Konten dari Pengguna

Ciri-Ciri Peninggalan Kerajaan Kediri Berdasarkan Prasasti

Hendro Ari Gunawan

Hendro Ari Gunawan

Penulis yang percaya setiap kata punya kekuatan. Spesialis di bidang teknologi, personal finance, dan otomotif.

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Hendro Ari Gunawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi prasasti peninggalan Kerajaan Kediri. Foto: Unsplash
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi prasasti peninggalan Kerajaan Kediri. Foto: Unsplash

Ciri-ciri peninggalan Kerajaan Kediri tidak hanya tampak pada candi atau relief, tetapi justru paling jelas terbaca melalui prasasti-prasasti yang dikeluarkan para rajanya. Dari batu-batu bertulis inilah sejarawan mengetahui bagaimana Kediri menyebut dirinya, bagaimana raja mengelola wilayah, dan bagaimana kerajaan ini mengabadikan kemenangan serta konflik politiknya. Menurut buku Sejarah karya Nana Supriatna, prasasti-prasasti masa Kediri memiliki pola bahasa, lambang, dan isi yang khas sehingga dapat dibedakan dari periode lain di Jawa. Artikel ini akan menguraikan lebih lanjut mengenai ciri-ciri peninggalan Kerajaan Kediri berdasarkan prasasti yang dibuatnya.​

Daftar isi

Penyebutan Nama Panjalu dan Kediri dalam Prasasti

Prasasti-prasasti peninggalan Kerajaan Kediri memiliki ciri penting, yaitu menyebut nama Panjalu dan Kediri (Kadiri) secara jelas. Menurut kajian The Talan Charter of Jayabhaya: A Kadiri-period Inscription yang dimuat dalam jurnal Archipel, Prasasti Talan atau Munggut bertahun 1058 Saka (1136 M) mencantumkan Raja Jayabhaya sebagai penguasa Panjalu.

Dalam prasasti yang sama juga terdapat petunjuk wilayah kekuasaan yang dikaitkan dengan Kadiri. Dari sini, para sejarawan menyimpulkan bahwa Panjalu adalah nama kerajaan secara politik, sedangkan Kediri merujuk pada wilayah pusat pemerintahannya.

Pandangan ini diperkuat oleh kajian Repositori Kemendikbud dalam naskah “Seksi Sejarah Kuno” yang membahas prasasti-prasasti seperti Kamulan dan Harinjing. Prasasti-prasasti tersebut menunjukkan berkembangnya pusat kekuasaan di daerah yang kemudian dikenal sebagai Kediri.

Gabungan nama Panjalu, Daha, dan Kadiri menjadi petunjuk penting untuk memahami pergeseran pusat kerajaan di Jawa Timur pada abad XI–XII.

Lambang Kerajaan dan Bentuk Prasasti

Ciri lain yang mudah dikenali dari prasasti Kediri adalah adanya lambang kerajaan (lencanā) di bagian atas prasasti. Berdasarkan buku Explore Sejarah Indonesia Jilid 1 untuk SMA/MA Kelas X karya Dr. Abdurakhman dan Arif Pradono, M.I.Kom, Prasasti Talan memiliki cap Garudamukhalancana, yaitu figur manusia berkepala garuda bersayap. Lambang ini menegaskan hubungan Kerajaan Kediri dengan tradisi Hindu serta berfungsi sebagai tanda resmi piagam kerajaan.

Secara fisik, prasasti Kediri umumnya dibuat dari batu andesit dan ditulis menggunakan aksara Jawa Kuno. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mencatat bahwa prasasti dari masa Kediri memiliki tata letak tulisan yang rapi dan mencantumkan angka tahun Saka dengan jelas. Keseragaman ini membantu para ahli epigrafi mengelompokkan prasasti tersebut sebagai dokumen resmi kerajaan.

Isi Prasasti tentang Desa, Pajak, dan Politik

Sebagian besar prasasti Kediri berisi piagam anugerah desa (sīmā), yaitu penetapan desa bebas pajak. Studi The Talan Charter of Jayabhaya: A Kadiri-period Inscription Casting New Light on Airlangga’s Kingdom oleh E. Bastiawan, dkk di Archipel menjelaskan bahwa Prasasti Talan mengatur hak dan kewajiban masyarakat, termasuk batas wilayah dan pembebasan pajak. Ini menunjukkan bahwa Kerajaan Kediri memiliki sistem administrasi yang tertata.

Selain itu, prasasti juga digunakan untuk mencatat kemenangan politik. Dalam buku Sejarah Ringkas Kerajaan Kediri: Sejarah Peradaban Leluhur Nusantara oleh Yanuar Arifin dijelaskan, Prasasti Hantang atau Ngantang memuat semboyan “Panjalu Jayati” yang berarti “Panjalu menang”. Semboyan ini menandai kemenangan Kediri atas Jenggala dan berfungsi sebagai sarana penegasan kekuasaan raja.

Bahasa dan Gelar Raja dalam Prasasti Kediri

Dari sisi bahasa, prasasti Kediri menggunakan bahasa Jawa Kuno yang kadang dipadukan dengan istilah Sanskerta. Jurnal The earliest documents in Old Javanese yang tersimpan di UI Scholars Hub menyebutkan bahwa prasasti Kediri sering diawali dengan bagian pujian kepada dewa dan raja.

Gelar raja yang panjang, seperti Śrī Mahārāja Jayabhaya, juga menjadi ciri khas. Gelar-gelar ini bertujuan menampilkan raja sebagai pelindung rakyat dan penjaga tatanan dunia.

Baca juga: Mengapa Prasasti Canggal Dianggap Penting bagi Sejarah Mataram? Ini Alasannya

(NDA)