Jejak Sejarah Ludruk di Jawa Timur dari Masa ke Masa

Penulis yang percaya setiap kata punya kekuatan. Spesialis di bidang teknologi, personal finance, dan otomotif.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Hendro Ari Gunawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ludruk merupakan salah satu drama tradisional khas Jawa Timur. Pertunjukan ini biasanya dipentaskan di atas panggung dengan mengangkat cerita tentang kehidupan sehari-hari masyarakat. Di sela-selanya, disisipkan lawakan menghibur dan diiringi tabuhan gamelan. Ludruk biasanya dibuka dengan Tari Remo, sebuah tarian yang melambangkan semangat juang seorang pangeran di medan pertempuran. Simak pembahasan lengkap mengenai jejak sejarah ludruk di Jawa Timur di bawah ini.
Daftar isi
Daftar isi

Daftar isi
1. Asal-usul Kesenian Ludruk
Dalam buku Corak Budaya Indonesia dalam Bingkai Kearifan Lokal karya Alik Ulfatus Solikah, disebutkan bahwa ludruk berkembang di Jawa Timur, terutama di wilayah Jombang, Mojokerto, Surabaya, dan Malang. Hal ini dibuktikan dengan adanya banyak sanggar ludruk di daerah-daerah tersebut.
Disebutkan jika ludruk berawal dari pertunjukan rakyat bernama “ngamen”, yaitu hiburan keliling yang dibawakan oleh kelompok seniman jalanan. Mereka tampil di acara hajatan atau pesta rakyat sambil menyampaikan syair-syair disertai tabuhan alat musik sederhana. Pada masa itu, kesenian ludruk dilakukan oleh pemain pria dan beberapa pemain pria yang berdandan seperti wanita agar tampak lucu.
2. Ludruk Sebagai untuk Hiburan dan Kritik Politik
Seiring perkembangannya, ludruk tidak hanya menjadi tontonan yang menghibur, tetapi juga sarana untuk menyampaikan kritik sosial dan politik. Dalam pementasannya, ludruk mulai menggunakan dialog, tarian, dan alur cerita yang terstruktur.
Tokoh penting dalam sejarah ludruk adalah Cak Durasim, yang dikenal berani menyuarakan kritik terhadap penjajahan. Dalam buku Mengenal Kesenian Nasional 4: Ludruk karya Aji Jawoto, disebutkan bahwa pada tahun 1933, Cak Durasim mendirikan Ludruk Organizatie (LO). Kelompok ludruk ini terkenal karena keberaniannya menampilkan lakon-lakon yang berisi sindiran terhadap pemerintah kolonial Belanda dan Jepang.
3. Perkembangan Ludruk di Era Kemerdekaan
Setelah Indonesia merdeka, ludruk mengalami masa kejayaan pada era 1945–1970-an. Saat itu, pertunjukan ludruk sering digelar di gedung kesenian dan panggung rakyat di berbagai daerah Jawa Timur. Beberapa kelompok ludruk terkenal pada masa itu antara lain Ludruk Marhaen dan Ludruk Tresna Enggal.
Dalam buku Seni Budaya Jawa dan Karawitan Sekolah Dasar (Ungkapan Keindahan dalam Sebuah Musik Gamelan) karya Belinda Dewi Regina, disebutkan bahwa kesenian ludruk mengalami perubahan seiring dengan perkembangan zaman. Dari yang awalnya ludruk berfungsi sebagai media kritik terhadap penjajahan, kesenian ini kemudian juga digunakan untuk menyampaikan pesan-pesan pemerintah.
Selain itu, cerita-cerita dalam ludruk terus menyesuaikan diri dengan perubahan kondisi sosial, kemajuan teknologi, serta gaya hidup masyarakat, sehingga tetap relevan dengan kehidupan pada tiap masanya.
4. Perkembangan Ludruk di Era Modern
Memasuki era modern, ludruk menghadapi tantangan besar. Perkembangan hiburan digital membuat minat masyarakat terhadap kesenian tradisional ini semakin menurun. Meski begitu, ludruk tetap memiliki nilai sejarah dan budaya yang penting sebagai warisan khas Jawa Timur yang perlu dijaga dan dilestarikan.
Baca Juga: Makna Sejarah Upacara Tabuik di Pariaman Bernilai Religi dan Kebersamaan
(SA)
