Konten dari Pengguna

Ciri-Ciri Kerajaan Islam Pertama di Indonesia: Kesultanan Perlak

Hendro Ari Gunawan

Hendro Ari Gunawan

Penulis yang percaya setiap kata punya kekuatan. Spesialis di bidang teknologi, personal finance, dan otomotif.

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Hendro Ari Gunawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Kerajaan Perlak. Foto: livyah08/Shutterstock.
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Kerajaan Perlak. Foto: livyah08/Shutterstock.

Sejarah Indonesia mencatat banyak kerajaan bercorak Islam yang berkembang di Nusantara, namun tak banyak yang mengetahui bahwa Kesultanan Peureulak atau Perlak adalah kerajaan Islam pertama yang ada di Indonesia. Meskipun keberadaannya kerap terlupakan, Peureulak memiliki peninggalan berharga yang menjadi bukti kejayaannya. Berikut beberapa karakteristik kerajaan Perlak berdasarkan informasi dari laman Inspektorat Jenderal Kemendikdasmen.

Latar Belakang Kesultanan Perlak

Kesultanan Perlak didirikan pada abad ke-9 dengan ibu kota di Peureulak, Aceh Timur. Pemerintahan kesultanan berbentuk monarki, dipimpin oleh sejumlah sultan yang berperan penting dalam sejarah dan penyebaran Islam di wilayah tersebut.

Beberapa raja terkenal Kesultanan Perlak antara lain:

  • Sultan Alaiddin Sayid Maulana Abdul Azis Syah (840 - 864 M) adalah pendiri Kesultanan Perlak. Ia mengubah nama ibu kota dari Bandar Perlak menjadi Bandar Khalifah, dan menandai awal berdirinya pemerintahan Islam di wilayah tersebut.

  • Sultan Alaiddin Sayid Maulana Ali Mughayat Syah (915 - 918 M): Masa pemerintahannya ditandai dengan perebutan kekuasaan yang akhirnya dimenangkan pihak Sunni, sehingga Dinasti Sayid berakhir dan lahirlah Dinasti Johan Berdaulat sebagai penguasa baru Kesultanan Perlak.

  • Sultan Makhdum Alaiddin Abdul Malik Johan Berdaulat (956 – 983 M): Menghadapi pergolakan antara aliran Syiah dan Sunni selama empat tahun. Konflik ini akhirnya diakhiri dengan Perjanjian Alue Meuh, yang membagi kerajaan menjadi dua, yaitu Perlak Baroh di pesisir tetap di bawah Dinasti Sayid (Syiah), sementara Perlak Tunong di pedalaman dikuasai Dinasti Johan Berdaulat (Sunni).

  • Sultan Makhdum Alaiddin Malik Muhammad Amin II (1230 - 1267 M): Memimpin pada puncak kejayaan Kerajaan Perlak. Di bawah pemerintahannya, kerajaan mengalami kemajuan pesat, terutama dalam pendidikan Islam dan perluasan dakwah.

Pusat Perdagangan dan Pengaruh Islam

Peureulak dikenal sebagai wilayah kaya kayu perlak, bahan yang sangat berharga untuk pembangunan kapal. Keunggulan ini menjadikan daerah ini sebagai pelabuhan niaga utama pada abad ke-8.

Beberapa ciri khas perdagangan dan pengaruh Islam di Peureulak antara lain:

  • Pelabuhan yang ramai disinggahi pedagang dari Arab dan Persia.

  • Pertukaran budaya dan perdagangan yang mendorong penyebaran Islam.

  • Pernikahan campur antara pedagang Muslim dan penduduk lokal sebagai media penyebaran agama.

  • Dengan posisi strategisnya, Kesultanan Peureulak mampu menjadi jembatan antara perdagangan internasional dan masuknya Islam ke Nusantara.

Geografi Strategis Kesultanan Perlak

Posisi Peureulak di Selat Malaka membuatnya sangat strategis dalam jalur perdagangan Nusantara. Sebelum munculnya Kesultanan Malaka, jalur perdagangan melewati pantai barat Sumatra, dengan kota pelabuhan utama di muara Sungai Batanghari, Jambi. Geografi ini memungkinkan:

  • Akses mudah bagi pedagang asing masuk ke Sumatera Utara.

  • Penyebaran ajaran Islam melalui interaksi perdagangan dan sosial.

  • Pertumbuhan ekonomi pesat karena perdagangan lada dan kayu perlak.

  • Kombinasi letak strategis dan kekayaan alam menjadikan Peureulak sebagai pusat perdagangan yang maju.

Bukti Peninggalan Sejarah

Beberapa peninggalan Kesultanan Peureulak masih bisa ditemukan dan menjadi bukti eksistensinya. Berikut di antaranya:

  • Mata uang Peureulak: Terdapat tiga jenis mata uang yaitu dirham (emas), kupang, dan kuningan. Dirham bertuliskan “Sulthan” dan “Al Ala”, sedangkan kupang memuat tulisan “Syah Alam Barisyah” dan “Dhuribat Musyid Am”.

  • Makam Raja Benoa: Terletak di pinggir sungai Trenggulon dengan batu nisan berhuruf Arab.

  • Stempel Kerajaan: Stempel bertuliskan “al watsiq billah”, menjadi ciri khas yang membedakan Peureulak dari kerajaan Islam lain pada masa itu.

Baca Juga: 4 Cara Mengenali Peninggalan Kerajaan Sriwijaya yang Ada Sejak Abad ke-7