Konten dari Pengguna

Ciri-ciri Arsitektur Rumah Adat Toraja Kuno beserta Keunikannya

Hendro Ari Gunawan

Hendro Ari Gunawan

Penulis yang percaya setiap kata punya kekuatan. Spesialis di bidang teknologi, personal finance, dan otomotif.

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Hendro Ari Gunawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Tongkonan, rumah adat orang Toraja. Foto: Dok. Pegipegi
zoom-in-whitePerbesar
Tongkonan, rumah adat orang Toraja. Foto: Dok. Pegipegi

Rumah adat Tongkonan bukan hanya sekadar tempat tinggal, tapi juga simbol identitas sekaligus pusat kehidupan adat masyarakat Toraja di Sulawesi Selatan. Setiap detailnya, mulai dari bentuk atap hingga tata letak bangunan, sarat dengan makna dan nilai luhur yang diwariskan turun-temurun. Untuk mengenal lebih dalam nilai budaya dan simbol yang terkandung di dalamnya, berikut ciri khas arsitektur rumah adat Toraja kuno.

Posisi Bangunan Menghadap ke Utara

Dikutip dari laman Dinas Perhubungan Daerah Kabupaten Toraja Utara, salah satu ciri khas rumah adat Tongkonan di Sulawesi Selatan adalah tata letaknya yang selalu menghadap utara. Ini merupakan simbol penghormatan kepada Puang Matua sebagai Sang Pencipta alam semesta.

Masyarakat Toraja percaya bahwa Puang Matua bersemayam di bagian utara, sehingga Tongkonan harus selalu menghadap ke utara agar senantiasa mendapatkan berkah dari-Nya.

Jika menghadap selatan, maka hal itu dikaitkan dengan hubungan leluhur. Arah barat melambangkan penghormatan kepada nenek moyang yang didewakan, sementara arah timur menjadi simbol kedewaan dan kekuatan spiritual.

Letak banua tongkonan tertua umumnya berada di ujung barat atau arah matahari tenggelam. Diikuti banua tingkonan berikutnya secara berturut-turut ke arah timur atau arah matahari terbit.

Atap Berbentuk Perahu

Atap banua tongkonan berbentuk melengkung seperti perahu dengan kedua ujung atap menjulang. Secara teknis, bentuk ini menciptakan ruang atap yang luas sekaligus menegaskan identitas visual yang unik.

Selain itu, bentuk atap yang menyerupai perahu dipercaya berkaitan dengan kisah leluhur masyarakat Toraja yang diyakini datang dari arah utara melalui lautan.

Karena itu, bentuk perahu pada atap Tongkonan tidak hanya berfungsi sebagai ciri arsitektur, tetapi juga simbol memori kolektif yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Tanduk Kerbau di Tiang Utama

Pada bagian fasad depan rumah Tongkonan biasanya terlihat deretan tanduk kerbau yang disusun vertikal di tiang utama atau di dekat beranda. Tumpukan tanduk ini bukan sekadar hiasan, melainkan “arsip” hidup dari setiap upacara adat yang pernah dilaksanakan.

Semakin banyak tanduk yang tersusun, semakin tinggi pula status sosial serta kapasitas ritual keluarga pemilik rumah. Dengan kata lain, deretan tanduk kerbau tersebut menjadi simbol prestise, kekayaan, sekaligus bukti keterlibatan keluarga dalam menjalankan tradisi adat Toraja.

Berpasangan dengan Alang Sura

Tongkonan merupakan satu kesatuan bangunan yang terdiri atas banua sura’ (rumah utama yang diukir) dan alang sura’ (lumbung padi yang diukir). Kedua bangunan ini dipandang sebagai pasangan suami-istri yang tidak bisa dipisahkan.

Dikutip dari buku Hak Penguasaan dan Kepemilikan atas Tanah Adat Tongkonan susunan Sri Susyanti, secara simbolik, banua diibaratkan sebagai seorang ibu yang melindungi anak-anaknya. Sedangkan alang melambangkan seorang ayah yang berperan sebagai tulang punggung keluarga. Keduanya menjadi representasi orang tua yang menjaga keberlangsungan hidup keturunannya.

Penempatan banua dan alang yang saling berhadapan bukan hanya membentuk komposisi ruang kampung yang khas, tetapi juga merepresentasikan sirkulasi pangan, kesejahteraan, serta kesinambungan hidup masyarakat Toraja.

Ukiran pada Dinding Rumah Toraja

Tongkonan yang terbuat dari kayu khas Sulawesi dipenuhi dengan hiasan ukiran (passura). Banyak sekali motif ukiran yang dibuat oleh suku Toraja.

Setiap ukiran pada rumah adat Toraja mengandung makna khusus yang sangat erat dengan kehidupan masyarakatnya. Mengutip buku Passura’ Tongkonan & Etos Kerja Masyarakat Toraja susunan Efendi, berikut beberapa jenis ukiran (Passura’):

1. Ukiran Pa’ Barre Allo

Ukiran ini berbentuk bulatan yang menyerupai matahari. Motifnya banyak ditemukan pada bagian depan maupun belakang rumah adat Toraja, terutama di area segitiga atas yang disebut para longa.

2. Ukiran Pa’ Tedong

Motif ini menggambarkan kepala kerbau, hewan yang sangat penting dalam budaya Toraja. Ukiran Pa’ Tedong menjadi simbol kemakmuran dan kerja keras.

3. Ukiran Pa’ Manuk Londong

Ukiran ini menampilkan bentuk ayam jago, yang dipandang sebagai simbol keadilan. Ayam jago melambangkan norma dan aturan ilahi yang menjadi dasar dalam mengatur kehidupan manusia, sekaligus mencerminkan sistem peradilan dalam masyarakat Toraja.

4. Ukiran Pa’ Sussu

Motif garis-garis lurus pada ukiran ini melambangkan ikatan kerabat, persatuan, dan kesatuan keluarga. Biasanya, Pa’ Sussu diletakkan pada bagian dinding atas untuk menghiasi ruangan sekaligus memperkuat makna kekeluargaan dalam rumah adat.

Baca Juga: Ciri-Ciri Ornamen Batak di Artefak Kuno, Ini Motif dan Maknanya