Konten dari Pengguna

Cara Membaca Skala Richter dan Intensitas Gempa yang Tepat

Hendro Ari Gunawan

Hendro Ari Gunawan

Penulis yang percaya setiap kata punya kekuatan. Spesialis di bidang teknologi, personal finance, dan otomotif.

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Hendro Ari Gunawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

 Ilustrasi gempa bumi. Foto: Inked Pixels/shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi gempa bumi. Foto: Inked Pixels/shutterstock

Skala Richter dan intensitas sama-sama digunakan untuk mengukur karakteristik gempa bumi. Namun, keduanya memiliki perbedaan dalam metode pengukuran, sehingga cara membaca skala Richter dan intensitas gempa pun berbeda. Untuk lebih jelasnya, berikut penjelasan lengkap mengenai panduan membaca kedua ukuran gempa bumi tersebut.

Daftar isi

1. Mengenal Skala Richter

Skala Richter ditemukan pada tahun 1935 oleh Charles F. Richter dari Institut Teknologi California. Skala ini digunakan untuk menilai besarnya energi yang dilepaskan selama gempa bumi. Pengukuran dilakukan berdasarkan amplitudo gelombang seismik yang terekam seismograf. Skala ini didasarkan pada ukuran fisik patahan gempa dan jumlah pergeseran yang terjadi.

2. Cara Membaca Skala Richter

Mengutip Britannica, berikut gambaran umum cara membaca Skala Richter:

  • Kurang dari 1,0 – 2,9 SR: Gempa sangat kecil, biasanya tidak terasa oleh manusia, hanya terdeteksi seismograf.

  • 3,0 – 3,9 SR: Getaran kecil, terasa bagi beberapa orang dan jarang menimbulkan kerusakan.

  • 4,0 – 4,9 SR: Getaran ringan yang dirasakan oleh banyak orang, bisa membuat kerusakan kecil.

  • 5,0 – 5,9 SR: Gempa sedang, berpotensi menimbulkan kerusakan di bangunan yang rapuh.

  • 6,0 – 6,9 SR: Gempa kuat, dapat menyebabkan kerusakan sedang di area berpenduduk.

  • 7,0 – 7,9 SR: Gempa besar, bencana ini bisa mengakibatkan kerusakan serius di area luas dan berpotensi menimbulkan korban jiwa.

  • Lebih dari 8,0 SR: Gempa sangat besar, dampaknya bisa menimbulkan kerusakan parah dan korban jiwa dalam skala luas.

3. Mengenal Intesitas Gempa

Menurut laman Michigan Technological University, skala intensitas gempa bumi yang paling umum digunakan adalah Skala Mercalli. Skala ini pertama kali dibuat oleh Giuseppe Mercalli pada tahun 1902, lalu dimodifikasi oleh Harry Wood dan Frank Neumann pada 1931. Versi modifikasi tersebut dikenal dengan Modified Mercalli Intensity (MMI) yang menggunakan angka Romawi. Intensitas dipengaruhi oleh beberapa faktor, seperti:

  • Besar magnitudo gempa.

  • Jarak dari episentrum.

  • Kedalaman gempa bumi.

  • Desain serta kualitas bangunan.

  • Jenis material permukaan (tanah atau batu) tempat bangunan berdiri.

4. Cara Membaca Intensitas Gempa

Intensitas menggambarkan kekuatan guncangan di lokasi tertentu. Ukurannya ditentukan dari efek yang ditimbulkan terhadap manusia maupun lingkungan. Mengutip laman Lumen Learning, berikut gambaran umum skala intensitas:

  • I : Hampir tidak terasa.

  • II – III : Ringan, hanya dirasakan oleh sedikit orang pada kondisi tenang.

  • IV – V: Getaran ringan, dirasakan banyak orang, bisa menyebabkan kerusakan kecil.

  • VI – VII: Getaran sedang, terasa oleh sebagian besar orang, dampaknya bisa membuat dinding rumah retak.

  • VIII – IX: Getaran kuat, kerusakan mulai terlihat pada bangunan, struktur lemah roboh.

  • IX – X: Kerusakan parah dalam area yang lebih luas, beberapa bangunan hancur.

  • XI – XII: Bencana besar, hampir semua bangunan hancur, kerusakan dalam skala luas.

Baca Juga: Cara Membedakan Gempa Tektonik dan Gempa Vulkanik

(SA)