Cara Terbentuknya Karat pada Besi Melalui Serangkaian Reaksi Kimia

Penulis yang percaya setiap kata punya kekuatan. Spesialis di bidang teknologi, personal finance, dan otomotif.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Hendro Ari Gunawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Karat pada besi adalah fenomena kimia yang sering kita temui dalam kehidupan sehari-hari. Proses terbentuknya karat tidak terjadi seketika, melainkan melalui serangkaian reaksi kimia yang melibatkan oksigen, air, dan terkadang zat elektrolit seperti garam. Lantas, bagaimana cara terbentuknya karat pada besi? Simak uraian ini hingga tuntas untuk mengetahui informasi lengkap mengenai proses terbentuknya karat pada besi.
Daftar isi
Daftar isi

Daftar isi
1. Peran Oksigen dalam Oksidasi Besi
Oksigen dari udara menjadi faktor utama yang menyebabkan karat pada besi. Saat logam terpapar oksigen, atom besi mulai kehilangan elektron sehingga terbentuk ion besi. Reaksi ini disebut oksidasi, di mana Fe berubah menjadi Fe²⁺ atau Fe³⁺.
Menurut Corrosionpedia, oksigen berperan sebagai agen pengoksidasi yang mempercepat kerusakan permukaan logam, sehingga lapisan pelindung alami tidak bisa terbentuk. Proses oksidasi ini akan lebih intens jika logam dibiarkan terbuka di udara bebas tanpa pelapis pelindung.
2. Keterlibatan Air dalam Proses Karat
Selain oksigen, air memiliki peran penting dalam mempercepat terbentuknya karat. Molekul air bertindak sebagai medium yang membantu reaksi kimia antara oksigen dan besi. Saat air menempel pada permukaan besi, molekulnya terurai menjadi ion H⁺ dan OH⁻ yang berperan dalam reaksi elektrokimia.
Penelitian yang dipublikasikan di ScienceDirect menjelaskan bahwa kelembaban udara yang tinggi secara signifikan mempercepat laju korosi karena air berfungsi sebagai elektrolit alami. Inilah sebabnya besi lebih cepat berkarat di musim hujan atau di lingkungan yang lembap.
3. Pembentukan Ion Besi dan Produk Antara
Saat oksidasi terjadi, besi melepaskan elektronnya dan berubah menjadi ion Fe²⁺. Ion ini kemudian bereaksi lebih lanjut dengan oksigen dan air untuk membentuk ion Fe³⁺. Proses ini dikenal sebagai reaksi elektrokimia, di mana elektron yang dilepaskan besi digunakan dalam reaksi reduksi oksigen.
Menurut NACE International, reaksi antara ion besi dan ion hidroksida akhirnya membentuk senyawa besi oksida terhidrasi, yang menjadi karat berwarna cokelat kemerahan.
4. Pengaruh Elektrolit Seperti Garam
Kehadiran elektrolit, misalnya garam, mempercepat proses terbentuknya karat. Ion klorida dalam garam meningkatkan konduktivitas air, sehingga elektron lebih mudah bergerak dalam reaksi redoks.
Karena itu, besi yang berada di lingkungan laut atau daerah pesisir jauh lebih cepat mengalami karat dibandingkan dengan besi yang berada di daerah kering.
National Association of Corrosion Engineers mencatat bahwa korosi di lingkungan laut bisa terjadi hingga beberapa kali lebih cepat dibandingkan di lingkungan normal.
5. Mekanisme Reduksi Oksigen
Selain oksidasi pada besi, reaksi reduksi oksigen juga berlangsung secara bersamaan. Oksigen yang larut dalam air menerima elektron dari besi, kemudian membentuk ion hidroksida (OH⁻). Reaksi redoks inilah yang menyeimbangkan proses pembentukan karat.
Royal Society of Chemistry (RSC) menjelaskan bahwa mekanisme reduksi oksigen dalam air sangat penting, karena tanpa reaksi ini, siklus elektrokimia karat tidak akan terjadi secara sempurna.
6. Karakteristik Produk Akhir Karat
Produk akhir dari seluruh reaksi ini adalah senyawa besi oksida terhidrasi (Fe₂O₃·xH₂O), yang dikenal dengan istilah karat. Lapisan ini biasanya berwarna cokelat, oranye, atau bahkan hitam jika proses korosi sudah parah.
Karat bersifat rapuh dan mudah terkelupas, sehingga tidak memberikan perlindungan apa pun bagi logam di bawahnya. Justru, lapisan ini membuat besi semakin mudah terpapar oksigen dan air, sehingga korosi terus berlanjut.
Corrosionpedia menekankan bahwa inilah perbedaan utama antara karat dan oksida pelindung, misalnya pada aluminium yang justru membentuk lapisan pelindung alami.
Baca juga: 3 Teori Terbentuknya Alam Semesta Menurut Para Ilmuwan
(NDA)
