Ciri-Ciri Udara Lembab di Dalam Rumah dan Cara Mengatasinya

Penulis yang percaya setiap kata punya kekuatan. Spesialis di bidang teknologi, personal finance, dan otomotif.
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Hendro Ari Gunawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Udara di dalam rumah memengaruhi kenyamanan dan kesehatan penghuninya. Salah satu kondisi yang sering terjadi, terutama di daerah tropis seperti Indonesia, adalah udara lembab di dalam rumah. Kelembapan yang terlalu tinggi dapat menyebabkan berbagai masalah, mulai dari tumbuhnya jamur hingga kerusakan perabot. Artikel ini akan menjabarkan ciri-ciri udara lembab di dalam rumah agar Anda bisa segera mengambil langkah pencegahan yang tepat.
1. Dinding atau Plafon Terlihat Lembap dan Berjamur
Salah satu tanda paling umum dari udara lembab adalah munculnya noda hitam atau bercak jamur pada dinding dan plafon. Permukaan terasa basah atau lengket saat disentuh.
Kondisi ini disebabkan oleh kondensasi, yaitu proses perubahan uap air menjadi titik-titik air di permukaan dingin. Menurut Environmental Protection Agency (EPA), jamur bisa tumbuh dalam waktu kurang dari 48 jam pada area yang lembap dan minim ventilasi.
2. Bau Apek atau Tidak Sedap di Dalam Ruangan
Jika rumah sering terasa pengap meski sudah dibersihkan, bisa jadi penyebabnya adalah kelembapan udara tinggi. Bau apek ini muncul karena adanya mikroorganisme seperti jamur dan bakteri yang berkembang di lingkungan lembab. Bau tersebut biasanya paling terasa di area tertutup seperti kamar mandi, gudang, atau lemari pakaian.
Menurut Healthline, paparan jangka panjang terhadap udara lembab dan berjamur bisa memicu alergi, batuk, serta gangguan pernapasan pada anak-anak maupun orang dewasa.
3. Perabot Kayu atau Kertas Cepat Rusak
Perhatikan kondisi perabotan kayu, buku, atau kertas di rumah. Jika permukaannya melengkung, lembek, atau berjamur, hal itu menunjukkan bahwa udara di dalam rumah terlalu lembab.
Kelembapan tinggi menyebabkan bahan organik seperti kayu dan kertas menyerap uap air berlebih dari udara. Akibatnya, struktur menjadi rapuh dan mudah rusak.
Merujuk Wood Handbook dari U.S. Department of Agriculture (USDA), kadar kelembapan kayu idealnya berada di antara 6–8%. Jika lebih dari itu, risiko jamur dan pembusukan akan meningkat secara signifikan.
4. Kaca Jendela atau Cermin Berembun
Ciri khas lain dari udara lembab di rumah adalah embun di kaca atau cermin, terutama saat pagi hari. Fenomena ini terjadi karena perbedaan suhu antara udara dalam ruangan yang hangat dan permukaan kaca yang dingin. Kondensasi ini menunjukkan bahwa kelembapan relatif (RH) di dalam rumah sudah melebihi 60%.
Berdasarkan informasi dari ASHRAE (American Society of Heating, Refrigerating and Air-Conditioning Engineers), kelembapan ideal di dalam rumah sebaiknya berkisar antara 40–50% agar tetap sehat dan nyaman bagi penghuni.
5. Pakaian dan Seprai Sulit Kering atau Berbau Apek
Jika pakaian yang baru dicuci tidak kunjung kering meskipun sudah dijemur di dalam rumah, itu bisa menjadi tanda udara terlalu lembab. Selain itu, pakaian dan seprai yang disimpan lama juga bisa berbau apek. Kelembapan yang tinggi membuat air sulit menguap dan menjadi tempat berkembangnya jamur serta bakteri penyebab bau.
Sebuah laporan dari Journal of Environmental Health Perspectives menyebutkan bahwa udara lembab dengan sirkulasi buruk menjadi salah satu faktor utama pertumbuhan jamur Aspergillus yang bisa menyebabkan infeksi saluran napas pada manusia.
6. Tubuh Terasa Gerah dan Tidak Nyaman
Udara lembab membuat keringat sulit menguap dari kulit, sehingga tubuh terasa lebih panas dan lengket. Meski suhu ruangan tidak tinggi, kelembapan yang berlebih dapat menurunkan tingkat kenyamanan termal. Inilah sebabnya mengapa di daerah tropis, orang cenderung merasa gerah meskipun berada di dalam ruangan ber-AC yang lembab.
Menurut penelitian dari World Health Organization (WHO), tingkat kelembapan dalam ruangan yang terlalu tinggi dapat menimbulkan ketidaknyamanan, menurunkan kualitas tidur, dan bahkan memperburuk kondisi penderita asma.
7. Cara Mengatasi Udara Lembab di Dalam Rumah
Setelah mengenali ciri-cirinya, langkah selanjutnya adalah menjaga kelembapan agar tetap ideal. Berikut beberapa cara yang direkomendasikan oleh Energy Star:
Perbanyak ventilasi alami, seperti membuka jendela setiap pagi.
Gunakan dehumidifier untuk menyerap kelembapan berlebih.
Pasang exhaust fan di kamar mandi dan dapur.
Perbaiki kebocoran pada pipa, atap, atau dinding yang bisa menjadi sumber kelembapan.
Gunakan bahan penyerap lembap alami, seperti arang aktif atau silica gel.
Baca juga: 8 Tips Mengurangi Debu di Area Perkotaan agar Tetap Bersih, Sehat, dan Nyaman
(NDA)
