Sejarah Radio Indonesia dari Masa Penjajahan hingga Era Digital

Penulis yang percaya setiap kata punya kekuatan. Spesialis di bidang teknologi, personal finance, dan otomotif.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Hendro Ari Gunawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sejarah radio di Indonesia tidak bisa dilepaskan dari perjalanan panjang bangsa ini, mulai dari masa penjajahan hingga era digital. Radio menjadi salah satu media komunikasi paling berpengaruh karena mampu menjangkau masyarakat luas, bahkan ketika kondisi negara belum stabil. Perkembangannya mencerminkan perubahan sosial, politik, dan teknologi yang dialami Indonesia dari masa ke masa. Artikel ini akan menguraikan secara lengkap tentang sejarah radio di Indonesia selengkapnya.
Daftar isi
Daftar isi

Daftar isi
Awal Siaran Radio di Hindia Belanda
Radio pertama kali hadir di Indonesia pada masa Hindia Belanda. Siaran radio saat itu masih sangat terbatas dan hanya bisa dinikmati oleh kalangan tertentu, terutama orang Belanda dan pribumi dari keluarga kaya.
Stasiun radio pertama yang tercatat adalah Bataviase Radio Vereniging (BRV) yang mulai mengudara pada 16 Juni 1925 di Batavia. Siaran BRV menggunakan bahasa Belanda dan berfungsi sebagai hiburan serta penyampai informasi bagi komunitas Eropa.
Menurut buku Penyiaran Publik di Era Digital: Etika Praktik Jurnalistik karya Nadhiya Puri Lanatha, dkk., BRV berkembang dari klub radio amatir menjadi stasiun penyiaran yang lebih terorganisir. Selain siaran lokal, BRV juga memiliki saluran nasional yang menjangkau wilayah Jawa dan Sumatra melalui jaringan telepon khusus. Pada periode ini, radio masih menjadi simbol kemewahan karena harga perangkat radio yang mahal.
Dominasi NIROM dan Kontrol Kolonial
Pada tahun 1934, pemerintah kolonial Belanda mendirikan NIROM (Nederlandsch-Indische Radio Omroep Maatschappij). Berdasarkan catatan Arsip Nasional Republik Indonesia dalam Sejarah Nusantara, NIROM membangun pemancar besar di Bandung, Surabaya, dan Medan. Tujuan utama NIROM adalah mengontrol arus informasi dan menyebarkan propaganda kolonial.
Direktorat Jenderal Penyiaran melalui KPI.go.id mencatat bahwa NIROM mendapatkan pendanaan dari pajak radio atau luisterbijdrage. Sistem ini membuat radio hanya bisa dinikmati oleh masyarakat yang mampu membayar, sehingga sebagian besar pribumi miskin tidak memiliki akses. Isi siaran NIROM pun lebih banyak memuat berita dan budaya Eropa, bukan kepentingan rakyat Indonesia.
Kedudukan Jepang Terhadap Radio Pribumi
Ketika Jepang menduduki Indonesia pada 1942, seluruh stasiun radio milik Belanda ditutup, termasuk NIROM. Jepang kemudian menggantinya dengan radio bernama Hoso Kan Kyoku. Radio ini digunakan sebagai alat propaganda untuk menyebarkan semangat Asia Raya dan mendukung kepentingan perang Jepang.
Namun, masa pendudukan Jepang justru menjadi titik penting bagi pemuda Indonesia. Kemendikdasmen mencatat bahwa para pemuda mulai mempelajari teknik siaran radio. Mereka kemudian merebut stasiun radio untuk menyebarkan informasi kemerdekaan dan mencegah kembalinya kekuasaan asing.
RRI dan Peran Radio di Revolusi Kemerdekaan
Puncak sejarah radio Indonesia terjadi pada 11 September 1945 dengan berdirinya Radio Republik Indonesia (RRI). RRI lahir di Jakarta dengan mengambil alih studio bekas NIROM. Siaran pertamanya menyampaikan pesan “Indonesia Merdeka!” yang menjadi penanda penting lahirnya penyiaran nasional.
Buku Penyiaran Publik di Era Digital: Etika Praktik Jurnalistik karya Nadhiya Puri Lanatha, dkk menjelaskan bahwa RRI menjadi alat perjuangan selama revolusi kemerdekaan. Radio ini menyiarkan pidato tokoh nasional seperti Bung Tomo, laporan pertempuran, serta lagu “Indonesia Raya” hingga tahun 1949.
Melalui situs resmi Museum Penerangan, Kementerian Komunikasi dan Informatika memberitahukan bahwa RRI berhasil menyelamatkan arsip dan peralatan siaran peninggalan NIROM.
Perkembangan Radio Pasca-Kemerdekaan
Setelah Indonesia merdeka, RRI terus berkembang. Pada tahun 1960-an, jaringan pemancar RRI telah menjangkau hampir seluruh provinsi di Indonesia.
Radio digunakan sebagai media pendidikan, informasi pembangunan, dan pemersatu bangsa. KPI.go.id mencatat bahwa pada masa Orde Baru, RRI menjadi penyiaran publik utama sebelum munculnya radio swasta pada 1990-an.
Memasuki era digital, radio mengalami perubahan besar. Siaran tidak hanya melalui gelombang udara, tetapi juga lewat streaming dan aplikasi digital.
Meski begitu, suara RRI tetap memiliki tempat khusus di hati masyarakat. Hingga kini, tanggal 11 September diperingati sebagai Hari Radio Nasional, menandai peran penting radio dalam sejarah Indonesia.
Baca juga: Peran Radio dalam Perkembangan Teknologi dan Kebiasaan Generasi Milenial
(NDA)
