Bagaimana Peran HOS Tjokroaminoto dalam Sarekat Islam?

Penulis yang percaya setiap kata punya kekuatan. Spesialis di bidang teknologi, personal finance, dan otomotif.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Hendro Ari Gunawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Peran HOS Tjokroaminoto dalam Sarekat Islam (SI) sungguh luar biasa, ia mampu mengubah organisasi kecil para pedagang menjadi gerakan rakyat berskala nasional di masa penjajahan Belanda. Mengutip buku Sejarah Pergerakan Nasional karya Wahyu Iryana, HOS Tjokroaminoto lahir di Ponorogo tahun 1882 dan mulai aktif di Sarekat Islam sejak 1912 sebagai ketua cabang Surabaya. Dua tahun kemudian, pada 1914, ia terpilih sebagai ketua pusat Sarekat Islam. Untuk mengetahui bagaimana Peran HOS Tjokroaminoto dalam Sarekat Islam (SI) lebih lanjut, simak terus uraian ini.
Daftar isi
Daftar isi

Daftar isi
Transformasi SI Jadi Organisasi Massa
Pada tahun 1912, menurut buku Sejarah Pergerakan Nasional karya Wahyu Iryana, HOS Tjokroaminoto mengubah organisasi pedagang bernama Sarekat Dagang Islam menjadi Sarekat Islam. Selain itu, ia juga mengubah tujuan organisasi agar bisa diikuti oleh masyarakat luas, baik pedagang, petani, buruh, maupun rakyat kecil lainnya.
Dalam Buku HOS Tjokroaminoto yang diterbitkan Repositori Kemdikbud dijelaskan bahwa Tjokroaminoto bersama Haji Samanhudi melakukan penataan ulang organisasi, membentuk cabang-cabang SI di berbagai kota. Hasilnya, pada tahun 1915, Sarekat Islam memiliki sekitar 360 cabang dengan jumlah anggota mencapai jutaan orang.
Buku Pendidikan Pancasila, Kewarganegaraan dan Anti Korupsi Nilai, Integritas dan Civic Engagement di Era Digital karya Dr. Wahyudi Adiprasetyo, dkk, juga mengungkapkan bahwa pidato-pidato yang disampaikan Tjokroaminoto sangatlah berpengaruh, terutama saat Kongres SI di Bandung tahun 1916.
Dalam pidatonya itu, ia mengajak umat Islam bersatu untuk melawan ketidakadilan dan monopoli ekonomi yang dilakukan pemerintah kolonial Belanda.
Strategi Politik Tjokroaminoto di SI
HOS Tjokroaminoto memperkenalkan gagasan yang dikenal sebagai “Islam Bergerak”, yaitu ajaran Islam yang tidak hanya fokus pada ibadah, tetapi juga aktif membela keadilan sosial dan ekonomi umat. Ia percaya bahwa Islam harus hadir dalam kehidupan nyata rakyat yang tertindas.
Jurnal Garuda Kemdikbud berjudul Fragmentation and Conflict among Islamic Political Parties mencatat bahwa Tjokroaminoto mendirikan NV Setia sebagai usaha ekonomi untuk membantu anggota SI. Selain itu, ia juga menerbitkan surat kabar Oetoesan Hindia yang secara terbuka mengkritik kebijakan kolonial Belanda.
Dalam buku Kiprah Politik Soekarno karya Yonita Yulia Yalinda, disebutkan bahwa pidato-pidato Tjokroaminoto mendorong Sarekat Islam untuk terlibat langsung dalam politik, termasuk masuk ke Volksraad pada tahun 1919 sebagai perwakilan bumiputera pertama.
Pembinaan Tokoh Muda Sarekat Islam
Selain sebagai pemimpin organisasi, HOS Tjokroaminoto juga dikenal sebagai guru bagi banyak tokoh besar Indonesia. Rumahnya di Surabaya sering disebut sebagai “asrama politik” karena menjadi tempat tinggal dan belajar tokoh-tokoh muda seperti Soekarno, Alimin, Semaoen, dan Sartono.
Jurnal The War of Islamic Literacy from Millenialism to Radicalism yang diterbitkan Garuda Kemdikbud menjelaskan bahwa Tjokroaminoto mengajarkan perpaduan nilai Islam, nasionalisme, dan keadilan sosial kepada para muridnya. Pemikiran inilah yang kemudian memengaruhi arah pergerakan nasional Indonesia.
Dalam jurnal Indonesian Islamism karya E. Tambunan juga ditegaskan, peran Tjokroaminoto dalam mendidik generasi muda melahirkan pemimpin-pemimpin penting yang memimpin perjuangan kemerdekaan Indonesia setelah tahun 1920-an.
Konflik Internal dan Warisan Tjokroaminoto
Pada tahun 1921, Sarekat Islam mengalami perpecahan internal akibat perbedaan pandangan ideologi. Organisasi ini terbagi menjadi SI-Putih yang tetap berpegang pada ajaran Islam dan SI-Merah yang cenderung pada paham sosialisme dan komunisme.
Dikutip dari buku Sejarah Pergerakan Nasional karya Wahyu Iryana, Tjokroaminoto memilih bergabung dengan SI-Putih demi menjaga identitas Islam dalam perjuangan, meskipun ia tetap berusaha berdialog dengan kelompok kiri agar konflik tidak semakin tajam.
Jurnal The Nahdlatul Ulama: Its Early History dalam Garuda Kemdikbud menyebutkan, sikap moderat Tjokroaminoto dalam menghadapi perbedaan menjadi dasar berkembangnya politik Islam yang damai dan seimbang di Indonesia. Warisan pemikirannya masih terasa hingga kini dalam sejarah pergerakan nasional dan politik Islam Indonesia.
Baca juga: Peran Perlawanan Pattimura dalam Sejarah Maluku yang Heroik
(NDA)
