Konten dari Pengguna

Ciri-Ciri Ukiran Khas Dayak pada Rumah Betang Tua

Hendro Ari Gunawan

Hendro Ari Gunawan

Penulis yang percaya setiap kata punya kekuatan. Spesialis di bidang teknologi, personal finance, dan otomotif.

ยทwaktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Hendro Ari Gunawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi rumah adat dayak. Foto: Pixabay
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi rumah adat dayak. Foto: Pixabay

Rumah Betang adalah rumah adat khas suku Dayak di Kalimantan yang memiliki keunikan tersendiri. Setiap bagian rumah dihiasi ukiran khas yang sarat makna budaya dan spiritual.

Berikut ciri-ciri ukiran Rumah Betang tua yang dikutip dari laman Direktorat Jenderal Kebudayaan dan jurnal Makna Simbolik pada Rumah Betang Toyoi Suku Dayak Ngaju di Kalimantan Tengah karya Marselina Utami Widjaja dan Laksmi K. Wardani.

1. Ukiran Burung Enggang (Tingang)

Burung Enggang atau Tingang menjadi simbol utama dalam budaya Dayak. Burung ini diyakini sebagai perantara antara dunia manusia dan roh, sehingga ukirannya menempati posisi strategis pada tiang-tiang utama rumah adat.

Selain memperindah rumah, ukiran Burung Enggang juga melambangkan perlindungan dan keberuntungan, sekaligus menandai status sosial serta kedalaman spiritual pemilik rumah.

2. Ukiran Naga (Jata)

Motif Naga atau Jata sering menghiasi bagian atas rumah, seperti bubungan atap atau tiang utama. Naga dianggap sebagai makhluk yang kuat dan mampu melindungi rumah serta penghuninya dari gangguan roh jahat.

3. Ukiran Asun Bulan

Ukiran Asun Bulan menampilkan dua sosok manusia yang sedang bersalaman, biasanya ditempatkan di atas ambang pintu. Motif ini mengajarkan nilai keramahan antara tuan rumah terhadap tamu yang datang.

4. Ukiran Tambarirang Maning Singkap Langit

Ukiran ini berbentuk anjing dan melambangkan Tatun Hatuen, makhluk legendaris dalam cerita rakyat Kalimantan Tengah. Biasanya, ukiran ini diletakkan di atas ambang pintu, yang berfungsi menjaga rumah dari gangguan roh jahat. Sehingga, setiap tamu dan penghuni selalu berada di bawah perlindungan leluhur.

5. Ukiran pada Sandung

Sandung adalah struktur kecil yang digunakan untuk menyimpan tulang belulang leluhur setelah prosesi tiwah. Pada sandung, sering ditemukan ukiran dengan motif tangga terbalik (tetat) dan tumpal.

Motif tetat melambangkan banyaknya kepala yang dipenggal dalam ritual ngayau sebagai upaya memberikan kekuatan dan semangat jiwa kepada roh.

Sementara itu, motif tumpal (berbentuk seperti gigi belalang) sering ditemukan pada sandung sebagai simbol dunia bawah sekaligus petunjuk jalan bagi roh menuju lewu tatau (alam roh atau dunia akhirat tempat arwah leluhur kembali).

6. Ukiran pada Sapundu

Ukiran pada sapundu sering menggambarkan sosok manusia atau hewan yang memiliki makna tertentu, seperti keberanian atau kebijaksanaan. Selain itu, sapundu juga menjadi penanda bahwa rumah tersebut memiliki nilai sejarah dan budaya yang tinggi.

7. Ukiran Naga Pasai

Ukiran Naga Pasai menghiasi daun jendela dan pintu, dan menjadi simbol Bawi Jata atau Dewa Penguasa Alam Bawah. Motif ini berperan sebagai pelindung spiritual rumah serta memperkuat nuansa sakral setiap sudut Betang.

8. Ukiran Langit-Langit, Tanaman, dan Manusia

Ukiran di langit-langit bagian dalam rumah menampilkan benda langit, tanaman, dan sosok manusia. Motif tanaman, misalnya, menceritakan asal mula padi, sekaligus menyatukan kehidupan sehari-hari dengan nilai-nilai budaya leluhur.

Baca Juga: Ciri-ciri Arsitektur Rumah Adat Toraja Kuno beserta Keunikannya