Konten dari Pengguna

Bagaimana Tradisi Megibung Berkembang di Bali? Ini Kisahnya

Hendro Ari Gunawan

Hendro Ari Gunawan

Penulis yang percaya setiap kata punya kekuatan. Spesialis di bidang teknologi, personal finance, dan otomotif.

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Hendro Ari Gunawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Bali. Foto: Unsplash
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Bali. Foto: Unsplash

Tradisi megibung di Bali berasal dari perpaduan adat Hindu dan nilai sosial masyarakat yang menekankan kebersamaan. Mengutip buku Adat Istiadat Masyarakat Balik karya Dewi Mashita, megibung pertama kali diperkenalkan oleh Raja I Gusti Agung Anglurah Ketut Karangasem pada tahun 1692 M. Awalnya, tradisi ini digunakan untuk menghitung jumlah pasukan dalam perang Lombok, lalu berkembang menjadi bagian penting dari upacara adat yadnya. Untuk mengetahui bagaimana tradisi megibung berkembang di Bali lebih lanjut, simak terus uraian ini.

Daftar isi

Asal Usul Megibung di Karangasem

Secara istilah, megibung berasal dari kata “gibung” yang berarti mencampur atau mengaduk (makanan) bersama. Tradisi ini lahir pada masa Kerajaan Karangasem, terutama saat persiapan perang Lombok.

Pemerintah Kabupaten Karangasem menyebutkan bahwa Raja Anglurah Ketut menciptakan megibung sebagai cara praktis untuk mengetahui jumlah prajurit dan korban.

Seiring waktu, kebiasaan ini tidak hanya digunakan dalam konteks perang. Megibung kemudian menjadi bagian wajib dalam berbagai upacara besar, seperti pernikahan, odalan pura, upacara ngaben, hingga tiga bulanan. Tradisi ini menjadi simbol kerja sama dan kebersamaan dalam desa pakraman.

Prosesi Tradisi Megibung di Bali

Pelaksanaan megibung diawali dengan musyawarah untuk menentukan jumlah peserta dalam satu kelompok atau sela, biasanya delapan orang. Makanan dimasak di dapur banjar oleh warga secara bersama-sama.

Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Karangasem menjelaskan bahwa nasi ditata di atas alas aledan, lalu lauk seperti lawar dan sate diletakkan di sekelilingnya. Sebelum makan, dilakukan mesambeh sebagai persembahan kepada Dewata.

Dalam buku Budaya Makan Dalam Perspektif Kesehatan karya Toto Sudargo, dkk juga dijelaskan bahwa laki-laki duduk bersila, perempuan duduk simpuh, dan semua makan dengan tangan kanan.

Adapun saat makan, tangan kiri diletakkan di pinggang sebagai tanda sikap hormat, dan para pengayah bertugas memastikan jalannya Megibung tetap tertib dan sesuai aturan. Setelah selesai, peserta tidak boleh langsung pergi sebelum mendapat izin tuan rumah.

Makna Filosofis Tradisi Megibung

Tradisi Megibung mengajarkan banyak nilai kehidupan yang masih relevan hingga kini. Berikut beberapa makna filosofi tradisi megibung menurut Jurnal Undiksha berjudul Tradisi Megibung pada Budaya Hindu karya I N B Permana:

  • Nilai religius terlihat dari arah mesambeh atau posisi menghadap saat makan;

  • Nilai sosial tampak dari kebersamaan saat duduk dan makan dalam satu sela;

  • Nilai budaya tercermin dari aturan sopan santun ketika duduk dan menyantap makanan.

Perkembangan Megibung Lintas Agama

Megibung juga berkembang lintas agama, salah satunya di komunitas Muslim Kepaon, Denpasar. Jurnal Gulawentah: Tradisi Mengibung Sinkretisme Agama yang diterbitkan Kemendikbud menjelaskan bahwa umat Islam Bali mengadopsi megibung dalam acara keagamaan, dengan menyesuaikan menu menjadi halal seperti gulai kambing.

Pada tahun 2006, Pengadilan Agama Karangasem juga pernah menggelar megibung massal di Taman Ujung dengan 20.520 peserta untuk HUT RI, mencetak rekor kebersamaan. Hingga kini, festival megibung di berbagai daerah Bali terus digelar sebagai simbol persatuan antarwarga.

Baca juga: Bagaimana Kota Malang Dibangun pada Era Kolonial Belanda?

(NDA)