H., dkk., setiap pintu masuk utama Candi Sewu dijaga oleh patung Dwarapala berukuran besar dengan tinggi sekitar 2,5 meter. Patung ini digambarkan berwajah garang sebagai simbol penjaga tempat suci dari kekuatan jahat.
Pada tangga aksesnya, candi dibuat melengkung dan menghadap ke arah timur, yang melambangkan matahari terbit sebagai simbol pencerahan. Gerbang candi memiliki tiga bukaan dan dihiasi relief Kala dan Makara, yang merupakan unsur Hindu yang diadaptasi dalam konteks Buddha.
Perbandingan Candi Sewu dengan Borobudur
Candi Sewu dibangun lebih dahulu dibandingkan Candi Borobudur dan terletak dalam satu kawasan besar yang sama dengan kompleks Candi Prambanan.
Menurut jurnal Kalpataru berjudul Peran Lembaga Adat Desa, perbedaan bentuk antara stupa di Candi Borobudur dan candi-candi kecil (candi perwara) di Candi Sewu menunjukkan adanya perkembangan gaya dan teknik arsitektur Buddha di Jawa pada masa itu.
Selain itu, Prasasti Manjusrigrha yang berasal dari tahun 792 M menyebutkan bahwa Candi Sewu dahulu dikenal dengan nama Manjusrigrha, yaitu tempat ibadah untuk Bodhisattva Manjusri, sosok yang dalam ajaran Buddha melambangkan kebijaksanaan.
Baca juga: Sejarah Candi Plaosan, Saksi Bisu Peradaban Mataram Kuno di Jawa Tengah
(NDA)
