Ciri-Ciri Udara Lembap Sebelum Hujan Turun yang Bisa Dikenali

Penulis yang percaya setiap kata punya kekuatan. Spesialis di bidang teknologi, personal finance, dan otomotif.
ยทwaktu baca 3 menit
Tulisan dari Hendro Ari Gunawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Hujan secara alami meningkatkan kelembapan udara di sekitarnya. Udara yang terasa semakin lembap sering kali menjadi tanda bahwa cuaca akan segera berubah. Ciri-ciri udara lembap sebelum hujan turun dapat dikenali melalui berbagai gejala khas, mulai dari perubahan suhu hingga kondisi alam di sekitar. Uraian pada sajian informasi berikut akan menjelaskan tanda-tanda tersebut agar bisa memperkirakan datangnya hujan dengan lebih mudah.
Daftar isi
Daftar isi

Daftar isi
1. Udara Terasa Lebih Hangat
Menjelang hujan, kelembapan udara meningkat karena udara menyerap lebih banyak uap air. Berdasarkan penjelasan dari laman Hydrologic Engineering Center, kondisi ini biasanya disertai kenaikan suhu. Udara yang hangat dapat menampung lebih banyak uap air dibanding udara dingin karena energi panas membuat proses penguapan berjalan lebih cepat. Ketika udara hangat yang lembap itu akhirnya didinginkan hingga melewati batas jenuhnya, kelebihan uap air akan jatuh sebagai hujan.
3. Tekanan Udara Menurun
Tekanan udara yang menurun dengan cepat merupakan salah satu pertanda hujan akan segera turun. Sistem tekanan rendah umumnya ditandai dengan udara yang bergerak naik. Ketika udara naik, ia akan mengembang, lalu mendingin. Pendinginan inilah yang memaksa memaksa uap air berubah menjadi tetesan hujan. Menurut laman OpenWeather for Business, perubahan tekanan ini sering membuat tubuh merasakan beberapa gejala, seperti:
Telinga sedikit tersumbat.
Sakit kepala atau migrain.
Nafas terasa agak pendek, terutama bagi penderita asma atau masalah pernapasan.
Tubuh terasa lebih cepat lelah atau lesu akibat kelembapan tinggi.
3. Permukaan Kulit Terasa Lengket
Mengutip laman Met Office, pada periode suhu tinggi, udara dengan kelembapan tinggi akan terasa sangat tidak nyaman karena udara jenuh tidak mampu menampung lebih banyak uap air. Akibatnya, proses penguapan keringat menjadi terhambat. Panas tubuh tidak keluar dengan optimal sehingga kulit terasa lengket dan gerah meski tidak sedang beraktivitas berat.
4. Kabut Tipis Muncul di Permukaan Tanah atau Area Dingin
Kabut tipis dapat muncul ketika udara lembap bersentuhan dengan permukaan yang lebih dingin. Fenomena ini biasanya terjadi saat kelembapan mendekati titik jenuh sehingga kondensasi terjadi lebih cepat. Namun, menurut National Weather Service, untuk terjadinya hujan, udara tidak cukup hanya mencapai kelembapan tinggi. Udara harus naik dengan kecepatan tertentu agar kondensasi berubah menjadi tetesan air cair sebagai presipitasi.
5. Awan Semakin Menebal dan Berwarna Gelap
Salah satu tanda paling terlihat ketika udara mulai lembap sebelum hujan adalah perubahan pada awan. Saat uap air naik ke atmosfer dan menumpuk, awan menjadi lebih tebal. Mengutip laman Live Science, awan seperti ini biasanya tampak gelap karena bagian bawahnya berisi tetesan air atau kristal es yang cukup banyak sehingga sinar matahari tidak bisa dihamburkan ke mata kita.
Baca Juga: 7 Ciri-Ciri Perubahan Iklim di Sekitar Kita yang Bisa Diperhatikan
(SA)
