Konten dari Pengguna

Ciri-Ciri Arsitektur Pura Bali Kuno yang Indah dan Penuh Makna

Hendro Ari Gunawan

Hendro Ari Gunawan

Penulis yang percaya setiap kata punya kekuatan. Spesialis di bidang teknologi, personal finance, dan otomotif.

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Hendro Ari Gunawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Umat Hindu menampilkan Tari Rejang Renteng saat rangkaian Upacara Ida Bhatara Turun Kabeh di Pura Besakih, Karangasem, Bali, Selasa (11/4/2023). Foto: Nyoman Hendra Wibowo/Antara Foto
zoom-in-whitePerbesar
Umat Hindu menampilkan Tari Rejang Renteng saat rangkaian Upacara Ida Bhatara Turun Kabeh di Pura Besakih, Karangasem, Bali, Selasa (11/4/2023). Foto: Nyoman Hendra Wibowo/Antara Foto

Sebagai pulau yang penduduknya mayoritas Hindu, tidak sulit menemukan pura di Bali. Sebab, pura merupakan rumah ibadah bagi umat Hindu untuk melakukan pemujaan pada Hyang Widhi Wasa atau Tuhan Yang Maha Esa.

Tidak seperti candi atau kuil Hindu di India yang tertutup, pura dirancang sebagai tempat ibadah di ruang terbuka. Bangunannya dikelilingi tembok yang dilengkapi paduraksa atau gapura pada keempat sudutnya.

Selain itu, arsitektur pura juga unik karena setiap sudutnya mengandung makna tersendiri. Lantas, seperti apa ciri-ciri arsitektur pura Bali kuno? Simak penjelasannya di bawah ini.

1. Memiliki Tiga Halaman

Dikutip dari buku Pura dan Mandir: Kajian Tempat Suci Hindu di Bali dan India susunan Si Luh Nyoman Seriadi, pada umumnya pura Bali memiliki tiga halaman, yakni jaba pisan atau halaman depan, jaba tengah atau halaman tengah, dan jero yaitu halaman dalam.

Meski begitu, ada juga pura sederhana yang hanya memiliki jaba pisan dan jero. Struktur halaman ini mengikuti konsep Tri Mandala, sehingga punya derajat kesucian. Berikut rinciannya:

  • Nista Mandala (Jaba Pisan): Zona terluar yang biasanya berupa lapangan atau taman, sering digunakan untuk pementasan tari atau tempat persiapan melakukan berbagai upacara keagamaan.

  • Madya Mandala (Jaba Tengah): Zona tengah tempat umat beraktivitas. Pada zona ini biasanya terdapat Bale Kulkul, Bale Gong (Bale gamelan), Wantilan (Bale pertemuan), Bale Pesandekan, dan Perantenan.

  • Utama Mandala (Jero): Zona paling suci di dalam pura. Zona ini juga diidentikkan dengan alam Brahman, sehingga berfungsi khusus sebagai arena pemujaan. Di dalam zona tersuci ini terdapat Padmasana, Pelinggih Meru, Bale Piyasan, Bale Pepelik, Bale Panggungan, Bale Pawedan, Bale Murda, dan Gedong Penyimpenan.

2. Pintu Masuk Berbentuk Candi

Pintu masuk pura Bali ada dua macam, yaitu candi bentar dan candi kurang atau kori agung. Candi bentar merupakan candi yang tampak terbelah sehingga membentuk gapura. Sedangkan candi kurang membentuk pintu masuk yang beratap.

Di sebelah pintu masuk sering dapat dua buah arca penjaga yang disebut dwaparapala. Arca penjaga itu dapat berwujud manusia, raksasa, binatang atau yang lain.

Selain itu, pura selalu dibangun menghadap ke arah timur atau tempat matahari terbit. Beberapa pura memiliki orientasi ke arah gunung.

3. Memiliki Meru

Meru adalah bangunan utama di dalam pura yang atapnya berundak atau bertingkat-tingkat. Atap itu disebut dengan istilah tumpang dan jumlahnya selalu ganjil, mulai dari 3 hingga 11. Semakin ke atas, ukuran tumpang akan semakin kecil.

Meru dianggap sebagai tempat bersemayam para dewa. Itulah mengapa tempat suci ini digunakan sebagai area pemujaan kepada Tuhan dalam beberapa aspek-Nya, serta pemujaan terhadap leluhur.

Baca Juga: Candi Penataran: Ciri Khas Tiap Bagian dan Cerita pada Reliefnya