Konten dari Pengguna

Cara Kerja Hujan Buatan yang Dilakukan BMKG dan Manfaatnya

Hendro Ari Gunawan

Hendro Ari Gunawan

Penulis yang percaya setiap kata punya kekuatan. Spesialis di bidang teknologi, personal finance, dan otomotif.

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Hendro Ari Gunawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi hujan buatan. Foto: Unsplash
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi hujan buatan. Foto: Unsplash

Hujan buatan merupakan salah satu teknologi yang digunakan untuk membantu meningkatkan curah hujan di wilayah tertentu, terutama saat terjadi kekeringan atau kebakaran hutan. Di Indonesia, proses ini biasanya dilakukan oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) bersama beberapa lembaga terkait. Melalui teknik khusus, hujan buatan dapat membantu menambah suplai air dan menjaga keseimbangan lingkungan. Artikel ini akan membahas bagaimana cara kerja hujan buatan yang dilakukan BMKG dengan penjelasan sederhana dan mudah dipahami.

Daftar isi

Pengertian Hujan Buatan

Hujan buatan adalah proses rekayasa cuaca untuk merangsang pertumbuhan awan hingga menghasilkan hujan. Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) ini sudah dikenal sejak tahun 1977 di Indonesia dan terus berkembang hingga sekarang. Prosesnya bukanlah menciptakan awan baru, melainkan mengoptimalkan awan yang sudah ada agar bisa menurunkan hujan.

Langkah Awal: Identifikasi Awan Potensial

BMKG terlebih dahulu melakukan pemantauan cuaca menggunakan radar dan satelit. Tujuannya adalah mencari awan jenis cumulus yang cukup tebal dan memiliki kandungan uap air yang memadai. Tanpa keberadaan awan jenis ini, proses hujan buatan tidak bisa dilakukan.

Penyemaian Awan (Cloud Seeding)

Tahap inti hujan buatan adalah penyemaian awan. Pada tahap ini, pesawat akan menerbangkan bahan tertentu seperti:

  • Garam dapur (NaCl).

  • Kalsium klorida (CaClâ‚‚).

  • Urea.

Bahan-bahan tersebut bertujuan untuk membantu mempercepat proses pengembunan sehingga tetesan air di dalam awan menjadi lebih besar dan akhirnya turun sebagai hujan.

Proses Kondensasi Dipercepat

Setelah bahan disebarkan, partikel tersebut akan menjadi inti kondensasi. Semakin banyak inti ini di dalam awan, semakin cepat uap air berubah menjadi titik-titik air. Ketika titik air semakin berat, mereka akan jatuh ke permukaan sebagai hujan.

Waktu dan Lokasi Ditentukan Secara Cermat

BMKG memilih waktu penyemaian yang paling tepat, biasanya pagi hari ketika kondisi atmosfer lebih stabil. Selain itu, lokasi penyemaian dipilih berdasarkan arah angin agar hujan turun di wilayah yang ditargetkan, seperti area waduk atau daerah yang mengalami kekeringan.

Pengawasan Selama dan Setelah Penyemaian

Tim BMKG memantau pergerakan awan dan lokasi potensi hujan setelah penyemaian dilakukan. Hasil dari hujan buatan juga dievaluasi untuk mengetahui tingkat keberhasilannya.

Manfaat Utama Hujan Buatan

Beberapa manfaat dari hujan buatan antara lain:

  • Mengatasi kekeringan berkepanjangan.

  • Mengisi kembali waduk dan sumber air.

  • Membantu memadamkan kebakaran hutan.

  • Mengurangi polusi udara akibat kabut asap.

Keterbatasan Hujan Buatan

Meskipun terdengar canggih, hujan buatan memiliki beberapa keterbatasan yang perlu dipahami masyarakat. Merujuk penjelasan dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), TMC tidak bisa membuat hujan dari udara kosong. Jika diminta melakukan operasi untuk mengisi waduk pada musim kemarau dalam kondisi kering tanpa potensi awan sama sekali, TMC tidak bisa dilakukan.

Koordinator Laboratorium TMC BRIN Budi Harsoyo pun menegaskan bahwa meski orang mengenalnya dengan istilah hujan buatan, teknologi ini sebenarnya hanya mempercepat dan meningkatkan proses terjadinya hujan dari awan yang sudah ada. Selain itu, hujan buatan juga bisa mempengaruhi pola curah hujan di wilayah lain atau menimbulkan efek samping seperti banjir dan petir jika tidak dilakukan dengan hati-hati berdasarkan pertimbangan ilmiah.

Baca juga: 7 Ciri-Ciri Perubahan Iklim di Sekitar Kita yang Bisa Diperhatikan

(NDA)