Cara Kerja Proses Infiltrasi Air ke Dalam Tanah dan Faktor yang Mempengaruhinya

Penulis yang percaya setiap kata punya kekuatan. Spesialis di bidang teknologi, personal finance, dan otomotif.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Hendro Ari Gunawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Proses infiltrasi termasuk bagian krusial dalam siklus hidrologi karena berperan dalam menentukan bagaimana air meresap dari permukaan tanah menuju lapisan bawah. Proses ini bahkan juga dapat mempengaruhi ketersediaan air tanah, mengendalikan potensi banjir, serta menjaga kualitas lingkungan secara keseluruhan. Artikel ini akan membahas secara mendalam cara kerja infiltrasi air ke dalam tanah beserta faktor-faktor yang memengaruhinya.
Faktor yang Mempengaruhi Infiltrasi Tanah
Infiltrasi tidak terjadi secara acak, melainkan dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti tekstur tanah, struktur pori, kondisi awal kelembapan, serta vegetasi di permukaan tanah.
Merujuk informasi dari buku Soil and Water Conservation Engineering karya L. D. Fangmeier, tanah berpasir memiliki kemampuan menyerap air lebih cepat dibanding tanah liat karena pori-porinya berukuran besar.
Penelitian yang dilakukan Green & Ampt dalam jurnal Studies on Soil Physics and Water Movement juga menunjukkan pengaruh kadar air awal terhadap kecepatan infiltrasi. Semakin kering kondisi tanah, semakin cepat air meresap pada tahap awal proses.
Selain itu, dalam jurnal Vegetation Effects on Water Infiltration karya Anderson & Burt, pun dijelaskan bahwa akar tanaman dan serasah daun dapat memperbesar pori tanah dan meningkatkan permeabilitasnya, sehingga air lebih mudah meresap ke dalam lapisan tanah.
Cara Kerja Proses Infiltrasi Air ke Dalam Tanah
Cara kerja infiltrasi air ke dalam tanah berlangsung secara bertahap. Berikut beberapa fasenya menurut R. J. Chorley dalam bukunya yang berjudul Principles of Hydrology:
Kontak Awal (Infiltrasi Awal): Air hujan mulai jatuh ke tanah dan mengisi pori-porinya. Jika tanah dalam kondisi kering, laju infiltrasi biasanya lebih tinggi.
Pergerakan ke Bawah: Pengaruh gravitasi membuat air bergerak ke bawah, sedangkan gaya kapilaritas menarik air ke arah horizontal atau bahkan ke atas.
Perkolasi: Air yang telah menembus lapisan atas terus bergerak ke bawah melalui lapisan tanah dan batuan hingga mencapai zona air tanah.
Penyimpanan Air Tanah: Air kemudian tersimpan di dalam rongga tanah dan batuan, membetuk cadangan air tanah yang menjadi sumber air penting bagi kehidupan.
Peran Tekstur dan Struktur Tanah dalam Infiltrasi
Daniel Hillel dalam jurnal bertajuk Environmental Soil Physics menegaskan bahwa komposisi pasir, debu, dan liat dalam suatu tanah (tekstur tanah) sangat memengaruhi laju infiltrasi.
Tanah berpasir memiliki pori-pori besar sehingga air lebih mudah menembusnya, sedangkan tanah liat yang berpori kecil cenderung memperlambat aliran air. Struktur tanah yang terdapat gumpalan, retakan, serta aktivitas organisme tanah juga memainkan peran besar.
Penelitian Beven & Germann dalam jurnal Macropores and Water Flow in Soil menyebutkan bahwa keberadaan makropori, termasuk lubang cacing tanah, mampu mempercepat infiltrasi air secara signifikan.
Mengapa Infiltrasi Penting untuk Lingkungan?
Menurut buku Water Resources Engineering karya Larry W. Mays, infiltrasi merupakan mekanisme vital untuk menjaga keberlanjutan sumber daya air tanah.
Tanpa infiltrasi, air hujan akan lebih banyak mengalir di permukaan sebagai limpasan (runoff), yang berpotensi memicu banjir, erosi, dan mengurangi simpanan air tanah saat musim kemarau.
Selain itu, infiltrasi berperan dalam menjaga keseimbangan ekosistem. Dalam jurnal Infiltration and Ecosystem Function oleh Jones & Grant dijelaskan bahwa proses ini menjaga kelembapan tanah yang dibutuhkan oleh tumbuhan, terutama di wilayah tropis seperti Indonesia.
Baca juga: 6 Penyebab Tanah Menjadi Retak Saat Musim Kemarau Panjang
(NDA)
