Konten dari Pengguna

Ciri-Ciri Air Layak Minum Tanpa Alat Uji yang Perlu Diperhatikan

Hendro Ari Gunawan

Hendro Ari Gunawan

Penulis yang percaya setiap kata punya kekuatan. Spesialis di bidang teknologi, personal finance, dan otomotif.

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Hendro Ari Gunawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi ciri-ciri air layak minum tanpa alat uji. Foto: Unsplash
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi ciri-ciri air layak minum tanpa alat uji. Foto: Unsplash

Air adalah sumber kehidupan yang sangat penting bagi manusia. Tubuh manusia bahkan terdiri dari sekitar 60–70% air, sehingga kualitas air yang dikonsumsi sangat memengaruhi kesehatan. Namun, tidak semua air yang tampak jernih aman untuk diminum. Sayangnya juga, banyak orang yang tidak memiliki alat uji laboratorium di rumah untuk menguji kelayakan air. Artikel ini akan menguraikan beberapa ciri-ciri air layak minum tanpa alat uji berdasarkan pengamatan fisik sederhana.

Daftar isi

1. Air Tidak Berwarna (Bening dan Jernih)

Ciri paling mudah dikenali dari air yang layak minum adalah tidak berwarna. Air yang bening menandakan minimnya kandungan zat terlarut seperti lumpur, besi, atau bahan kimia.

Jika air terlihat kekuningan, kehijauan, atau kecokelatan, hal itu bisa menandakan adanya kontaminasi logam berat atau bahan organik. Misalnya, warna kekuningan sering disebabkan oleh kandungan besi tinggi, sementara warna kehijauan dapat menunjukkan adanya pertumbuhan alga akibat paparan sinar matahari.

Menurut World Health Organization (WHO), air minum yang aman seharusnya memiliki tingkat kekeruhan di bawah 5 NTU (Nephelometric Turbidity Unit).

Jadi, meskipun kamu tidak punya alat pengukur, kamu bisa menilainya dengan cara sederhana, misalnya jika air terlihat jernih saat dituang ke gelas bening dan tidak mengandung endapan, maka kemungkinan besar air tersebut layak untuk diminum setelah dimasak.

2. Tidak Memiliki Bau yang Menyengat

Air bersih yang aman untuk dikonsumsi tidak memiliki bau sama sekali. Bila air tercium seperti belerang, logam, atau bahan kimia seperti pemutih, itu pertanda bahwa air tersebut sudah tercemar.

Bau busuk atau amis menandakan adanya pembusukan bahan organik, sedangkan bau logam menandakan kandungan besi atau mangan yang tinggi. Jika air berbau seperti klorin, biasanya disebabkan oleh proses desinfeksi yang berlebihan, umum pada air ledeng di perkotaan.

Sebagai panduan, WHO menyebutkan bahwa bau khas logam atau tanah bisa menjadi tanda air telah terkontaminasi oleh bahan anorganik atau mikroorganisme tertentu. Jika air yang kamu gunakan memiliki aroma aneh, sebaiknya hindari untuk diminum langsung.

3. Rasa Netral, Tidak Asam atau Logam

Air yang layak minum harus memiliki rasa yang netral, yakni tidak pahit, asam, asin, atau terasa logam. Air yang terasa aneh menandakan adanya zat terlarut atau kontaminan.

Misalnya, rasa logam menunjukkan kandungan besi atau tembaga, sedangkan rasa pahit bisa menandakan adanya kandungan alkali atau sulfat tinggi. Jika air terasa manis atau getir, itu bisa menjadi tanda kontaminasi bahan kimia atau bakteri tertentu.

Menurut United States Environmental Protection Agency (EPA), pH air minum yang ideal berada pada kisaran 6,5–8,5. Air yang terlalu asam (pH rendah) bisa menyebabkan korosi pada pipa dan meningkatkan risiko paparan logam berat. Meskipun tanpa alat uji pH, kamu dapat mengenali ketidakseimbangan ini melalui rasa, air asam biasanya terasa agak “tajam” di lidah.

4. Tidak Mengandung Endapan atau Partikel

Perhatikan dasar wadah setelah air didiamkan beberapa menit. Jika muncul endapan, serpihan kecil, atau partikel yang mengambang, artinya air tersebut mengandung zat padat tersuspensi dan tidak layak diminum langsung.

Air bersih yang sehat akan tetap jernih bahkan setelah disimpan beberapa jam. Endapan putih bisa berasal dari kapur atau mineral kalsium berlebih, sementara endapan cokelat menandakan kandungan tanah atau besi.

Badan Standardisasi Nasional (BSN) dalam SNI 3553:2015 juga menetapkan bahwa air minum harus bebas dari partikel tersuspensi yang bisa mengubah warna dan rasa air. Bila air dari sumur atau sumber alami tampak berdebu atau mengandung lumut, sebaiknya disaring terlebih dahulu sebelum dikonsumsi.

5. Tidak Menghasilkan Buih Berlebih Saat Dimasak

Ciri lain yang bisa diperhatikan tanpa alat uji adalah perilaku air saat direbus. Air yang layak minum biasanya menghasilkan gelembung kecil dan uap bening. Namun, jika muncul buih berlebih atau lapisan minyak di permukaan, bisa jadi air tersebut mengandung sabun, deterjen, atau bahan organik.

Menurut Environmental Science & Pollution Research, sisa deterjen yang terbawa dari limbah rumah tangga sering menyebabkan air mengandung surfaktan, zat yang bisa menimbulkan buih dan mengganggu sistem pencernaan jika dikonsumsi.

6. Tidak Menimbulkan Iritasi atau Gatal di Kulit

Cara sederhana lainnya untuk mengetahui kelayakan air adalah dengan mencuci tangan atau wajah menggunakan air tersebut. Jika kulit terasa gatal, panas, atau muncul iritasi, itu pertanda adanya bahan kimia atau mikroorganisme di dalam air.

Reaksi ini sering disebabkan oleh keberadaan klorin, amonia, atau bakteri. Berdasarkan laporan Centers for Disease Control and Prevention (CDC), air yang mengandung mikroba patogen seperti E. coli atau Salmonella dapat menyebabkan infeksi kulit bahkan sebelum dikonsumsi.

7. Tidak Mudah Berlumut Saat Disimpan

Air yang cepat berlumut atau menimbulkan bau setelah disimpan menunjukkan adanya mikroorganisme dan bahan organik. Air yang benar-benar bersih biasanya tetap jernih dan tidak menimbulkan lapisan hijau pada wadah, meskipun disimpan beberapa hari dalam kondisi tertutup.

Untuk memeriksa hal ini, kamu bisa menyimpan sedikit air di wadah kaca tertutup selama dua hingga tiga hari. Jika air tetap jernih dan tidak berbau, besar kemungkinan air tersebut termasuk layak minum setelah direbus.

Baca juga: Cara Kerja Biopori dalam Menyerap Air Hujan dan Manfaatnya bagi Lingkungan

(NDA)