Ciri-ciri Air Kolam yang Mengalami Eutrofikasi Akibat Limbah

Penulis yang percaya setiap kata punya kekuatan. Spesialis di bidang teknologi, personal finance, dan otomotif.
ยทwaktu baca 3 menit
Tulisan dari Hendro Ari Gunawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Eutrofikasi merupakan bentuk pencemaran air yang terjadi akibat masuknya nutrien dalam jumlah berlebihan ke dalam ekosistem perairan. Fenomena ini dapat terjadi pada perairan tawar maupun asin, termasuk kolam. Eutrofikasi dapat terjadi secara alami, namun dalam banyak kasus dipicu oleh aktivitas manusia, seperti pembuangan limbah industri, penggunaan deterjen, pupuk pertanian, serta limbah peternakan. Simak uraian lengkap seputar ciri-ciri air kolam yang mengalami eutrofikasi pada uraian berikut.
Daftar isi
Daftar isi

Daftar isi
1. Kadar Nutrien Sangat Tinggi
Salah satu ciri utama eutrofikasi adalah meningkatnya kadar nutrien di dalam air. Menurut buku Proteksi Lingkungan dan Produk Bersih karya Basri dan Andi Tilka Muftiah, perairan eutrofik umumnya kaya akan nitrogen dan fosfor. Nutrien tersebut berperan layaknya pupuk yang merangsang pertumbuhan alga dan tumbuhan air secara berlebihan.
Pada ekosistem air tawar, eutrofikasi sebagian besar disebabkan oleh kelebihan fosfor. Sementara itu, di perairan pantai dan laut, nutrien penyumbang utama biasanya nitrogen atau kombinasi antara nitrogen dan fosfor.
2. Warna Air Berubah Menjadi Hijau atau Keruh
Air kolam yang mengalami eutrofikasi umumnya mengalami perubahan warna menjadi kehijauan. Perubahan ini sering disertai bau tidak sedap akibat proses penguraian bahan organik. Berdasarkan informasi dari laman PondMedics, perkembangan alga yang pesat pada perairan eutrofik juga dapat menurunkan kejernihan air. Kondisi air kolam yang keruh ini dapat mengganggu berbagai aktivitas, seperti memancing, berenang, maupun kegiatan rekreasi lainnya.
3. Banyak Ditumbuhi Tumbuhan Air
Ciri lain yang sangat mencolok adalah pertumbuhan tumbuhan air dan alga yang berlebihan atau dikenal sebagai blooming algae. Pertumbuhan ini dipicu oleh tingginya kadar fosfat dan nitrat dalam air. Dalam buku Kimia Air karya Pranoto dan Eddy Heraldy, dijelaskan bahwa pertumbuhan alga yang berlebihan dapat menghambat penetrasi cahaya ke dalam air, sehingga aktivitas fotosintesis organisme di lapisan bawah menurun dan produktivitas perairan ikut berkurang.
4. Melimpahnya Populasi Fitoplankton
Eutrofikasi juga ditandai dengan meningkatnya kepadatan fitoplankton yang sering kali menimbulkan bau busuk dan menurunkan kualitas air. Ketika fitoplankton dalam jumlah besar mati, proses dekomposisi oleh mikroorganisme akan mengurangi ketersedian oksigen terlarut.
5. Konsenterasi Oksigen Terlarut Menurun Drastis
Bahan organik dan senyawa nutrisi yang terdapat di dalam badan air akan didekomposisi oleh bakteri dengan memanfaatkan oksigen terlarut. Proses ini menyebabkan kadar oksigen terlarut menurun secara signifikan. Menurut buku Dasar-dasar Akuakultur karya Maftuch dkk., kondisi ini dapat memicu terbentuknya zona hipoksia atau bahkan anoksia, yaitu keadaan kekurangan oksigen yang berbahaya bagi organisme air.
6. Jumlah Ikan yang Menurun
Rendahnya konsentrasi oksigen terlarut yang disertai penurunan kualitas air menyebabkan ikan dan organisme air lainnya tidak mampu bertahan hidup. Akibat kondisi tersebut, ikan di kolam yang mengalami eutrofikasi kerap ditemukan mati secara mendadak, sehingga keanekaragaman organisme air pun semakin berkurang.
Baca Juga: Ciri-ciri Sumber Air Tanah yang Bersih dan Alami untuk Dikonsumsi
(SA)
