Konten dari Pengguna

Cara Kerja Hujan Orografis di Daerah Pegunungan

Hendro Ari Gunawan

Hendro Ari Gunawan

Penulis yang percaya setiap kata punya kekuatan. Spesialis di bidang teknologi, personal finance, dan otomotif.

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Hendro Ari Gunawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi suasana saat hujan di daerah pegungungan. Foto: Pexels
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi suasana saat hujan di daerah pegungungan. Foto: Pexels

Hujan orografis adalah jenis curah hujan yang sering terjadi di daerah pegunungan dan menjadi penyebab utama kenapa lereng gunung selalu basah sementara sisi lainnya kering. Fenomena ini muncul ketika angin membawa udara lembap bertemu rintangan pegunungan, memaksa udara naik dan menghasilkan hujan lebat. Cara kerja hujan orografis di daerah pegunungan melibatkan proses fisika sederhana tapi powerful yang memengaruhi iklim lokal secara dramatis. Simak penjelasan rinci mengenai proses hujan yang khas di banyak pegunungan di dunia ini dalam uraian berikut.

Daftar isi

Mekanisme Dasar Angin Lembap Bertemu Pegunungan

Proses hujan orografis dimulai saat massa udara lembap dari laut atau samudra didorong oleh angin dominan menuju pegunungan. Saat angin menyentuh lereng gunung, udara dipaksa naik karena tidak bisa menembus rintangan topografi.

Merujuk jurnal Orographic precipitation and the relief of mountain ranges di AGU Publications, kenaikan udara ini bersifat adiabatik, artinya udara mengembang dan mendingin sekitar 1°C setiap 100 meter kenaikan tanpa pertukaran panas dengan lingkungan.

Pendinginan cepat membuat udara mencapai titik embun di mana uap air mengembun menjadi tetesan kecil. Proses kondensasi ini melepaskan panas laten yang sedikit menghangatkan udara, tapi tetap mendorong pembentukan awan tebal di sisi windward (lereng yang menghadap angin).

Proses Kondensasi dan Pembentukan Awan di Lereng Windward

Saat udara terus naik ke puncak, kondensasi semakin intens karena suhu terus turun. Atkinson dalam bukunya yang berjudul Mesoscale Dynamics oleh Cambridge University Press menjelaskan bahwa di lereng windward, awan orografis seperti lenticular clouds atau cloud cap sering terbentuk, terlihat seperti topi salju di puncak gunung.

Tetesan air bergabung membentuk droplet lebih besar yang akhirnya jatuh sebagai hujan deras, kadang hingga 3-7 kali lebih banyak daripada dataran rendah.

Faktor seperti kecepatan angin dan kelembapan awal sangat menentukan intensitas. Jurnal di Nature Scientific Reports menemukan bahwa pegunungan curam menghasilkan hujan lebih lebat karena laju kenaikan udara lebih cepat, memicu kondensasi masif.

Efek Rain Shadow di Sisi Lee Pegunungan

Setelah melewati puncak, udara kering turun ke sisi lee (lereng belakang) melalui proses subsiden. Udara memanas kembali secara adiabatik saat turun, menghambat pembentukan awan baru dan menyebabkan daerah kering yang disebut rain shadow.

Menurut informasi dari jurnal bertajuk Dynamics of orographic precipitation di Cambridge Core, fenomena rain shadow dapat menciptakan kontras ekstrem, contohnya lereng barat Andes yang hijau versus Gurun Atacama yang kering di timur.

Studi di ScienceDirect tentang Danau Victoria menunjukkan peningkatan curah hujan hingga 7,6 kali di puncak bukit karena efek ini, sementara sisi lee hampir tanpa hujan.

Faktor yang Mempengaruhi Intensitas Hujan Oro grafis

Cara kerja hujan orografis ternyata dipengaruhi oleh banyak hal. Menurut jurnal Geoscientific Model Development, kondisi udara dan arah angin sangat menentukan pola hujan. Jika anginnya stabil, hujan cenderung turun merata. Namun jika anginnya berputar-putar atau turbulen, hujan bisa muncul lebih banyak di titik-titik tertentu saja.

Bentuk pegunungan juga berpengaruh. Pegunungan yang lebar, seperti Himalaya, biasanya membuat hujan turun di area yang luas. Sementara pegunungan yang sempit cenderung menghasilkan hujan yang lebih terfokus pada satu wilayah.

Musim pun ikut memengaruhi. Pada musim angin monsun, udara membawa lebih banyak uap air sehingga hujan orografis bisa lebih intens. Penelitian dari Quarterly Journal of the Royal Meteorological Society melalui Mesoscale Alpine Programme juga menjelaskan bahwa proses pembentukan hujan jenis ini sebenarnya jauh lebih rumit karena melibatkan interaksi detail di dalam awan, bukan hanya sekadar udara naik dan berubah menjadi hujan.

Baca juga: Penyebab Munculnya Bau Tanah Setelah Hujan Pertama

(NDA)