Konten dari Pengguna
Cara Membedakan Pasang Surut Biasa dengan Tsunami yang Perlu Dipelajari
25 September 2025 16:15 WIB
·
waktu baca 3 menit
Kiriman Pengguna
Cara Membedakan Pasang Surut Biasa dengan Tsunami yang Perlu Dipelajari
Pelajari cara membedakan pasang surut biasa dengan tsunami agar lebih waspada. Berikut informasinya.Hendro Ari Gunawan
Tulisan dari Hendro Ari Gunawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

ADVERTISEMENT
Fenomena pasang surut adalah kejadian alam yang wajar terjadi akibat pengaruh gravitasi bulan dan matahari terhadap air laut. Namun, terkadang masyarakat bisa salah mengira perubahan air laut yang ekstrem sebagai tanda pasang surut biasa, padahal bisa saja itu adalah tsunami. untuk meningkatkan kewaspadaan dan keselamatan di wilayah pesisir, berikut beberapa cara membedakan pasang surut biasa dengan tsunami yang perlu dipelajari.
ADVERTISEMENT
1. Perbedaan Penyebab Dasar
Pasang surut biasa terjadi karena gaya tarik gravitasi bulan dan matahari yang memengaruhi pergerakan massa air laut. Sementara itu, tsunami disebabkan oleh gangguan tiba-tiba di dasar laut, seperti gempa bumi, longsoran bawah laut, atau letusan gunung api.
Menurut National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA), perbedaan penyebab ini menjadi indikator utama bahwa tsunami bukanlah fenomena pasang surut yang wajar.
2. Kecepatan Perubahan Muka Air Laut
Pasang surut biasanya berlangsung perlahan, bisa memakan waktu beberapa jam dari surut hingga pasang penuh. Sebaliknya, tsunami menyebabkan perubahan muka air laut secara sangat cepat.
United States Geological Survey (USGS) menjelaskan bahwa surut yang mendadak hingga puluhan meter dalam hitungan menit adalah salah satu ciri khas tsunami, bukan pasang surut biasa.
ADVERTISEMENT
3. Skala dan Ketinggian Gelombang
Pada kondisi normal, tinggi gelombang pasang surut tidak ekstrem dan cenderung dapat diprediksi. Sedangkan tsunami bisa menghasilkan gelombang yang mencapai puluhan meter.
Smithsonian Institution menegaskan bahwa tsunami membawa volume air yang jauh lebih besar dibandingkan pasang surut biasa, sehingga dampaknya juga lebih merusak.
4. Pola Prediksi yang Dapat Dihitung
Pasang surut memiliki pola yang konsisten dan dapat diprediksi dengan kalender astronomi. Itulah sebabnya jadwal pasang surut bisa dibuat dengan akurat. Sebaliknya, tsunami tidak bisa diprediksi dengan cara ini, melainkan membutuhkan sistem peringatan dini berbasis sensor seismik.
NOAA menekankan bahwa jika perubahan air laut terjadi di luar jadwal pasang surut normal, masyarakat harus lebih waspada terhadap potensi tsunami.
ADVERTISEMENT
5. Tanda Awal yang Bisa Dirasakan
Pasang surut biasa tidak menimbulkan guncangan atau tanda alam lain selain naik-turunnya air laut. Namun, tsunami sering diawali dengan gempa bumi kuat yang dirasakan di wilayah pesisir.
Menurut International Tsunami Information Center (ITIC), jika setelah gempa air laut tiba-tiba surut jauh ke tengah laut, itu adalah tanda bahaya tsunami yang harus segera diwaspadai.
6. Dampak terhadap Lingkungan Sekitar
Perbedaan paling jelas bisa terlihat dari dampaknya. Pasang surut biasa hanya memengaruhi aktivitas pelabuhan atau nelayan, tanpa menyebabkan kerusakan besar. Sedangkan tsunami dapat menghancurkan infrastruktur, menenggelamkan wilayah pesisir, hingga menimbulkan korban jiwa.
World Meteorological Organization (WMO) mencatat bahwa dampak tsunami jauh lebih luas dan tidak bisa disamakan dengan pasang surut biasa.
ADVERTISEMENT
(NDA)

