Konten dari Pengguna
Sejarah Aksara Lontara Bugis-Makassar dan Sistem Hurufnya
30 Oktober 2025 17:32 WIB
·
waktu baca 3 menit
Kiriman Pengguna
Sejarah Aksara Lontara Bugis-Makassar dan Sistem Hurufnya
Bagaimana sejarah aksara lontara Bugis-Makassar? Simak pembahasan dalam artikel ini mengenai awal kemunculan aksara lontara. Hendro Ari Gunawan
Tulisan dari Hendro Ari Gunawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

ADVERTISEMENT
Aksara Lontara merupakan sistem tulisan tradisional yang digunakan oleh masyarakat Bugis dan Makassar di Sulawesi Selatan. Huruf ini berfungsi untuk mencatat berbagai aspek kehidupan, mulai dari sejarah kerajaan, hukum adat, tata pemerintahan, hingga ajaran moral. Sejarah aksara Lontara Bugis-Makassar telah berlangsung sejak berabad-abad yang lalu. Untuk mengetahui bagaimana awal kemunculannya, simak pembahasan selengkapnya pada uraian di bawah ini.
ADVERTISEMENT
1. Awal Kumunculan Aksara Lontara
Aksara Lontara diperkirakan telah berkembang sejak abad ke-14. Menurut buku Aksara-aksara di Nusantara karya Ridwan Maulana, aksara ini konon diciptakan oleh Daeng Pamette, seorang syahbandar sekaligus tumailalang (menteri urusan istana dalam dan luar negeri kerajaan) atas perintah Raja Gowa ke-IX, Karaeng Tumapakrisi Kallonna. Dari sinilah kemudian aksara Lontara mulai digunakan secara luas sebagai bagian penting dari tradisi literasi masyarakat Bugis-Makassar.
2. Bentuk Aksara Lontara
Dalam buku Lemuria Indonesia karya Santo Saba Piliang dijelaskan bahwa, menurut budayawan Mattulada, bentuk dasar aksara Lontara berasal dari konsep “sulapa eppa wala suji.” Kata wala berarti pemisah, pagar, atau penjaga, sedangkan suji berarti putri. Wala suji juga dikenal sebagai pagar bambu yang digunakan dalam upacara ritual.
ADVERTISEMENT
Sementara sulapa eppa atau “empat sisi” dalam kepercayaan klasik Bugis-Makassar melambangkan susunan semesta yaitu api, air, angin, dan tanah. Tulisan Lontara pada masa lampau ditorehkan di atas daun lontar menggunakan lidi atau kalam yang dibuat dari serat ijuk kasar.
3. Penggunaan Aksara Lontara Zaman Dahulu
Istilah Lontara banyak ditemukan dalam literatur sejarah masyarakat Bugis. Salah satu karya terpanjang yang ditulis menggunakan aksara ini adalah I La Galigo, epos mitologis Bugis yang terdiri dari sekitar 6.000 halaman.
Aksara Lontara juga digunakan untuk menulis berbagai jenis dokumen seperti peta, hukum perdagangan, surat perjanjian, hingga catatan harian. Media tulisnya beragam, mulai dari buku hingga lembaran daun lontar panjang yang digulung pada dua poros kayu. Teks dibaca dari kiri ke kanan, atau kadang ditulis zig-zag ketika ruang mulai habis.
ADVERTISEMENT
4. Sistem Huruf Aksara Lontara
Aksara Lontara terdiri dari 23 huruf, yaitu: ka, ga, nga, ngka, pa, ba, ma, mpa, ta, da, na, nra, ca, ja, nya, nca, ya, ra, la, wa, sa, a, dan ha. Dalam buku Hakikat Ilmu Pengetahuan Budaya karya Rahayu Surtiati Hidayat dkk., dijelaskan bahwa secara tradisional, aksara Lontara tidak memiliki tanda virama (pemati vokal), sehingga bunyi konsonan mati sering kali tidak dituliskan. Setiap huruf memiliki vokal bawaan /a/, yang dapat diubah menjadi /i/, /u/, /e/, atau /o/ dengan menambahkan tanda diakritik.
(SA)

