Konten dari Pengguna

Sejarah Candi Plaosan, Saksi Bisu Peradaban Mataram Kuno di Jawa Tengah

Hendro Ari Gunawan

Hendro Ari Gunawan

Penulis yang percaya setiap kata punya kekuatan. Spesialis di bidang teknologi, personal finance, dan otomotif.

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Hendro Ari Gunawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Candi Plaosan. Foto: Unsplash
zoom-in-whitePerbesar
Candi Plaosan. Foto: Unsplash

Candi Plaosan berdiri megah sebagai saksi bisu peradaban Mataram Kuno di Jawa Tengah, menawarkan kisah toleransi antaragama yang masih relevan hingga kini. Terletak di Desa Bugisan, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, komplek candi ini sempat menjadi simbol persatuan antara penganut Hindu dan Buddha pada masa lampau. Merujuk informasi dari situs resmi Dinas Pariwisata dan Olahraga Provinsi Jawa Tengah, candi ini mencerminkan loyalitas dan keharmonisan yang dibangun melalui persembahan cinta seorang raja kepada permaisurinya.​ Artikel ini akan menguraikan lebih lanjut mengenai sejarah Candi Plaosan.

Daftar isi

Asal Usul Pembangunan Candi Plaosan

Kompleks Candi Plaosan mulai dibangun sekitar tahun 842 Masehi, pada masa Kerajaan Mataram Kuno atau Medang. Raja Rakai Pikatan dari Dinasti Sanjaya, yang menganut agama Hindu, mendirikan candi ini sebagai hadiah pernikahan untuk istrinya, Pramodhawardhani atau Sri Kahulunan, seorang penganut Buddha dari Dinasti Syailendra.

Menurut data dari situs resmi Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Klaten, perbedaan keyakinan pasangan ini justru melahirkan arsitektur unik yang memadukan elemen kedua agama, menjadikan Plaosan sebagai bukti toleransi beragama di abad ke-9.​

Pembangunan ini juga terkait Prasasti Cri Kahulunan tahun 842 M, yang ditemukan di situs tersebut dan menjadi petunjuk utama sejarawan seperti J.G. de Casparis dalam menelusuri latar belakangnya.

Pembangunan bangunan suci bernama Jinamandira, yang merujuk pada candi utama Plaosan Lor sebagai wihara Buddha. Proses konstruksi melibatkan bawahan raja yang menyumbang candi perwara, seperti tercatat dalam tulisan pendek pada beberapa stupa, menunjukkan loyalitas rakyat terhadap kerajaan.​

Lokasi dan Struktur Kompleks Plaosan

Candi Plaosan terletak sekitar satu kilometer timur laut dari Candi Prambanan, dikelilingi parit buatan berukuran 440 meter kali 270 meter yang berfungsi menstabilkan tanah dasar. Kompleks ini terbagi menjadi dua kelompok utama, Plaosan Lor (Utara) dan Plaosan Kidul (Selatan), dipisahkan oleh jalan raya dan sawah.

Merujuk situs Dinas Pariwisata Jawa Tengah, Plaosan Lor memiliki dua candi induk, satu mandapa terbuka, 58 candi perwara, serta 116 stupa perwara yang mengelilingi area suci.​

Setiap candi induk Plaosan Lor berdiri di halaman pertama dengan arca Dhyani Bodhisattwa di dalamnya, sementara relief dinding menggambarkan kisah Buddha bercampur motif Hindu seperti trisula Siwa.

Plaosan Kidul menampilkan arca Hindu berdampingan stupa Buddha, menciptakan harmoni visual yang mencolok. Parit tersebut juga menyimpan ribuan fragmen gerabah dan keramik asing, kemungkinan digunakan dalam ritual air suci yang melambangkan samudera mengelilingi gunung para dewa.​

Makna Filosofis Relief Candi Plaosan

Relief pada dinding candi Plaosan bukan sekadar hiasan, melainkan cerita filosofis tentang kehidupan sehari-hari dan ajaran agama. Bodhisattwa duduk bermeditasi bersebelahan dengan simbol Hindu, menggambarkan penyatuan paham beragama dalam satu bangunan.

Buku Candi karya Teguh Purwantari menjelaskan bahwa relief pada dinding candi Plaosan menyiratkan pesan toleransi Jawa kuno, di mana perbedaan agama justru memperkaya keindahan estetis situs.​

Sementara itu, pada candi perwaranya, terdapat patung Dwarapala sebagai penjaga pintu, sementara stupa-stupa kecil melambangkan pemujaan Buddha. Elemen-elemen ini menunjukkan pengaruh arsitektur Borobudur dan Prambanan yang disesuaikan dengan konteks lokal.

Upaya Pelestarian Candi Plaosan

Pemerintah telah melakukan pemugaran berkelanjutan sejak era kolonial, termasuk restorasi candi induk utara dan perwara pada 1990-an menggunakan teknologi modern.

Baru-baru ini, Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah X juga telah menyelesaikan pemugaran Candi Perwara Deret II No.19 pada 2025 dengan dana APBN sebesar Rp1,475 miliar.

Merujuk situs Badan Otorita Borobudur, upaya ini meliputi pengembangan lanskap dengan konsep "Harmony in Diversity" untuk fasilitas wisata seperti parkir dan jalur akses.​

Festival Candi Kembar tahunan juga digelar untuk memperingati sejarah Plaosan, lengkap dengan tarian meditatif yang menghidupkan relief kuno.

Langkah-langkah ini tidak hanya menjaga struktur fisik, tapi juga nilai spiritual dan budaya sebagai warisan Nusantara. Pengembangan kawasan terus berlanjut guna menarik wisatawan domestik maupun mancanegara, sambil mempertahankan zona inti pelestarian cagar budaya.​

Baca juga: Sejarah Candi Gedong Songo: Warisan Kerajaan Mataram Kuno

(NDA)