Bagaimana Runtuhnya Kerajaan Pajajaran Dijelaskan dalam Naskah Kuno Sunda?

Penulis yang percaya setiap kata punya kekuatan. Spesialis di bidang teknologi, personal finance, dan otomotif.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Hendro Ari Gunawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kerajaan Pajajaran merupakan kerajaan besar Sunda yang berpusat di Pakuan (kini wilayah Bogor). Kerajaan ini pernah mencapai masa kejayaan pada pemerintahan Sri Baduga Maharaja. Namun, kejayaan tersebut tidak berlangsung lama karena pada tahun 1579 M Kerajaan Pajajaran akhirnya runtuh. Kisah runtuhnya kerajaan ini banyak dijelaskan dalam naskah-naskah kuno Sunda, salah satunya Carita Parahyangan, yang menjadi sumber penting dalam memahami sejarah Pajajaran. Artikel ini akan menguraikan lebih lanjut bagaimana runtuhnya Kerajaan Pajajaran dijelaskan dalam naskah kuno Sunda.
Daftar isi
Daftar isi

Daftar isi
Runtuhnya Pajajaran dalam Naskah Carita Parahyangan
Keruntuhan Kerajaan Pajajaran banyak diketahui melalui naskah kuno Carita Parahyangan. Menurut jurnal Raja-Raja Sunda Periode Kerajaan Pajajaran Berdasarkan Tradisi Tulis Sunda Kuno karya Undang Ahmad Darsa dan tim, Carita Parahyangan adalah naskah berbahasa Sunda Kuno yang sering disebut sebagai ringkasan sejarah Sunda. Isinya mencatat perjalanan kerajaan sejak masa Galuh pada abad ke-8 hingga runtuhnya Pajajaran pada abad ke-16.
Naskah Carita Parahyangan sendiri saat ini tersimpan dalam Kropak 406 Perpustakaan Nasional Republik Indonesia di Jakarta. Di dalamnya dijelaskan bahwa masa akhir Pajajaran dipimpin oleh enam raja secara berurutan, yaitu Sri Baduga Maharaja, Prabu Surawisesa, Prabu Ratudewata, Sang Prabhusakti, Prabu Nilakendra, dan Prabu Ragamulya. Keenam raja inilah yang memegang peran penting menjelang runtuhnya kerajaan.
Selain membahas politik dan kekuasaan, Carita Parahyangan juga mencatat perubahan kepercayaan masyarakat Pajajaran. Hal ini sejalan dengan jurnal Gambaran Religi Masyarakat Pakwan Pajajaran Berdasarkan Tinggalan Arkeologis karya Endang Widyastuti dan Nanang Saptono, yang menyebut bahwa menjelang kehancuran, masyarakat Pajajaran mengalami pergeseran religi.
Kepercayaan Hindu-Buddha yang sebelumnya dominan mulai bercampur dengan pemujaan terhadap leluhur, menandakan perubahan besar dalam kehidupan spiritual masyarakat saat itu.
Peran Raja-Raja Pajajaran Menjelang Keruntuhan
Setelah wafatnya Sri Baduga Maharaja, yang dikenal sebagai raja bijaksana dan toleran terhadap Islam, kondisi kerajaan mulai memburuk.
Menurut catatan dalam Carita Parahyangan, penggantinya seperti Prabu Ratudewata justru menimbulkan kekacauan. Ia disebut melakukan perampokan terhadap pesantren dan melanggar nilai etika Sunda, sehingga menimbulkan keresahan di kalangan rakyat.
Situasi semakin parah pada masa Prabu Nilakendra. Naskah kuno menggambarkan raja ini hidup dalam kemewahan berlebihan dan sibuk memuja bendera keramat, sementara rakyatnya menderita kelaparan. Keadaan ini dianggap sebagai tanda masuknya masa kaliyuga, yaitu zaman kehancuran dan kemerosotan moral.
Raja terakhir Pajajaran, Prabu Ragamulya, berada dalam posisi yang sangat lemah. Ia terpaksa mengungsi ke daerah Pulasari tanpa membawa mahkota kerajaan Binokasih, simbol kekuasaan Pajajaran.
Berdasarkan catatan sejarah, ia hanya mampu bertahan sementara dari serangan Kesultanan Banten, hingga akhirnya Pajajaran benar-benar runtuh pada 8 Mei 1579 M.
Faktor Internal dan Eksternal Penyebab Runtuhnya Pajajaran
Berdasarkan Carita Parahyangan, keruntuhan Pajajaran tidak hanya disebabkan oleh serangan dari luar, tetapi juga oleh masalah dari dalam kerajaan.
Konflik antarwilayah, pemberontakan, serta kemerosotan moral para raja menjadi faktor internal yang melemahkan kerajaan. Tekanan dari kekuatan Islam, terutama dari Cirebon dan Banten, semakin mempercepat kehancuran, terutama setelah singgasana Watugilang berhasil direbut.
Rizem Aizid dalam bukunya yang bertajuk Pasang Surut Runtuhnya Kerajaan Hindu-Buddha menyebut bahwa runtuhnya Pajajaran juga dipicu oleh pengkhianatan orang dalam yang membuka jalan masuk ke benteng kuat Pakuan.
Sementara itu, buku Ramu Resep Pariwisata Berkelanjutan terbitan Prasetiya Mulya Publishing menjelaskan bahwa setelah runtuhnya Pajajaran, sebagian tradisi Sunda Wiwitan tetap bertahan melalui komunitas adat seperti Kanekes (Baduy).
Sebagai perbandingan sejarah, Prasasti Batutulis (1533 M) secara jelas menggambarkan perbedaan antara masa keemasan di bawah Sri Baduga Maharaja dengan kondisi kacau pada masa-masa akhir Pajajaran. Prasasti ini menjadi bukti kuat bahwa runtuhnya Pajajaran merupakan hasil dari kemerosotan internal yang diperparah oleh tekanan eksternal.
Baca juga: Ciri-Ciri Peninggalan Kerajaan Kediri Berdasarkan Prasasti
(NDA)
