Konten dari Pengguna

Ciri-Ciri Aksara Rejang dari Bengkulu dan Sejarahnya

Hendro Ari Gunawan

Hendro Ari Gunawan

Penulis yang percaya setiap kata punya kekuatan. Spesialis di bidang teknologi, personal finance, dan otomotif.

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Hendro Ari Gunawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi ciri-ciri aksara rejang dari bengkulu. Foto: Unsplash
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi ciri-ciri aksara rejang dari bengkulu. Foto: Unsplash

Aksara Rejang pada awalnya digunakan oleh para peneliti untuk merujuk pada aksara dalam Surat Ulu, yaitu naskah kuno yang berkembang di wilayah Bengkulu. Aksara ini juga dikenal dengan sebutan Aksara Kaganga, sesuai dengan tiga huruf pertamanya dalam urutan abjad. Pada masa lampau, tulisan ini biasa ditorehkan di atas media seperti bambu, kulit kayu, hingga tanduk kerbau sebagai pusaka keramat yang diwariskan turun-temurun. Simak pembahasan berikut mengenai ciri-ciri aksara Rejang dari Bengkulu.

Daftar isi

1. Berbentuk Garis Tajam

Mengutip Ensiklopedia Suku Bangsa di Indonesia karya Zulyani Hidayah, bentuk huruf aksara Rejang mirip dengan huruf paku yang ditemukan dalam naskah-naskah kuno di Bengkulu. Goresannya berupa garis tajam dan tegas. Bentuk runcing ini dipercaya muncul karena media tulis yang digunakan kala itu bersifat keras, seperti bambu atau kayu.

2. Setiap Akhir Huruf Memiliki Vokal [a]

Ciri khas aksara Rejang adalah bahwa setiap huruf induknya berupa konsonan dengan vokal bawaan [a]. Untuk menghasilkan bunyi selain “a” atau membentuk diftong, digunakan tanda diakritik yang diletakkan di sekitar huruf dasar.

3. Tanda Baca Sederhana

Berbeda dengan aksara Jawa yang memiliki sistem pasangan, Aksara Rejang memiliki tanda baca yang jauh lebih sederhana. Tanda-tandanya hanya berupa titik atau garis pendek. Dalam penggunaannya, aksara ini mengenal tanda awal kalimat, tanda tanya, tanda seru, koma, titik, dan tanda akhir kalimat.

4. Susunan Huruf dalam Aksara Rejang

AKsara Rejang. Foto: Tangkapan layar buku Aksara-aksara di Nusantara karya RIdwan Maulana (2020)

Berdasarkan Peraturan Daerah Kabupaten Lebong tahun 2013 tentang Aksara Ka Ga Nga disebutkan bahwa aksara Rejang disebut Lepiak yang berjumlah 28 buah aksara, terdiri dari 19 buah aksara tunggal (buak tuwai) dan 9 aksara ngimbang.

  • Aksara tunggal (buwak tupai): ka, ga, nga, ta, da, na, pa, ba, ma, ca, ja, nya, sa, ra, la, ya, wa, ha, a

  • Aksara ngimbang: mba, ngga, mpa, nda, nca, ngka, nja, nta, gha

5. Sejarah Aksara Rejang

Menurut buku Sriwijaya: Kerajaan Maritim di Indonesia karya Akhmad Sadad, aksara Rejang atau Kaganga berasal dari Aksara Palawa dan Aksara Brahmi yang digunakan pada masa Kerajaan Sriwijaya. Aksara ini diperkirakan mulai berkembang sekitar abad ke-12 dan mencapai puncak kejayaannya pada abad ke-17 hingga ke-19.

Selain itu disebutkan dalam buku Aksara-aksara di Nusantara oleh Ridwan Maulana, aksara Rejang umumnya masih satu rumpun dengan aksara Kerinci, aksara Lampung, dan aksara Batak, yang semuanya merupakan turunan dari sistem tulisan yang sama.

6. Penggunaan Aksara Rejang di Masa Kini

Dahulu aksara Rejang digunakan untuk menulis ajaran agama, hukum adat, ramalan, dan dokumen penting lainnya. Kini, penggunaannya meluas sebagai identitas budaya daerah Bengkulu. Tulisan ini sering dijumpai pada papan nama lembaga, instansi pemerintah, kantor, organisasi, hingga nama jalan dan bangunan.

Selain itu, aksara Rejang juga diajarkan di sekolah, kursus, serta komunitas budaya lokal. Upaya ini dilakukan untuk menjaga agar aksara leluhur tersebut lestari sebagai warisan budaya Bengkulu.

Baca Juga: Sejarah Aksara Lontara Bugis-Makassar dan Sistem Hurufnya

(SA)