Cara Membedakan Relief Borobudur dan Prambanan

Penulis yang percaya setiap kata punya kekuatan. Spesialis di bidang teknologi, personal finance, dan otomotif.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Hendro Ari Gunawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Relief pada candi bukan sekadar hiasan, tetapi menyimpan nilai sejarah, budaya, dan filosofi yang dalam. Bagi para wisatawan maupun peneliti, memahami perbedaan relief Borobudur dan Prambanan penting untuk mengapresiasi kekayaan seni dan spiritual di masing-masing candi. Untuk itu, simak beberapa cara membedakan relief Candi Borobudur dan Prambanan berikut ini.
Jumlah Relief
Salah satu perbedaan paling mencolok antara Borobudur dan Prambanan terlihat dari jumlah reliefnya. Mengutip buku Pengembangan Ekonomi dan Pariwisata karya Sutan Akbar Onggar Siahaan, Borobudur memiliki lebih dari 2.600 panel relief yang tersebar di sembilan tingkat candi, mengelilingi stupa, dan menampilkan berbagai kisah Buddhis.
Sebaliknya, Prambanan memiliki jumlah relief yang lebih sedikit dan fokus pada kisah epik Hindu. Misalnya, di Candi Siwa terdapat 42 panel relief yang menceritakan keseluruhan kisah Ramayana.
Setiap adegan dipahat dengan detail menakjubkan, mulai dari penculikan Sita oleh Rahwana hingga penyelamatannya oleh Rama dengan bantuan pasukan kera yang dipimpin Hanoman.
Motif Relief
Menurut buku Klarifikasi Catatan Sejarah Borobudur oleh Santo Saba Piliang, relief dan pola hias Candi Borobudur bergaya naturalis dengan proporsi yang ideal dan estetik.
Relief-relief ini menampilkan disiplin seni rupa yang tinggi, seperti berbagai sikap tubuh dengan makna tertentu, serta menggambarkan sosok manusia mulia, mulai dari pertapa, raja, wanita bangsawan, hingga bidadari atau makhluk lain.
Selain itu, relief Borobudur juga memuat beragam gambar, termasuk manusia dari berbagai lapisan masyarakat, aneka tumbuhan dan hewan, serta bangunan tradisional Nusantara.
Di sisi lain, relief Prambanan lebih menekankan motif epik Ramayana, dengan tokoh-tokoh seperti Rama, Sita, Hanuman, dan Rahwana. Perbedaan ini menunjukkan fokus religius yang berbeda, di mana Borobudur menonjolkan ajaran Buddha, sedangkan Prambanan menampilkan cerita Hindu klasik.
Makna Relief
Makna yang terkandung dalam relief kedua candi juga berbeda secara filosofi. Relief Borobudur sarat simbolisme spiritual yang mengajarkan perjalanan manusia dari dunia fana menuju pencerahan.
Sedangkan relief Prambanan lebih menekankan kisah kepahlawanan, kesetiaan, dan kebenaran yang mencerminkan nilai-nilai Hindu dalam konteks kerajaan dan moralitas.
Jenis Relief
Relief Borobudur dapat dibedakan menjadi beberapa jenis, yaitu Relief Dhamma (ajaran moral), Relief Jataka (kisah kelahiran Buddha), Relief Avadana (kisah inspiratif), Relief Asmara (kisah percintaan), Relief Manohara (tokoh mitologi), Relief Karya Seni (aktivitas dan seni masyarakat), Relief Sejarah (peristiwa penting), hingga Relief Simbolik (makna filosofis dan spiritual).
Menurut jurnal Relief Borobudur: Catatan Visual Perjalanan Spiritual karya Lieke Laurent dkk., setiap relief memiliki fungsi sebagai media pendidikan, sarana spiritual, dan dokumentasi sosial.
Sedangkan Candi Prambanan memiliki relief yang kaya makna. Salah satunya adalah relief kisah Ramayana, yang menurut para ahli sangat mirip dengan versi cerita yang diwariskan melalui tradisi lisan.
Relief lain yang menonjol adalah pohon Kalpataru, simbol kehidupan, kelestarian, dan keserasian lingkungan dalam agama Hindu. Di Prambanan, pohon Kalpataru digambarkan mengapit singa, yang menunjukkan bahwa masyarakat abad ke-9 sudah memiliki kearifan dalam mengelola alam sekitarnya.
Selain itu, candi ini juga dihiasi relief burung yang begitu realistis. Salah satunya adalah kakaktua jambul kuning (Cacatua sulphurea), yang memperlihatkan perhatian masyarakat kuno terhadap fauna dan kehidupan alam di sekitarnya.
Lokasi Relief
Perbedaan lain terlihat dari penempatan relief. Relief Borobudur tersebar mengelilingi candi, mulai dari kaki hingga puncak. Sementara Prambanan menempatkan relief pada dinding candi utama dan candi pendamping. Perbedaan ini dipengaruhi oleh konsep arsitektur dan fungsi ritual masing-masing candi.
Baca Juga: 6 Manfaat Menelusuri Arsip Koran Lama untuk Riset Sejarah Kota
