Konten dari Pengguna

Cara Kerja Biopori dalam Menyerap Air Hujan dan Manfaatnya bagi Lingkungan

Hendro Ari Gunawan

Hendro Ari Gunawan

Penulis yang percaya setiap kata punya kekuatan. Spesialis di bidang teknologi, personal finance, dan otomotif.

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Hendro Ari Gunawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi air hujan. Foot: Unsplash
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi air hujan. Foot: Unsplash

Biopori adalah lubang silindris vertikal yang dibuat ke dalam tanah dengan tujuan meningkatkan daya serap air dan membantu proses penguraian sampah organik. Teknologi ini dikembangkan oleh Prof. Kamir R. Brata dari Institut Pertanian Bogor (IPB) sebagai solusi sederhana namun efektif untuk mengatasi masalah genangan air dan kekeringan. Agar lebih paham dengan cara kerja biopori dalam menyerap air hujan, simak penjelasan di bawah ini.

Daftar isi

1. Cara Kerja Biopori dalam Menyerap Air Hujan

Prinsip kerja biopori sangat sederhana namun efektif. Ketika hujan turun, air yang mengalir di permukaan tanah akan masuk ke lubang biopori dan meresap ke dalam lapisan tanah. Berikut tahap-tahap cara kerjanya:

  1. Air hujan mengalir ke lubang biopori: Saat hujan, air yang tidak terserap di permukaan akan mengalir menuju lubang biopori. Karena lubang ini memiliki diameter sekitar 10–30 cm dan kedalaman 80–100 cm, air bisa tertampung dengan cukup cepat.

  2. Air meresap ke pori-pori tanah: Dinding lubang biopori yang berpori memungkinkan air meresap ke dalam tanah secara bertahap. Tekstur tanah di sekitar lubang juga membantu mempercepat infiltrasi.

  3. Mikroorganisme membantu menjaga porositas tanah: Sampah organik yang dimasukkan ke dalam lubang menjadi sumber makanan bagi mikroba dan cacing tanah. Aktivitas organisme ini menciptakan rongga-rongga alami (pori-pori tanah) yang memperbesar kemampuan tanah dalam menyerap air.

  4. Air tersimpan di dalam tanah sebagai cadangan air tanah: Setelah air meresap, sebagian akan disimpan dalam lapisan tanah bawah sebagai air tanah. Ini membantu menjaga kelembapan tanah dan ketersediaan air bagi tanaman di sekitarnya.

Menurut penelitian dari Journal of Environmental Management (Elsevier), lubang biopori mampu menahan air hingga 4–6 liter per lubang per jam tergantung jenis tanahnya. Artinya, jika setiap rumah memiliki 4–5 biopori, potensi pengurangan limpasan air hujan bisa mencapai ratusan liter per hari.

2. Faktor yang Mempengaruhi Efektivitas Biopori

Tidak semua biopori bekerja dengan daya serap yang sama. Studi dari National Research and Innovation Agency (BRIN) menyebutkan, ada beberapa faktor yang mempengaruhi efektivitasnya dalam menyerap air hujan, antara lain:

  • Jenis tanah: Tanah liat cenderung menyerap air lebih lambat dibanding tanah berpasir. Namun, tanah liat tetap bisa dioptimalkan dengan biopori lebih dalam.

  • Kedalaman dan diameter lubang: Lubang yang lebih dalam (sekitar 1 meter) dan diameter sekitar 10–12 cm lebih efektif dalam mengalirkan air ke lapisan bawah.

  • Kepadatan mikroorganisme: Semakin aktif organisme tanah, semakin besar kemampuan tanah menjaga porositas.

  • Kondisi permukaan tanah: Permukaan yang tertutup semen atau paving akan menurunkan efektivitas biopori jika tidak ada celah air masuk ke lubang.

3. Manfaat Biopori bagi Lingkungan

Menurut World Bank, selain berfungsi sebagai penyerap air hujan, biopori memiliki berbagai manfaat ekologis dan praktis, di antaranya:

  1. Mengurangi risiko banjir di area perkotaan dengan mempercepat infiltrasi air hujan ke tanah.

  2. Meningkatkan kesuburan tanah karena aktivitas mikroorganisme menghasilkan humus dan nutrisi alami.

  3. Mengurangi sampah organik rumah tangga karena dapat diolah langsung di lubang biopori.

  4. Menambah cadangan air tanah yang berguna di musim kemarau.

  5. Menjaga ekosistem tanah dengan menciptakan lingkungan hidup bagi fauna tanah seperti cacing dan serangga kecil.

4. Penerapan Biopori di Rumah

Membuat biopori di rumah tergolong mudah dan murah. Kamu hanya membutuhkan bor tanah, pipa paralon, dan sampah organik. Langkah-langkahnya sebagai berikut:

  1. Tentukan lokasi strategis seperti halaman, taman, atau dekat saluran air.

  2. Buat lubang vertikal sedalam 80–100 cm dengan diameter 10–12 cm.

  3. Isi sebagian lubang dengan sampah organik seperti daun kering, kulit sayur, atau sisa makanan alami.

  4. Tutup bagian atas dengan pipa berlubang agar tidak tersumbat.

  5. Periksa dan isi ulang sampah organik setiap 2–3 minggu.

Dengan cara sederhana ini, setiap rumah dapat membantu mengurangi genangan air dan mendukung pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan.

Baca juga: Ciri-Ciri Pencemaran Air di Sungai dan Danau yang Bisa Diperhatikan

(NDA)