Cara Membedakan Jamur Beracun dan Tidak Beracun

Penulis yang percaya setiap kata punya kekuatan. Spesialis di bidang teknologi, personal finance, dan otomotif.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Hendro Ari Gunawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Mengetahui cara membedakan jamur beracun dan tidak beracun menjadi bekal penting agar lebih waspada sebelum mengonsumsi jamur liar. Pasalnya, jamur beracun mengandung senyawa berbahaya yang bisa berdampak burul bagi kesehatan. Adapun perbedaan keduanya dapat diamati dari warna, bentuk, bau, area tumbuh, hingga keberadaan organisme di sekitarnya. Artikel ini akan menguraikan ciri-ciri yang perlu diperhatikan supaya tidak keliru menurut laman Yunnan Exploration dan Missouri Department of Conservation.
1. Warna Jamur
Salah satu tanda paling mudah untuk dikenali adalah dari warnanya. Berikut perbedannya:
Jamur beracun: Biasanya memiliki tudung dengan warna cerah dan mencolok seperti merah, biru, hijau, kuning, hitam, atau ungu. Beberapa jenis jamur beracun juga akan berubah warna dengan cepat setelah dipetik.
Jamur tidak beracun: Umumnya berwarna lebih pucat seperti putih, krem, atau cokelat muda.
2. Area Jamur tumbuh
Untuk membedakan jamur beracun atau tidak, bisa dikenali lewat area tumbuhnya di alam. Berikut perbedannya:
Jamur beracun: Jamur beracun seringkali tumbuh di area yang gelap, lembap, dan kotor, seperti tumpukan daun busuk atau di sekitar kayu lapuk.
Jamur tidak beracun: Jamur yang dapat dimakan dan tidak beracun biasanya tumbuh di padang rumput yang bersih.
2. Bentuk Jamur
Struktur fisik jamur juga bisa menjadi petunjuk penting dalam menentukan ada tidaknya racun di dalamnya. Karakteristik jamur beracun dan tidak, meliputi:
Jamur beracun: Sering memiliki tambahan struktur berupa cincin atau cawan (volva) pada bagian batang atau pangkalnya. Tudungnya biasanya cembung, tebal, keras, dan memiliki bentuk unik. Selain itu, sering memiliki bercak, sisik, atau spora putih di bagian atas tudung.
Jamur tidak beracun: Umumnya memiliki tudung datar dengan permukaan halus, tanpa cincin atau volva pada tangkainya. Bagian atasnya tidak memiliki sisik.
4. Lendir atau Cairan pada Jamur
Jamur dapat dikenali dengan keberadaan cairan saat tangkainya dipatahkan. Berikut hal yang bisa jadi acuan:
Jamur beracun: Mengeluarkan cairan kental berwarna cokelat kemerahan. Permukaannya sering berubah warna saat terpapar udara.
Jamur tidak beracun: Mengeluarkan cairan bening seperti air, kadang sedikit putih dan tidak menunjukkan perubahan warna pada permukaannya setelah dipatahkan.
5. Bau Jamur
Aroma jamur juga dapat menjadi indikator penting. Berikut perbedaan baunya:
Jamur beracun: Mengeluarkan bau menyengat seperti pedas, asam, atau amis yang tidak sedap.
Jamur tidak beracun: Memiliki aroma khas jamur yang lembut, segar, dan tidak mengganggu.
6. Keberadaan Cacing atau Serangga
Kehadiran organisme lain seperti cacing atau serangga di sekitar jamur bisa membantu mengidentifikasi tingkat keamanannya.
Jamur beracun: Biasanya dihindari oleh serangga dan cacing karena mengandung racun alami.
Jamur tdak beracun: Sering ditemukan bersama cacing atau serangga kecil di sekitarnya karena tidak mengandung zat beracun.
8. Reaksi Perubahan Warna Jamur
Beberapa jamur bereaksi ketika disentuh atau dipotong menggunakan benda logam seperti pisau, sendok, atau garpu. Berikut cara mengenalinya:
Jamur beracun: Dapat berubah warna menjadi biru atau hitam ketika terkena logam.
Jamur tidak beracun: Tidak menunjukkan perubahan warna ketika dipotong atau ditekan menggunakan benda logam.
Baca Juga: Jamur Berkembang Biak dengan Cara Apa? Ini Penjelasannya
(SA)
