Cara Terbentuknya Kompos dari Sisa Makanan hingga Jadi Pupuk Alami

Penulis yang percaya setiap kata punya kekuatan. Spesialis di bidang teknologi, personal finance, dan otomotif.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Hendro Ari Gunawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sisa-sisa makanan di rumah bisa digunakan sebagai bahan baku pembuatan pupuk kompos bila diolah dengan benar. Cara terbentuknya kompos dari sisa makanan melibatkan proses dekomposisi bahan organik oleh mikroorganisme hingga menghasilkan humus kaya nutrisi. Selain mengurangi timbunan sampah rumah tangga, pengomposan juga membantu menyuburkan tanah dan menciptakan lingkungan yang lebih sehat. Simak penjelasan lengkap tentang proses pembuatan kompos di rumah di bawah ini.
Daftar isi
Daftar isi

Daftar isi
1. Siapkan Bahan-Bahan untuk Pengomposan
Untuk memulai pembuatan kompos, siapkan bahan utama yang terdiri dari dua jenis, yaitu bahan hijau dan bahan coklet. Berdasarkan laman HomeBiogas, beberapa sisa makanan yang dapat digunakan antara lain:
Bahan hijau: sisa buah dan sayur, sisa makanan seperti roti, nasi matang, pasta, dan biji-bijian lainnya, kantong teh, ampas kopi, kulit telur, kulit kacang, rempah-rempah, herba, cairan kaya nutrisi sisa kaldu sayuran atau air rebusan sayuran
Bahan cokelat: dedaunan kering, jerami, ranting kecil, dan serpihan kayu.
2. Masukkan Bahan ke dalam Wadah Pengomposan
Setelah bahan organik terkumpul, susun secara bergantian antara bahan hijau dan bahan cokelat dalam wadah atau tumpukan kompos. Bahan cokelat berfungsi menyediakan karbon, sedangkan bahan hijau memberi suplai nitrogen untuk membantu mikroorganisme berkembang. Sebelum dimasukkan, potong atau cincang bahan menjadi bagian kecil agar proses penguraian berlangsung lebih cepat.
3. Campurkan dan Basahi Kompos
Proses pencampuran sangat penting untuk menjaga keseimbangan bahan dan sirkulasi udara. Gunakan garpu rumput atau sekop untuk mengaduk bahan hijau dan cokelat secara merata. Tambahkan sedikit air hingga tumpukan terasa lembap. Menurut LePage & Sons Waste Management, kelembapan membantu mengaktifkan mikroorganisme yang akan menguraikan bahan organik. Agar hasilnya optimal, balik tumpukan setiap beberapa minggu untuk memastikan seluruh bahan terkena panas dan oksigen secara seimbang.
4. Proses Penguraian Bahan Organik
Tahap awal pembentukan kompos ditandai dengan aktivitas mikroorganisme seperti bakteri dan jamur yang mulai memecah bahan-bahan organik menjadi senyawa yang lebih sederhana. Proses ini disebut dengan dekomposisi.
Mengutip laman Waste4Change, mikroorganisme memanfaatkan karbon dan nitrogen untuk tumbuh, air untuk membantu pencernaan bahan, serta oksigen untuk bernapas. Kombinasi faktor ini membuat proses penguraian berjalan cepat.
5. Peningkatan Suhu Bahan Organik
Menurut U.S. Environmental Protection Agency (EPA), saat bahan-bahan dalam tumpukan kompos terurai, suhu di bagian tengah tumpukan bisa meningkat signifikan. Suhu tinggi ini membantu membunuh patogen dan biji gulma, sekaligus mempercepat penguraian bahan keras seperti batang sayur atau ranting.
6. Fase Pendinginan
Pada fase ini, tumpukan pun perlahan turun. Tanda-tanda kompos matang mulai terlihat seperti tidak ada sisa makanan yang tampak, dan aroma busuk berkurang drastis. Biarkan tumpukan mengering setidaknya selama beberapa minggu lagi. Durasi pengomposan ini bisa berbeda tergantung ukuran wadah dan jenis bahan yang digunakan, biasanya beberapa minggu hingga beberapa bulan hingga kompos siap.
7. Pembentukan Kompos
Setelah selesai, komposakan menjadi berwarna cokelat tua, bertekstur remah, serta beraroma seperti tanah segar. Sebelum digunakan, saring kompos untuk memisahkan bahan yang belum terurai sempurna seperti ranting besar, kulit telur, atau biji buah. Kompos yang sudah jadi dapat langsung digunakan sebagai pupuk organik alami.
Baca Juga: Cara Kerja Biopori dalam Menyerap Air Hujan dan Manfaatnya bagi Lingkungan
(SA)
