Cara Membedakan Gempa Tektonik dan Gempa Vulkanik

Penulis yang percaya setiap kata punya kekuatan. Spesialis di bidang teknologi, personal finance, dan otomotif.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Hendro Ari Gunawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Secara umum, gempa bumi dibedakan menjadi dua jenis utama, yaitu gempa tektonik dan gempa vulkanik. Keduanya sama-sama menghasilkan guncangan di permukaan bumi, tetapi memiliki faktor penyebab, lokasi, hingga dampaknya sangat berbeda. Oleh karena itu, penting untuk memahami cara membedakan gempa tektonik dan gempa vulkanik agar lebih mudah mengenali karakteristik masing-masing.
Daftar isi
Daftar isi

Daftar isi
1. Pengertian Gempa
Untuk memahami perbedaan keduanya, penting untuk mengetahui pengertian dasar masing-masing jenis gempa.
Gempa Tektonik: Gempa yang terjadi akibat pergerakan atau pergeseran lempeng bumi.
Gempa Vulkanik: Gempa yang muncul di sekitar gunung api aktif atau wilayah dengan aktivitas vulkanik.
2. Penyebab Gempa
Dalam buku berjudul Panduan Keselamatan saat Gempa Bumio karya Riza Rismawati, perbedaan utama antara gempa tektonik dan vulkanik dapat dilihat dari faktor penyebabnya.
Gempa Tektonik: Disebabkan oleh pelepasan energi elastis dari lempeng tektonik akibat adanya pergerakan atau pergeseran lempeng di kerak bumi.
Gempa Vulkanik: Terjadi karena magma bergerak naik ke permukaan, melepaskan energi yang menimbulkan getaran di daerah sekitarnya.
3. Lokasi Gempa
Lokasi terjadinya gempa juga menjadi penanda yang membedakan antara gempa tektonik dan vulkanik.
Gempa Tektonik: Dapat terjadi di mana saja di permukaan bumi dengan jangkauan luas, bahkan terasa hingga ratusan kilometer dari pusat gempa.
Gempa Vulkanik: Hanya terbatas di sekitar gunung berapi aktif dan jarang sampai radius jarak yang jauh dari pusat aktivitas vulkanik.
4. Dampak yang Dihasilkan
Jenis gempa ini juga berbeda dalam hal dampak yang ditimbulkan pada lingkungan sekitar.
Gempa Tektonik: Lebih cenderung merusak infrastruktur dan bangunan karena getarannya kuat.
Gempa Vulkanik: Dapat menyebabkan pembentukan kerak baru, hujan abu, tanah longsor, hingga aliran lahar yang bergerak cepat akibat bercampurnya puing vulkanik dengan air.
5. Material Sisa atau Puing yang Dihasilkan
Perbedaan lainnya bisa dilihat dari material sisa atau puing yang dihasilkan setelah gempa.
Gempa Tektonik: Tidak secara langsung menghasilkan puing yang signifikan, tetapi puing akan dihasilkan dari reruntuhan bangunan atau longsoran akibat gempa bumi.
Gempa Vulkanik: Menghasilkan banyak material, seperti abu vulkanik hingga batuan dari letusan gunung berapi.
6. Prediksi Gempa
Tingkat prediksi dari kedua jenis gempa ini juga berbeda. Berikut penjelasannya menurut laman Tutorials Point.
Gempa Tektonik: Sulit diprediksi secara tepat. Hanya seberapa besar kemungkinannya terjadi di masa mendatang, tanpa kepastian waktu kejadian.
Gempa Vulkanik: Lebih mudah dipantau. Aktivitas gunung berapi bisa terdeteksi beberapa bulan, minggu atau hari sebelumnya melalui seismograf, meski waktu pasti letusan tetap sulit ditentukan.
7. Kekuatan Guncangan Gempa
Dari segi kekuatan, kedua jenis gempa ini juga memiliki karakteristik tersendiri.
Gempa Tektonik: Jenis gempa bumi yang paling umum, dengan kekuatannya bisa sangat kecil atau sangat besar.
Gempa Vulkanik: Biasanya berintensitas kecil hingga sedang, sering muncul sebelum atau sesudah letusan gunung berapi.
8. Durasi Guncangan Gempa
Selain kekuatan, durasi guncangan juga menjadi pembeda yang cukup jelas.
Gempa Tektonik: Umumnya singkat, berlangsung beberapa detik hingga beberapa menit.
Gempa Vulkanik: Bisa lebih lama, mulai dari hitungan menit, jam, bahkan berhari-hari.
Baca Juga: Cara Terbentuknya Pelangi Ganda Menurut Penjelasan Ilmiah
(SA)
