Sejarah Candi Gedong Songo: Warisan Kerajaan Mataram Kuno

Penulis yang percaya setiap kata punya kekuatan. Spesialis di bidang teknologi, personal finance, dan otomotif.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Hendro Ari Gunawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Candi Gedong Songo berdiri megah di lereng Gunung Ungaran, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, sebagai saksi bisu peradaban Hindu abad ke-8. Kompleks ini terdiri dari sembilan candi yang tersebar di ketinggian sekitar 1.200 meter di atas permukaan laut, menawarkan pemandangan alam sekaligus nilai sejarah mendalam. Untuk mengetahui sejarah candi Gedong Songo, simak uraian ini hingga tuntas.
Daftar isi
Daftar isi

Daftar isi
Asal Usul Sejarah Candi Gedong Songo
Kompleks Candi Gedong Songo dibangun pada masa Dinasti Sanjaya dari Kerajaan Mataram Kuno, sekitar abad ke-7 hingga ke-9 Masehi. Menurut buku Hasil Pemugaran dan Temuan Benda Cagar Budaya PJP I Oleh I.G.N. Anom, dkk, candi-candi ini awalnya ditemukan dalam kondisi rusak, dengan hanya tujuh bangunan utama yang teridentifikasi pada awal penemuan. Lokasi di dataran tinggi vulkanik ini dipilih karena dianggap suci, mencerminkan keyakinan Hindu saat itu terhadap kekuatan alam.
Adapun Penamaan "Gedong Songo" berasal dari bahasa Jawa yang berarti "sembilan gedung", setelah dua candi tambahan ditemukan pada 1908-1911 oleh arkeolog Belanda Van Stein Callenfels.
Teguh Purwantari menjelaskan dalam buku Candi, corak Siwaistik terlihat jelas dari adanya lingga-yoni di dalam beberapa candi, menegaskan fungsinya sebagai tempat pemujaan Dewa Siwa. Penemuan awal oleh Thomas Stamford Raffles pada 1804 menjadi titik tolak dokumentasi modern situs ini.
Proses Pemugaran Candi Gedong Songo
Pemugaran pertama dilakukan oleh pemerintah kolonial Belanda pada 1928-1931, fokus pada Candi Gedong I dan II dengan mengganti batu andesit yang hilang.
I.G.N. Anom, dkk dalam buku Hasil Pemugaran dan Temuan Benda Cagar Budaya PJP I merinci temuan benda cagar seperti arca Ganesha dan Durga Mahisasuramardini selama proses ini, yang kini disimpan di museum. Upaya ini bertujuan mengembalikan bentuk asli tanpa mengubah struktur dasar.
Tahap kedua pada 1978-1983 dipimpin Proyek Pemugaran Jawa Tengah, menangani Candi Gedong III, IV, dan V. Pemugaran ini memberikan fondasi tambahan dan relief bunga khas gaya Jawa Tengah Kuno, serta kotak peripih berisi lingga-yoni di Candi Gedong IV tahun 2009. Kini, situs ini dikelola Balai Pelestarian Cagar Budaya untuk menjaga keasliannya bagi generasi mendatang.
Struktur dan Makna Candi Gedong Songo
Setiap candi umumnya memiliki tiga bagian utama, yakni bagian kaki atau batur, bagian tubuh yang biasanya dipenuhi ukiran atau relief, serta bagian atap yang berbentuk meru bertingkat sebagai simbol menuju nirwana.
Dalam buku Hasil Pemugaran dan Temuan Benda Cagar Budaya PJP I dijelaskan bahwa Candi Gedong I memiliki bentuk persegi panjang dengan tinggi sekitar 4–5 meter. Sementara itu, Gedong III terdiri dari candi utama dan bangunan pendamping (perwara) yang di dalamnya ditemukan arca Siwa. Informasi ini menunjukkan bagaimana arsitektur Hindu di Nusantara sudah berkembang cukup maju pada masanya.
Keseluruhan kompleks candinya tersebar dalam lima kelompok dan dihubungkan oleh jalur setapak alami yang memberikan suasana tenang dan spiritual. Buku Candi juga mencatat adanya keunikan penamaan, misalnya Candi V yang disebut sebagai “Gedong Cina,” kemungkinan berasal dari cerita rakyat setempat, meskipun bentuk dasar bangunannya mirip dengan candi lainnya.
Kini, para pengunjung bisa menyusuri kompleks bersejarah ini sambil menikmati udara pegunungan yang sejuk dan pemandangan alam yang menenangkan.
Baca juga: Sejarah Penemuan Candi Muaro Jambi di Sumatera
(NDA)
