Galaksi Bima Sakti Isinya Apa? Mengintip Tempat Tata Surya dan Bumi Berada

Penulis yang percaya setiap kata punya kekuatan. Spesialis di bidang teknologi, personal finance, dan otomotif.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Hendro Ari Gunawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pernahkah kamu menatap langit malam dan melihat gugusan bintang yang tampak seperti pita terang membentang di angkasa? Itulah Galaksi Bima Sakti. Namun, Galaksi Bima Sakti isinya apa? Tidak hanya bintang, galaksi ini juga menyimpan planet, gas, debu kosmik, hingga lubang hitam supermasif di pusatnya. Artikel ini akan mengulas secara mendalam mengenai apa saja yang ada di dalam Galaksi Bima Sakti dan bagaimana para ilmuwan mengetahuinya.
Daftar isi
Daftar isi

Daftar isi
Mengenal Galaksi Bima Sakti
Galaksi Bima Sakti (Milky Way Galaxy) adalah galaksi spiral berbatang (barred spiral galaxy) yang memiliki diameter sekitar 100.000 tahun cahaya. Menurut data dari European Space Agency (ESA) melalui proyek Gaia Mission, galaksi ini berisi lebih dari 200 miliar bintang, dan bahkan bisa mencapai 400 miliar jika bintang redup juga dihitung.
Bima Sakti memiliki bentuk seperti cakram datar dengan tonjolan di tengahnya, menyerupai pusaran air raksasa. Di dalamnya terdapat berbagai sistem bintang, planet, serta fenomena kosmik yang saling berinteraksi membentuk keindahan luar biasa yang bisa kita lihat dari Bumi.
Isi Utama Galaksi Bima Sakti
Menurut NASA Jet Propulsion Laboratory, sekitar 15% massa Bima Sakti terdiri dari bintang dan gas, sementara sisanya didominasi oleh materi gelap (dark matter) yang tidak terlihat namun memiliki pengaruh gravitasi besar.
Sementara itu, jika dilihat secara umum, Galaksi Bima Sakti berisi berbagai macam objek dan materi antar bintang, antara lain:
Bintang dan sistem bintang, termasuk Matahari sebagai bintang induk Tata Surya.
Planet dan satelit alami seperti Bumi, Mars, Jupiter, dan ribuan eksoplanet yang mengorbit bintang lain.
Awan gas dan debu antar bintang (interstellar medium). Campuran hidrogen, helium, dan debu kosmik yang menjadi bahan pembentuk bintang baru.
Lubang hitam dan bintang neutron, sisa-sisa bintang masif yang telah mati.
Lubang hitam supermasif di pusat galaksi, dikenal sebagai Sagittarius A*.
Pusat Galaksi: Rumah Lubang Hitam Supermasif
Di inti Bima Sakti terdapat lubang hitam supermasif bernama Sagittarius A* (dibaca “Sagittarius A-star”). Lubang hitam ini memiliki massa sekitar 4 juta kali massa Matahari dan berjarak sekitar 26.000 tahun cahaya dari Bumi.
Menurut penelitian dari Event Horizon Telescope (EHT) pada tahun 2022, untuk pertama kalinya para ilmuwan berhasil memotret bayangan Sagittarius A*, yang membuktikan keberadaan lubang hitam supermasif di pusat galaksi kita. Lubang hitam ini menjadi “mesin gravitasi” yang mengatur pergerakan bintang dan gas di sekitarnya.
Bintang-Bintang di Bima Sakti
Bintang merupakan penghuni utama Galaksi Bima Sakti. Mulai dari bintang muda yang sedang terbentuk hingga bintang tua yang mendekati akhir hidupnya.
Bintang-bintang ini tersebar di sepanjang lengan spiral galaksi, seperti Lengan Orion, tempat Tata Surya kita berada. Beberapa jenis bintang di Bima Sakti antara lain:
Bintang katai merah (red dwarf), paling banyak ditemukan.
Bintang biru raksasa, sangat panas dan terang, tapi berumur pendek.
Bintang neutron dan pulsar, hasil akhir ledakan supernova.
Menurut Harvard-Smithsonian Center for Astrophysics, sekitar 75% bintang di Bima Sakti adalah bintang katai merah yang ukurannya lebih kecil dari Matahari.
Debu dan Gas Antar Bintang
Selain bintang, Galaksi Bima Sakti dipenuhi oleh awan gas dan debu yang tersebar di antara bintang-bintang. Awan ini disebut nebula dan berperan penting dalam siklus hidup bintang. Ketika gas dan debu berkumpul akibat gravitasi, mereka memicu pembentukan bintang baru.
Contoh nebula terkenal di Bima Sakti adalah Nebula Orion yang berjarak sekitar 1.350 tahun cahaya dari Bumi. Nebula ini sering dijadikan laboratorium alami bagi para astronom untuk mempelajari kelahiran bintang.
Baca juga: 3 Teori Terbentuknya Alam Semesta Menurut Para Ilmuwan
(NDA)
