Konten dari Pengguna

Cara Kerja Sistem Irigasi Hemat Air di Pertanian Modern

Hendro Ari Gunawan

Hendro Ari Gunawan

Penulis yang percaya setiap kata punya kekuatan. Spesialis di bidang teknologi, personal finance, dan otomotif.

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Hendro Ari Gunawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi sistem irigasi hemat air. Foto: Unsplash
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi sistem irigasi hemat air. Foto: Unsplash

Cara kerja sistem irigasi hemat air di pertanian modern dilakukan dengan memberikan air secara terukur ke area lahan yang membutuhkan. Sistem ini bertujuan untuk meminimalkan kehilangan air akibat penguapan dan limpasan, sehingga mencegah pemborosan. Teknologi irigasi hemat air kini banyak yang sudah dilengkapi pengatur waktu otomatis, sensor kelembapan, serta pengontrol elektronik yang memastikan distribusi air lebih efisien. Simak uraian seputar rangkaian proses yang terjadi pada sistem irigasi modern.

Daftar isi

1. Tahap Pengambilan Air

Tahap pertama dimulai dari pengambilan air dari sumber utama. Sumber ini bisa berupa sumur, penampungan air hujan, sungai kecil, maupun waduk. Menurut laman Agromini, sebelum air disalurkan ke tanaman, air terlebih dahulu disaring melalui sistem filter agar bebas dari kotoran yang bisa menyumbat pipa.

2. Proses Distribusi Air

Setelah air diambil dan disaring, tahap selanjutnya adalah distribusi air ke area pertanian. Air dialirkan melalui jaringan pipa utama yang kemudian bercabang menjadi pipa-pipa kecil menuju tiap titik tanaman.

3. Pengaturan Tekanan dan Volume

Sistem irigasi hemat air modern dilengkapi dengan beberapa komponen penting yang membuat proses penyiraman menjadi lebih efisien. Berdasarkan penjelasan dari laman Simmons Landscape & Irrigation, berikut fungsi utama dari masing-masing komponen:

  • Pengontrol elektronik: Dilengkapi sensor kelembapan tanah dan timer digital yang mengatur waktu serta volume penyiraman sesuai kebutuhan lahan.

  • Katup otomatis: Setiap katup diatur oleh pengontrol untuk mengalirkan air ke area tertentu sesuai kebutuhan tanaman.

  • Regulator tekanan: Menjaga tekanan air tetap stabil di seluruh sistem irigasi.

4. Pemberian Air ke Tanaman

Tahap terakhir adalah pemberian air langsung ke tanaman. Pada sistem irigasi hemat air, air diarahkan tepat ke area perakaran, yaitu bagian tanah yang paling membutuhkan kelembapan. Bergantung pada jenis sistemnya, air dapat keluar dalam bentuk tetesan (drip), semprotan halus (sprinkler), atau aliran di bawah permukaan tanah (subsurface).

5. Jenis-Jenis Sistem Irigasi Hemat Air

Mengacu penjelasan dari laman HydroPoint, berikut beberapa jenis sistem irigasi hemat air yang paling umum digunakan di sektor pertanian modern:

  • Irigasi Tetes (Drip Irrigation): Sistem ini mengalirkan air melalui pipa kecil yang memiliki lubang-lubang kecil (emitter) untuk menetes langsung ke akar tanaman secara perlahan dan stabil. Metode ini mampu mengurangi pemborosan air karena minim penguapan dan tidak menyebabkan limpasan.

  • Irigasi Sprinkler: Sistem ini bekerja menyerupai hujan buatan. Air disemprotkan melalui pipa-pipa dan nozzle kecil, sehingga menghasilkan tetesan yang merata di seluruh area tanaman.

  • Irigasi Subsurface (Bawah Permukaan): Metode ini menyalurkan air langsung ke bawah tanah menggunakan pipa berpori, sehingga air langsung menuju akar.

  • Irigasi Pivot Tengah (Centre Pivot Irrigation): Sistem ini menggunakan pipa panjang yang berputar mengelilingi titik pivot sentral. Prinsip kerjanya mirip dengan sprinkler, namun dalam skala besar dan ditopang oleh rangka logam.

Baca Juga: Cara Mengetahui Tanah Subur di Sekitar Rumah Sebelum Berkebun

(SA)