Makna Sejarah Upacara Tabuik di Pariaman Bernilai Religi dan Kebersamaan

Penulis yang percaya setiap kata punya kekuatan. Spesialis di bidang teknologi, personal finance, dan otomotif.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Hendro Ari Gunawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Upacara Tabuik merupakan tradisi kebudayaan masyarakat Pariaman, Sumatera Barat. Tradisi ini digelar setiap tahun untuk memperingati gugurnya cucu Nabi Muhammad SAW, yaitu Husein bin Ali di Perang Karbala. Upacara Tabuik memiliki kaitan erat dengan nilai-nilai keislaman dan telah menjadi bagian penting dari identitas budaya masyarakat Pariaman. Simak pembahasan berikut mengenai makna sejarah upacara Tabuik di Pariaman.
Daftar isi
Daftar isi

Daftar isi
1. Asal Usul Upacara Tabuik di Pariawan
Upacara Tabuik pertama kali diperkenalkan di Pariaman pada abad ke-19. Dalam buku Dinamika Islam di Nusantara karya Ahmad Zuhdi dkk., disebutkan bahwa tradisi ini dibawa oleh pasukan Tamil Muslim Syiah dari India yang menetap di wilayah tersebut pada masa pemerintahan Inggris. Seiring waktu, tradisi ini kemudian berbaur dengan budaya masyarakat lokal Pariaman.
Kata “Tabuik” berasal dari bahasa Arab, yang berarti peti atau keranda. Selain menjadi nama upacara, istilah ini juga merujuk pada benda utama dalam ritual tersebut, yaitu sebuah keranda besar yang dibuat dengan bahan kayu, rotan, dan bambu.
Tabuik digambarkan memiliki bentuk menyerupai buraq, makhluk berkepala manusia, bertubuh kuda, dan bersayap. Dalam kepercayaan masyarakat, wujud ini melambangkan perwujudan buraq yang membawa jasad Husein menuju langit. Bagian atas Tabuik berbentuk menara yang dihias sedemikian rupa, sedangkan bagian bawahnya menyerupai tubuh buraq, menciptakan simbol yang sarat makna spiritual.
2. Makna Sejarah Upacara Tabuik di Pariaman
Bagi masyarakat Pariaman, upacara Tabuik menjadi cerminan identitas budaya dan spiritual. Tradisi ini dilakukan untuk mengenang wafatnya Husein bin Ali dalam peristiwa Perang Karbala. Melalui Tabuik, masyarakat mengekspresikan rasa duka, penghormatan, serta semangat perjuangan.
Dalam penelitian berjudul Makna Tradisi Tabuik oleh Masyarakat Kota Pariaman (Studi Deskriptif Interaksionisme Simbolik) oleh M.A, Dalmenda dan Novi Elian, dijelaskan bahwa masyarakat Pariaman memaknai penyelenggaraan Tabuik sebagai peristiwa tahunan yang menjadi ajang pariwisata, kebersamaan, dan silaturahmi antarwarga.
Nilai-nilai dalam tradisi Tabuik telah membentuk karakter masyarakat Pariaman yang menjunjung tinggi kebersamaan, persaudaraan, dan solidaritas sosial. Selain itu, upacara Tabuik juga mengajarkan semangat gotong royong. Para peserta bersama-sama mengangkat dan mengusung keranda Tabuik sebagai bentuk penghormatan sekaligus kebersamaan dalam satu tujuan.
3. Rangkaian Prosesi Tabuik di Pariaman
Upacara Tabuik dilaksanakan setiap tanggal 10 Muharram dalam kalender Islam, bertepatan dengan Hari Asyura. Berdasarkan buku 70 Tradisi Unik Suku Bangsa di Indonesia karya Fitri Haryani Nasution, prosesi upacara ini terdiri dari beberapa tahapan penting, antara lain:
Maambiak tanah (mengambil tanah), menebang batang pisang, maatam (ekspresi kesedihan), mengarak jari-jari dan sorban. Setelah itu, tabuik naik pangkek atau dinaikkan ke laut, hoyak tabuik (mengarak tabuik), dan dilarung ke laut.
Pada puncak acara, warga dan pengunjung berkumpul untuk menyaksikan arak-arakan Tabuik menuju Pantai Gandoriah. Tabuik kemudian dilarung ke laut sesaat sebelum matahari terbenam. Seluruh prosesi diiringi tabuhan gandang khas Pariaman) dan berbagai atraksi.
Baca Juga: Tradisi Grebeg Maulud di Jawa Tengah: Asal Usul, Prosesi, hingga Maknanya
(SA)
