Konten dari Pengguna

Contoh Fenomena Atmosfer di Indonesia yang Sering Dijumpai

Hendro Ari Gunawan

Hendro Ari Gunawan

Penulis yang percaya setiap kata punya kekuatan. Spesialis di bidang teknologi, personal finance, dan otomotif.

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Hendro Ari Gunawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi fenomena atmosfer. Foto: Unsplash
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi fenomena atmosfer. Foto: Unsplash

Fenomena atmosfer merupakan berbagai peristiwa yang terjadi di atmosfer dan dapat diamati secara langsung oleh manusia. Kejadian ini bergantung pada banyak faktor seperti radiasi matahari, tekanan udara, suhu, atau angin. Di Indonesia, fenomena atmosfer kerap terjadi dalam berbagai bentuk. Artikel ini akan menguraikan beberapa contoh fenomena atmosfer yang sering dijumpai di Indonesia.

Daftar isi

1. Hujan

Hujan terjadi ketika butiran air di dalam awan berkumpul hingga mencapai ukuran tertentu. Saat awan menjadi terlalu berat, gaya gravitasi menarik butiran air tersebut turun ke permukaan bumi sebagai hujan. Dalam kondisi tertentu, ketika suhu udara sangat rendah dan disertai angin kencang, tetesan air dapat membeku di udara dan jatuh sebagai hujan es (hail).

2. Pelangi

Pelangi terjadi ketika sinar matahari memantul di belakang tetesan air hujan, kemudian mengalami pembiasan dan menghasilkan spektrum warna yang indah. Biasanya, pelangi muncul setelah hujan ketika sinar matahari kembali bersinar.

3. Halo Matahari

Halo adalah cincin cahaya yang tampak mengelilingi matahari di langit. Menurut laman Regional and Mesoscale Meteorology Branch, fenomena ini terjadi karena pembiasan sinar matahari yang melewati kristal es di lapisan atmosfer. Warna kemerahan biasanya terlihat di bagian dalam cincin, sedangkan bagian luarnya tampak putih. Halo yang paling umum memiliki sudut sekitar 22 derajat dari pusat matahari.

4. Awan dan Jenis-jenisnya di Atmosfer

Awan merupakan fenomena atmosfer paling umum yang mudah diamati. Awan terbentuk ketika udara panas naik ke atmosfer, kemudian mendingin dan menyebabkan uap air mengembun menjadi tetesan-tetesan kecil. Menurut laman Meteorologia en Red, terdapat tiga jenis utama awan berdasarkan bentuknya:

  • Awan Cirrus: Berada di ketinggian, tipis, halus, dan berstruktur seperti serat atau bulu. Awan ini selalu berwarna putih dan menandakan cuaca cerah.

  • Awan Kumulus: Berbentuk gumpalan besar seperti kembang kol, dengan dasar datar. Warna awan ini putih cerah di bawah sinar matahari dan bisa tampak abu-abu di bagian bayangan.

  • Awan Stratus: Berbentuk lapisan luas yang menutupi sebagian besar langit. Awan ini berwarna abu-abu merata dan sering kali membawa hujan gerimis atau cuaca mendung.

5. Kabut dan Embun

Kabut terjadi ketika uap air di udara mengembun dekat permukaan tanah, lalu membentuk butiran air yang menggantung di udara. Sementara embun merupakan air hasil kondensasi yang menempel di permukaan benda seperti daun atau rumput. Fenomena ini biasanya muncul pada pagi hari ketika suhu udara menurun drastis di malam hari.

6. Warna Langit

Warna langit yang biru di siang hari atau oranye kemerahan saat matahari terbit dan terbenam merupakan fenomena optik atmosfer. Hal ini terjadi karena hamburan Rayleigh, yaitu proses ketika sinar matahari tersebar oleh molekul-molekul udara.

7. Petir dan Guntur

Petir merupakan pelepasan muatan listrik yang terjadi di atmosfer . Mengutip National Weather Service, saat perbedaan muatan terlalu besar, udara kehilangan kemampuan isolasinya sehingga terjadi pelepasan energi dalam bentuk kilatan cahaya.

Sementara, guntur adalah suara yang dihasilkan oleh petir. Saat petir terjadi, udara di sekitarnya memanas dengan sangat cepat sehingga mengembang secara tiba-tiba. Kondisi ini menciptakan gelombang suara yang menggelegar. Fenomena petir dan guntur sering muncul di Indonesia terutama pada musim hujan, ketika kelembapan dan suhu udara tinggi.

Baca Juga: Cara Terbentuknya Embun di Pagi Hari Melalui Proses Kondensasi

(SA)