Konten dari Pengguna

Cara Terbentuknya Hujan Es di Daerah Tropis, dari Penguapan hingga Presipitasi

Hendro Ari Gunawan

Hendro Ari Gunawan

Penulis yang percaya setiap kata punya kekuatan. Spesialis di bidang teknologi, personal finance, dan otomotif.

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Hendro Ari Gunawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi hujan es. Foto: Unsplash
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi hujan es. Foto: Unsplash

Hujan es merupakan salah satu bentuk presipitasi yang terdiri dari butiran es padat yang terbentuk di dalam arus udara badai. Fenomena alam ini sering kali terjadi di kawasan tropis, sehingga penting untuk memahami cara terbentuknya hujan es di daerah tropis. Simak uraian tentang tahapan-tahapan terjadinya hujan es serta dampaknya bagi lingkungan sekitar.

Daftar isi

1. Proses Penguapan

Di daerah tropis, terbentuknya hujan es diawali dengan panas matahari yang menyinari permukaan bumi. Air dari laut, sungai, danau, tanah serta transpirasi dari tumbuhan menguap menjadi uap air. Uap air tersebut kemudian naik ke atmosfer dan mulai berkumpul membentuk awan.

2. Proses Kondensasi

Menurut penjelasan dari laman NOAA National Severe Storm Laboratory, hujan es terbentuk ketika uap air terbawa arus udara dalam badai petir ke area atmosfer yang sangat dingin, dengan suhu di bawah nol derajat. Pada kondisi ini, butiran es kecil mulai terbentuk dan terus bergerak akibat angin dalam badai. Setiap kali bertabrakan dengan tetesan air yang sanga dingin, air tersebut membeku di permukaan es sehingga ukurannya semakin besar. Batu es dapat memiliki lapisan jernih atau keruh, tergantung pada kecepatan proses pembekuan:

  • Jika air membeku seketika saat bertabrakan dengan batu es, es akan terlihat keruh karena udara terperangkap di dalamnya.

  • Jika air membeku secara perlahan, es akan terlihat jernih karena gelembung udara dapat keluar.

3. Proses Presipitasi

Ketika butiran es sudah terlalu berat, awan tidak mampu lagi menahannya. Gaya gravitasi membuatnya jatuh ke bumi dalam bentuk hujan es. Ukuran hujan es bisa bervariasi, dari butiran kecil hingga bongkahan es besar yang mampu memecahkan kaca atau merusak kendaraan.

4. Proses Infiltrasi

Setelah hujan es turun ke permukaan bumi dan mencair, sebagian airnya akan meresap ke dalam tanah melalui proses infiltrasi. Seperti dijelaskan dalam buku Dasar-dasar Kesehatan Lingkungan karya Arda Dinata dan Devi Angeliana Kusumaningtiar, infiltrasi berperan penting dalam menjaga kelembapan tanah dan mengisi cadangan air tanah. Sementara itu, air yang tidak meresap akan mengalir ke sungai, danau, atau kembali ke laut, melanjutkan siklus hidrologi.

5. Dampak Hujan Es bagi Lingkungan

Meskipun jarang terjadi, hujan es dapat menimbulkan berbagai dampak bagi lingkungan sekitar. Semakin besar ukuran butiran es, semakin besar pula risiko kerusakan yang ditimbulkan. Menurut laman AccuWeather, beberapa dampak hujan es antara lain:

  • Merusak atap atau dinding rumah

  • Membuat penyok kendaraan

  • Memecahkan jendela

  • Merusak tanaman pertanian

  • Melukai hewan ternak maupun manusia

Baca Juga: Ciri-Ciri Tanah Longsor yang Akan Terjadi, Bisa Jadi Alarm Waspada

(SA)