Konten dari Pengguna

Ciri-Ciri Peninggalan Arsitektur Portugis di Flores Dilihat dari Contohnya

Hendro Ari Gunawan

Hendro Ari Gunawan

Penulis yang percaya setiap kata punya kekuatan. Spesialis di bidang teknologi, personal finance, dan otomotif.

ยทwaktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Hendro Ari Gunawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Benteng. Foto: Anggoro Anwar/Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Benteng. Foto: Anggoro Anwar/Shutterstock

Selama Portugis menjajah Nusantara, ada banyak budaya serta nilai-nilai yang mereka bawa dan akhirnya diadopsi oleh pribumi pada waktu itu. Salah satunya adalah arsitektur atau gaya bangunan yang sampai sekarang masih bisa dilihat di sejumlah wilayah, salah satunya Flores, Nusa Tenggara Timur.

Merujuk buku Sejarah Nasional Indonesia Jilid 4: Kemunculan Penjajahan di Indonesia susunan Marwati Djoened dkk, Portugis tiba di Nusantara pada awal abad ke-16. Orang Portugis pertama yang sampai di NTT adalah para rohaniawan dari Ordo Dominikan, kemudian mereka mendirikan sebuah benteng di pulau Solor.

Setiap bangunan yang didirikan Portugis memiliki ciri khas tersendiri. Ciri-ciri peninggalan arsitektur Portugis di Flores bisa dilihat dari contoh bangunannya. Berikut contoh bangunan beserta cirinya:

1. Gereja Santo Ignatius Loyola

Gereja Santo Ignatius Loyola berada di Kabupaten Sikka, Pulau Flores. Masyarakat setempat lebih mengenalnya sebagai Gereja Tua Sikka.

Dikutip dari laman resmi Portal Informasi Indonesia, Gereja Tua Sikka dibangun oleh pastor berkebangsaan Portugis bernama JF Engbers D'armanddaville pada 1893. Ia dibantu oleh Raja Sikka Joseph Mbako Ximenes da Silva.

Arsitektur bangunan ini merupakan hasil rancangan Pastor Antonius Dijkmans, seorang arsitek yang juga ikut mendesain Gereja Katedral Jakarta. Ciri bangunannya mengikuti gaya Renaisans dan Barok yang berkembang di Eropa saat itu.

Meski begitu, tetap terdapat unsur budaya lokal pada banguannya. Salah satunya menggunakan material kayu jati untuk menahan atap bangunan, serta sebagai tiang penyangga bangunan.

Kayu jati tersebut didatangkan langsung dari hutan-hutan Pulau Jawa, menggunakan kapal besar menuju Maumere. Selain itu, gereja ini juga menggunakan semen dan besi yang dibawa dari luar Maumere.

Dari tampak depan, Gereja Tua Sikka memiliki dua susun kerucut. Di atap bangunannya, terdapat menara lonceng abu-abu setinggi 15 meter. Atapnya berbentuk kerucut dan dilengkapi salib di puncaknya.

Di kiri dan kanan pintu masuk terdapat jendela berkaca patri yang tertutup rapat. Sementara di pintu masuk itu pula terdapat dua patung setinggi 1,5 meter, yaitu patung Santo Ignatius Loyola dan Santo Yosef.

2. Benteng Lohayong

Merujuk buku Kajian Benteng Lohayong susunan I Gusti Ayu Agung Sumarheni dkk, Benteng Lohayong dibangun oleh Pater Antonio da Crus. Letaknya sekitar 20 meter dari bibir pantai di ujung barat Desa Lohayong, Flores Timur.

Kehadiran benteng ini menjadi saksi sejarah penjajahan bangsa Portugis di daratan Flores Timur. Di dalam benteng terdapat banyak bangunan lain, meriam serta lubang tanam.

Adapun bangunan-bangunan lain yang terdapat di dalam Benteng Lohayong adalah Lawa Guna, Kakering Kaja Bunga, Bale Baga Likun Tapa dan mushola (langgar).

Baca Juga: Ciri-Ciri Arsitektur Pura Bali Kuno yang Indah dan Penuh Makna