Mengapa Prasasti Canggal Dianggap Penting bagi Sejarah Mataram? Ini Alasannya

Penulis yang percaya setiap kata punya kekuatan. Spesialis di bidang teknologi, personal finance, dan otomotif.
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Hendro Ari Gunawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Mengapa Prasasti Canggal dianggap penting bagi sejarah Mataram? Pertanyaan ini membawa kita pada sebuah batu bertulis yang menjadi “pintu masuk” memahami kelahiran Kerajaan Mataram Kuno. Prasasti yang ditemukan di kompleks Candi Gunung Wukir, Magelang, ini bukan sekadar peninggalan arkeologi, tetapi juga catatan resmi tentang siapa penguasa pertama, bagaimana situasi politik, dan seperti apa gambaran tanah Jawa pada abad ke‑8. Dari sinilah para sejarawan menyusun kerangka awal sejarah Medang/Mataram di Jawa Tengah. Untuk mengetahui jawaban lengkap mengenai alasan pentingnya Prasasti Canggal bagi Mataram, simak terus uraian ini.
Daftar isi
Daftar isi

Daftar isi
Prasasti Canggal sebagai Sumber Tertua tentang Mataram
Prasasti Canggal dianggap sangat penting karena usianya yang sangat tua. Berdasarkan situs sejarah Facts & Details, prasasti ini bertahun 732 Masehi dan ditulis menggunakan aksara Pallawa dalam bahasa Sanskerta. Hal ini menjadikannya salah satu bukti tertulis paling awal tentang keberadaan Kerajaan Mataram Kuno.
Prasasti tersebut ditemukan di kawasan Candi Gunung Wukir di Dusun Canggal, Magelang, yang sekaligus menunjukkan bahwa wilayah ini kemungkinan merupakan pusat awal kekuasaan Mataram.
Prasasti Canggal sendiri adalah catatan tertulis pertama yang secara jelas menyebut nama Mataram (Medang Bhumi Mataram). Di dalamnya juga disebutkan nama Raja Sanjaya, tokoh penting yang dianggap sebagai pendiri wangsa Sanjaya.
Karena itulah, prasasti ini sering dijadikan titik awal penulisan sejarah Mataram Kuno sebelum kerajaan tersebut berkembang dan membangun candi-candi besar seperti Prambanan.
Bukti Resmi Kekuasaan Raja Sanjaya
Selain sebagai sumber sejarah awal, Prasasti Canggal juga berfungsi sebagai bukti resmi kekuasaan Raja Sanjaya. Dalam artikel kajian epigrafi karya Anton O. Zakharov berjudul The Inscription from Canggal Dated from 732 C.E. and Some Remarks on Early Javanese History dijelaskan bahwa prasasti ini menceritakan keadaan Jawa setelah masa kekacauan.
Raja sebelumnya bernama Sanna digambarkan sebagai penguasa bijak, namun setelah pemerintahannya runtuh, keponakannya Sanjaya tampil sebagai pemimpin baru yang berhasil menaklukkan musuh dan menyatukan kembali wilayah Jawa.
Zakharov menegaskan bahwa isi Prasasti Canggal bukan hanya bersifat keagamaan, tetapi juga merupakan pernyataan politik. Sanjaya ditampilkan sebagai raja kuat yang membawa ketertiban dan kemakmuran. Dengan demikian, prasasti ini dapat dipahami sebagai tanda lahirnya dinasti Sanjaya di Mataram Kuno.
Gambaran Kondisi Jawa dan Kepercayaan pada Abad ke‑8
Prasasti ini juga memberikan gambaran tentang kondisi Jawa pada abad ke-8. Menurut analisis Facts & Details, Jawa digambarkan sebagai pulau yang subur, kaya akan hasil padi dan emas. Gambaran ini membantu sejarawan memahami mengapa wilayah Jawa Tengah menjadi lokasi yang ideal bagi berkembangnya kerajaan besar berbasis pertanian.
Selain itu, prasasti menyebut pendirian lingga, simbol Dewa Siwa, atas perintah Sanjaya. Hal ini menunjukkan bahwa Mataram awal menganut ajaran Hindu Siwa dan memandang gunung sebagai tempat suci. Informasi ini sejalan dengan temuan arkeologis di Gunung Wukir yang menunjukkan adanya bangunan candi Hindu, sehingga menguatkan hubungan antara data tertulis dan bukti fisik.
Peran Prasasti Canggal dalam Rekonstruksi Sejarah Mataram
Dalam berbagai kajian epigrafi bertajuk Prasasti Canggal karya Taofik Nurdiansah, Prasasti Canggal disebut sebagai peninggalan paling penting karena memuat informasi tentang raja, kekuasaan, agama, dan kondisi negeri sekaligus.
Prasasti ini bahkan juga digadang sebagai awal resmi sejarah Mataram Kuno. Tanpa Prasasti Canggal, pemahaman tentang asal-usul dan perkembangan awal Kerajaan Mataram Kuno akan jauh lebih sulit disusun.
Nilai Ilmiah dan Pelestarian Prasasti Canggal
Dalam kajian The Inscription from Canggal Dated from 732 C.E. and Some Remarks on Early Javanese History karangan Anton Zakharov dijelaskan bahwa prasasti ini pertama kali dipublikasikan di kalangan ilmiah Eropa pada akhir abad ke‑19 dan kemudian dikaji ulang oleh sejumlah ahli seperti Kern, Chatterji, Sarkar, hingga Zakharov.
Setiap studi baru memberikan pembacaan yang lebih akurat dan mengoreksi terjemahan sebelumnya, menandakan bahwa Canggal merupakan objek penelitian yang terus hidup dalam studi sejarah Jawa awal.
Kini, batu prasasti aslinya disimpan di Museum Nasional Indonesia di Jakarta, sementara lokasi penemuannya di Candi Gunung Wukir dilindungi sebagai situs cagar budaya.
Melalui upaya pelestarian ini, Canggal tidak hanya berfungsi sebagai sumber akademik, tetapi juga sebagai media edukasi publik untuk memahami mengapa sebuah batu bertulis berangka tahun 732 itu sangat menentukan dalam menyingkap asal‑usul dan perkembangan awal Kerajaan Mataram Kuno.
Baca juga: Sejarah Candi Gedong Songo: Warisan Kerajaan Mataram Kuno
(NDA)
