Ciri-Ciri Tradisi Sasi Laut Maluku dari Sisi Sejarah

Penulis yang percaya setiap kata punya kekuatan. Spesialis di bidang teknologi, personal finance, dan otomotif.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Hendro Ari Gunawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Tradisi Sasi adalah warisan budaya Maluku yang melarang sementara pengambilan hasil alam, baik darat maupun laut. Sejak dahulu, masyarakat Maluku hingga Papua menerapkan tradisi ini untuk menjaga kelestarian sumber daya alam. Mari simak ciri-ciri Tradisi Sasi Laut sebagaimana dijelaskan dalam jurnal Makna Komunikasi Simbolik Hukum Adat Sasi dalam Pelestarian Alam Laut di Kabupaten Maluku Tenggara oleh Casparina Yulita Warawarin.
Sasi Sebagai Peraturan Adat yang Mengikat
Maluku terus melestarikan tradisi yang telah ada sejak abad ke-16, yaitu Sasi. Tradisi ini berupa larangan sementara untuk memetik buah, memanen hasil pertanian, atau menangkap ikan di laut.
Sasi bukan sekadar aturan verbal, tetapi juga memiliki dasar hukum adat tertulis dan tidak tertulis yang dikenal sebagai Hawear Balwirin. Hukum ini termuat dalam Pasal 7 Larwul Ngabal, hukum adat tertinggi di Kei, Maluku Tenggara, yang menekankan penghormatan terhadap hak milik orang lain.
Hubungan Tradisi Sasi dengan Lingkungan Laut
Sasi menunjukkan hubungan erat antara masyarakat dan ekologi lokal. Tradisi ini juga mengatur cara masyarakat dalam memperlakukan alam, mulai dari pengelolaan hutan, perlindungan sumber air, hingga pengelolaan biota laut.
Larangan yang diberlakukan melalui Sasi tidak hanya menjaga kelestarian lingkungan, tetapi juga menumbuhkan kesadaran sosial terhadap hak dan kewajiban dalam komunitas.
Tahapan Upacara Tutup dan Buka Sasi Laut
Berikut tahapan penting dalam upacara tutup dan buka Sasi, yang mencakup persiapan bahan, pemasangan simbol, hingga ritual doa.
1. Upacara Tutup Sasi
Upacara tutup Sasi Laut diawali dengan rapat adat di desa, misalnya Maur Ohoiwut, Nerong, Ohoirenan, dan Yamtel. Rapat dilakukan untuk menentukan tanggal pemasangan Sasi, lama larangan mengambil hasil laut, dan sanksi bagi pelanggar.
Selain itu, tuan tanah atau kepala marga juga menyiapkan daun kelapa muda (janur) sebagai tanda larangan, bahan persembahan seperti sirih, pinang, tembakau, dan uang koin, serta kamdada, anyaman daun kelapa untuk meletakkan persembahan.
2. Upacara Buka Sasi
Setelah masa Sasi selesai, dilakukan buka Sasi. Hasil laut seperti lola dicek ukurannya, jika belum cukup besar, maka akan dikembalikan ke laut. Buka Sasi biasanya dilakukan saat Bameti atau kondisi air tenang dan surut.
Dewan adat menentukan jadwal, kemudian petugas khusus memberitahukan warga. Ritual diawali dengan doa bersama agar proses penyelaman berjalan lancar. Setelah upacara selesai, tradisi Sasi tetap dijaga, dan jika populasi biota laut menurun, dewan adat akan menetapkan Sasi berikutnya.
Simbol dan Ritual dalam Pemasangan Sasi
Setiap simbol dalam pemasangan Sasi Laut memuat makna filosofis dan nilai sosial yang mendalam. Berikut di antaranya:
Daun kelapa putih (janur): Menandai larangan untuk mengambil sesuatu yang menjadi milik orang lain, baik barang maupun sumber daya alam.
Arah daun kelapa: Harus menghadap ke utara untuk melambangkan kesejukan layaknya air agar proses pemasangan dan buka Sasi berjalan lancar.
Jumlah cabang daun kelapa: Menentukan sanksi bagi pelanggar Sasi. Pelanggar harus membayar lela, uang, dan mas sesuai jumlah cabang.
Tali War Ean: Mengikat daun kelapa pada kayu Ay Num, sebagai simbol ikatan larangan yang tidak boleh dilepas sembarangan.
Mas Adat / Mas Tiga Tahil (mas tahil tel): Simbol memohon izin kepada Tuhan dan leluhur agar ritual Sasi berjalan lancar, sekaligus membiasakan meminta izin sebelum mengambil sesuatu.
Batu: Menyimbolkan bahwa tidak boleh mengambil atau memindahkan barang milik orang lain.
Bahan persembahan (sirih, pinang, tembakau, uang koin): Melatih kebiasaan memberikan persembahan dan doa kepada Tuhan dan leluhur.
Kamdada (wadah persembahan): Menunjukkan penghormatan terhadap orang lain saat memberikan sesuatu, karena semua harus menggunakan wadahnya.
Baca Juga: Ciri-Ciri Ornamen Batak di Artefak Kuno, Ini Motif dan Maknanya
