Cacing Berkembang Biak dengan Cara Apa? Ini Tahapan Reproduksinya

Penulis yang percaya setiap kata punya kekuatan. Spesialis di bidang teknologi, personal finance, dan otomotif.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Hendro Ari Gunawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Secara umum, cacing berkembang biak secara generatif atau seksual. Proses ini melibatkan pertukaran sperma, pembentukan kokon, hingga akhirnya menetas menjadi cacing muda. Namun, ada juga beberapa spesies cacing yang dapat berkembang biak secara vegetatif. Untuk memahami proses reproduksi cacing, berikut penjelasan lebih lengkap mengenai cara perkembangbiakannya.
1. Perkembangbiakan Cacing secara Vegetatif
Perkembangbiakan vegetatif terjadi tanpa melalui proses perkawinan. Salah satu contoh cacing yang berkembang biak secara vegetatif adalah planaria, sejenis cacing pipih. Planaria bereproduksi dengan cara fragmentasi, yaitu memutuskan bagian tubuhnya, lalu setiap potongan tubuh tersebut dapat tumbuh kembali menjadi individu baru.
2. Perkembangbiakan Cacing secara Generatif
Perkembangbiakan generatif disebut juga perkembangbiakan seksual. Cara ini menghasilkan individu baru melalui proses pembuahan. Mengutip laman A-Z Animals, cacing tergolong hewan hermafrodit, yang berarti satu individu memiliki organ kelamin jantan dan betina sekaligus. Contohnya adalah cacing tanah, yang mampu menghasilkan sperma dan sel telur dalam tubuhnya.
3. Proses Perkembangbiakan Cacing
Meski termasuk hewan hermafrodit, cacing tidak bisa melakukan perkawinan sendiri. Cacing harus bertukar sperma dengan cacing lain agar terbentuk keturunan baru. Dalam laman University of Illinois Extention dijelaskan proses berlangsunya perkembangbiakan cacing, antara lain sebagai berikut:
Kedua cacing menempelkan tubuh pada bagian klitelum, alat reproduksi jantan dan betina yang terlihat seperti pita berwarna lebih terang di dekat kepala.
Setelah perkawinan selesai, klitelum menghasilkan lendir tebal yang melindungi sperma.
Sperma yang masuk akan membuahi sel telur di dalam tubuh cacing.
Hasil pembuahan kemudian dibungkus dalam kokon (kantung telur) yang berbentuk lonjong berwarna hijau kekuningan, lalu berubah kemerahan menjelang menetas.
Kokon dikeluarkan melalui mulut cacing dengan gerakan peristaltik, sering kali disertai gerakan ekor cacing yang melilit atau melingkar di permukaan.
Dalam 2–3 minggu, kokon akan menetas menjadi beberapa cacing muda. Jika kondisi lingkungan kurang mendukung, kokon bisa tetap dorman dalam waktu yang lama hingga situasi kembali ideal.
4. Faktor-faktor yang Memengaruhi Reproduksi Cacing
Menurut laman Meme's Worms, proses reproduksi cacing, terutama pembentukan kokon dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain:
Ketersediaan makanan: semakin banyak bahan organik, semakin besar peluang terbentuknya kokon.
Suhu lingkungan: idealnya berada pada kisaran 15 hingga 27 derahat Celcius. Suhu yang terlalu tinggi dapat menurunkan aktivitas cacing, termasuk dalam bereproduksi.
Kelembapan: cacing membutuhkan kelembapan lingkungan untuk menjaga berat badan dan kadar air dalam tubuhnya.
pH tanah: pH yang terlalu rendah dapat menurunkan populasi cacing.
Iklim lingkungan: pada kondisi iklim yang sesuai, cacing mampu menghasilkan kokon sepanjang tahun.
Baca Juga: Bunglon Berkembang Biak dengan Cara Apa? Ini Penjelasannya
(SA)
