Konten dari Pengguna

Ciri-Ciri Arsitektur Hindia-Belanda di Kota Kecil Indonesia

Hendro Ari Gunawan

Hendro Ari Gunawan

Penulis yang percaya setiap kata punya kekuatan. Spesialis di bidang teknologi, personal finance, dan otomotif.

ยทwaktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Hendro Ari Gunawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi arsitektur Hindia-Belanda. Foto: Shika Arimasen Michi/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi arsitektur Hindia-Belanda. Foto: Shika Arimasen Michi/kumparan

Sejak awal abad ke-20, kota-kota kecil di Indonesia mengalami transformasi arsitektur di bawah pengaruh pemerintah kolonial. Berikut ciri-ciri arsitektur Hindia-Belanda di kota kecil Indonesia sebagaimana dikutip dari Jurnal Arsitektur Indis dan Perubahan Sejarah Kota Magelang 1906-1942 karya Adyt Alkautsar dan La Ode Rabani dan jurnal Identifikasi Gaya Arsitektur Indische Empire Style pada Bangunan Rumah Tinggal Wangsadikrama Kota Cimahi susunan Ardhiana Muhsin.

Pilar dan Kolom Bergaya Yunani

Salah satu ciri khas arsitektur Hindia-Belanda, khususnya gaya Indische Empire Style, adalah penggunaan kolom tinggi yang berdiri kokoh di serambi depan dan belakang.

Bentuk kolom ini meniru ordo Yunani klasik, seperti Doric, Ionic, dan Corinthian. Kolom Doric dikenal sederhana dan tegas, Ionic menampilkan spiral yang elegan, sementara Corinthian dihiasi motif daun acanthus yang rumit.

Atap Perisai

Rumah bergaya Hindia-Belanda umumnya memiliki atap perisai dengan empat sisi miring yang bisa berbentuk prisma tunggal atau ganda.

Atap ini tidak hanya mempercantik bangunan, tetapi juga dirancang menyesuaikan iklim tropis Indonesia. Tingginya atap memudahkan sirkulasi udara, sehingga interior rumah tetap sejuk dan nyaman meski berada di daerah panas dan lembap.

Denah Simetris

Karakter lain yang mudah dikenali adalah denah bangunan yang simetris dengan central room di tengah. Ruang tengah ini menjadi penghubung antara teras depan, teras belakang, dan ruang-ruang di sekitarnya. Desain simetris ini terinspirasi dari gaya klasik Eropa dan membuat pergerakan di dalam rumah menjadi lebih teratur.

Beranda Luas dan Taman Mengelilingi Bangunan

Bangunan kolonial sering menampilkan beranda depan dan belakang yang luas. Beranda ini dilengkapi kolom-kolom tinggi dan menjadi area transisi antara interior dan eksterior rumah.

Tak jarang halaman rumah dilengkapi taman yang luas untuk menciptakan suasana sejuk dan menambah estetika bangunan. Taman ini juga berfungsi sebagai ventilasi alami dan sirkulasi udara.

Lantai Tinggi

Lantai bangunan gaya Hindia-Belanda biasanya dinaikkan 30-60 cm dari permukaan tanah untuk mengurangi debu dan mengurangi kelembapan.

Teras dan lantai dalam rumah sering menggunakan pelapis yang bisa menyerap panas, sehingga ruangan lebih sejuk. Adapun material yang digunakan antara lain tegel marmer dan batu untuk kolom.

Elemen Dekoratif: Gevel, Tower, dan Dormer

Bangunan kolonial juga menampilkan elemen dekoratif khas Belanda, seperti gevel atau gable di fasad depan, tower kecil, dormer di atap, windwijzer (penunjuk arah angin), serta balustrade dan ragam hias di tubuh bangunan.

Contoh Bangunan Bergaya Kolonial di Kota-Kota Kecil

Beberapa bangunan yang menampilkan ciri arsitektur kolonial dapat ditemukan di berbagai kota kecil, seperti Gedung Jacobson van den Berg di kota tua Sekanak, Medan, yang dulunya berfungsi sebagai kantor perusahaan perdagangan Belanda.

Selain itu, ada Rumah Dinas Bakorwil di Kota Madiun yang menampilkan gaya bangunan hasil adaptasi arsitektur klasik Eropa dengan penyesuaian terhadap iklim tropis.

Baca Juga: 7 Ciri-Ciri Arsitektur Kastil Kolonial Belanda di Jawa Tengah