Ciri-Ciri Seni Ukir Jepara dari Masa Ratu Kalinyamat

Penulis yang percaya setiap kata punya kekuatan. Spesialis di bidang teknologi, personal finance, dan otomotif.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Hendro Ari Gunawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Seni ukir Jepara mulai berkembang pesat pada masa pemerintahan Ratu Kalinyamat pada abad ke-16. Pada masa ini, seni ukir tidak hanya berfungsi sebagai hiasan, tetapi juga sebagai simbol kekuasaan, keagamaan, dan budaya. Bangunan-bangunan di masa Ratu Kalinyamat banyak yang dihiasi ukiran kayu dan batu dengan motif halus yang mencerminkan perpaduan budaya lokal dan pengaruh asing. Artikel ini akan menguraikan informasi mengenai ciri-ciri seni ukir Jepara dari masa Ratu Kalinyamat lebih lanjut.
Daftar isi
Daftar isi

Daftar isi
Pengaruh Sungging Badarduwung pada Ukiran Kerajaan
Merujuk buku Pertemuan antara Hindu, Cina, dan Islam pada ornamen Masjid dan Makam Mantingan, Jepara oleh Muh. Fakhrihun Na'am, perkembangan seni ukir Jepara tidak lepas dari peran Patih Sungging Badarduwung, seorang seniman dari Campa.
Ia bahkan memperkenalkan teknik krawangan, yaitu teknik ukir tembus pandang yang menghasilkan kesan ringan dan artistik. Ukiran Masjid Mantingan menjadi contoh nyata dari teknik ini.
Portal Budaya Kita menyebutkan bahwa motif ukiran yang sering digunakan Sungging Badarduwung meliputi daun trubusan, jumbai, serta tangkai relung yang berpilin. Motif-motif tersebut melambangkan kesuburan, pertumbuhan, dan kemakmuran.
Motif Flora sebagai Ciri Khas Utama
Motif flora menjadi ciri paling menonjol dalam seni ukir Jepara pada masa Ratu Kalinyamat. Pengrajin mengolah bentuk tumbuhan sekitar menjadi motif bunga pecahan dan lung-lungan yang telah disederhanakan.
Oleh karena itu, dikutip dari Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, daun lebar dengan ujung lancip serta tangkai kecil memanjang menjadi identitas visual yang membedakan ukiran Jepara dari ukiran daerah Jawa Tengah lain yang cenderung geometris.
Ukiran di Masjid Mantingan pun memuat simbol pohon hayat, burung phoenix, dan burung merak. Simbol-simbol ini dimaknai sebagai lambang keabadian, kekuatan, serta kekuasaan Ratu Kalinyamat sebagai pemimpin perempuan.
Teknik Krawangan dan Relief Tinggi
Teknik krawangan digunakan pada dinding dan ventilasi masjid sehingga cahaya dapat menembus ukiran. Dalam jurnal ISI Yogyakarta bertajuk Estetik Expressions of Jepara Carving karya Muhajirin dijelaskan bahwa relief tinggi pada pintu dan jendela menciptakan bayangan dinamis ketika terkena sinar matahari. Adapun penggunaan kayu jati dipilih karena kuat, awet, dan mudah dipahat tanpa retak meski memiliki detail rumit.
Akulturasi Budaya dalam Ukiran Mantingan
Seni ukir Jepara saat ini berkembang dari percampuran berbagai budaya, yaitu Hindu-Buddha, Islam, dan Cina. Hal ini dijelaskan dalam buku Pertemuan antara Hindu, Cina, dan Islam pada Ornamen Masjid dan Makam Mantingan, Jepara karya Muh. Fakhrihun Na’am.
Dalam buku tersebut disebutkan bahwa kaligrafi Arab sering dipadukan dengan motif tumbuhan khas Jepara. Perpaduan ini bukan sekadar hiasan, tetapi juga menjadi simbol sikap saling menghormati dan toleransi antarumat beragama yang telah tumbuh sejak masa lalu.
Adapun pengaruh budaya Campa dapat dilihat pada motif lung bimo kurdo dan kembang setaman yang disusun secara simetris. Motif-motif ini memperkaya ragam hias ukiran Jepara dan menunjukkan adanya interaksi budaya dari luar Nusantara.
Dukungan besar dari Ratu Kalinyamat terhadap para pengrajin juga menjadi faktor penting yang memperkuat perkembangan seni ukir Jepara, sehingga warisan budaya ini terus bertahan dan berkembang hingga generasi berikutnya.
Baca juga: Sejarah Radio Indonesia dari Masa Penjajahan hingga Era Digital
(NDA)
