Cara Kerja Hujan Buatan yang Dilakukan BMKG Secara Ilmiah

Penulis yang percaya setiap kata punya kekuatan. Spesialis di bidang teknologi, personal finance, dan otomotif.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Hendro Ari Gunawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Hujan buatan kerap dibutuhkan untuk meningkatkan curah hujan di suatu wilayah melalui proses penyemaian garam atau cloud seeding pada awan tertentu. Teknologi ini dikenal sebagai Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC). Cara kerja hujan buatan yang dilakukan BMKG berfokus pada mendorong awan agar proses pembentukan hujan terjadi lebih cepat. Untuk memahami prosesnya, simak penjelasan lengkapnya di bawah ini.
Daftar isi
Daftar isi

Daftar isi
1. Radar Cuaca BMKG Memilih Awan yang Tepat
Sebelum penyemaian garam dilakukan, BMKG mengumpulkan data cuaca yang menjadi penentu utama keberhasilan TMC. Melalui radar cuaca dan pemantauan arah angin, BMKG mengidentifikasi awan potensial yang memiliki kelembapan cukup untuk menurunkan hujan. Informasi ini digunakan untuk menentukan lokasi dan waktu yang tepat agar proses hutan buatan berjalan efektif.
2. Cara Penyemaian Garam dari Udara
Mengacu pada penjelasan laman Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), proses TMC dilakukan melalui kerja sama antara BMKG dan TNI Angkatan Udara (AU). TNI AU menyediakan armada pesawat khusus, seperti Casa, yang disiapkan untuk membawa bahan penyemaian.
BMKG memberikan informasi posisi awan target dan arah angin kepada pilot. Setelah itu, pesawat terbang menuju awan potensial dan menebarkan bahan penyemaian berupa garam atau partikel lainnya. Partikel tersebut masuk ke dalam awan untuk membantu mempercepat proses terbentuknya hujan di lokasi yang dituju.
3. Bahan yang Umum Digunakan
Mengutip laman H2O Global News, beberapa bahan yang digunakan dalam teknologi hujan buatan antara lain:
Natrium klorida atau garam dapur (NaCl): Bersifat higroskopis, cocok untuk awan hangat agar membantu menyerap kelembapan.
Perak Iodida (AgI): paling banyak digunakan untuk membantu pembentukan kristal es di awan dingin.
Es kering (CO₂ beku): Berfungsi mendinginkan awan sehingga proses pembentukan es lebih cepat terjadi.
4. Proses Pembentukan Tetes Hujan
Secara alami, hujan terjadi ketika uap air naik ke atmosfer, berkumpul menjadi awan, lalu membentuk tetesan yang semakin besar. Sementara dalam metode TMC, partikel garam atau bahan lainnya berfungsi sebagai tempat berkumpulnya uap air. Ketika kelembapan semakin terkumpul, tetesan air dalam awan akan tumbuh semakin besar.
5. Turunnya Hujan (Presipitasi)
Ketika tetesan air sudah terlalu berat, tetesan tersebut jatuh sebagai hujan. Dalam kondisi tertentu, presipitasi bisa berupa hujan, salju atau hujan es, tergantung suhu di atmosfer suatu wilayah.
6. Manfaat Hujan Buatan
Hujan buatan telah banyak digunakan untuk menghadapi berbagai tantangan cuaca. Beberapa manfaatnya antara lain:
Meningkatkan curah hujan pada musim kemarau sehingga membantu sektor pertanian.
Menambah debit air di waduk dan sumber air lainnya.
Membantu penanggulangan kebakaran hutan.
Membantu menurunkan suhu udara saat kondisi panas ekstrem.
Baca Juga: 7 Ciri-Ciri Perubahan Iklim di Sekitar Kita yang Bisa Diperhatikan
(SA)
