Konten dari Pengguna

Kisah Pembangunan Monas dan Makna Simboliknya

Hendro Ari Gunawan

Hendro Ari Gunawan

Penulis yang percaya setiap kata punya kekuatan. Spesialis di bidang teknologi, personal finance, dan otomotif.

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Hendro Ari Gunawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi monas. Foto: Unsplash
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi monas. Foto: Unsplash

Monumen Nasional (Monas) adalah salah satu ikon paling terkenal dan membanggakan di Indonesia, berdiri megah di pusat Jakarta sebagai lambang perjuangan dan semangat kemerdekaan bangsa. Pembangunan Monas dimulai pada 17 Agustus 1961 sebagai penghormatan terhadap perjuangan rakyat Indonesia dalam merebut kemerdekaan. Tidak hanya sebagai tugu peringatan, Monas juga mengandung makna simbolik yang dalam mengenai semangat, persatuan, dan identitas nasional. Artikel ini akan mengulik lebih dalam seputar kisah pembangunan monas dan makna simboliknya.

Daftar isi

Latar Belakang Pembangunan Monas

Ide pembangunan Monas diawali oleh Presiden Soekarno sebagai simbol visual keberanian dan tekad bangsa Indonesia untuk bangkit dari penjajahan. Pembangunan Monas dilaksanakan bertahap mulai tahun 1961 hingga selesai pada 1975.

Dalam buku Sejarah Pembangunan Monas dijelaskan bahwa sayembara untuk desain Monas berlangsung dua kali, hingga akhirnya arsitek Soedarsono terpilih dengan rancangan yang mengandung filosofi dan estetika khas budaya Indonesia. Struktur Monas yang berbentuk monolitik mencerminkan kesatuan dan kekuatan bangsa yang tak tergoyahkan.

Makna Simbolik dalam Arsitektur Monas

Monas memiliki berbagai elemen simbolis yang merefleksikan nilai-nilai nasionalisme dan kebudayaan Indonesia. Lidah api di puncak Monas yang dilapisi emas melambangkan semangat perjuangan yang terus menyala tanpa padam bagi bangsa Indonesia. Jarak dan tinggi Monas yang mencapai 132 meter mencerminkan skala dan arti besar perjuangan kemerdekaan.

Berdasarkan laman sejarah.fkip.uns.ac.id, pembangunan Monas mengacu pada tanggal kemerdekaan Indonesia, yakni 17 Agustus 1945 dengan rincian sebagai berikut:

  • Tinggi bangunan cawan: 17 meter

  • Tinggi lidah api: 8 meter

  • Panjang terowongan sisi cawan: 45 meter

Dalam jurnal The Philosophy of National Monument (Monas) in Jakarta oleh R. Haryanto, diuraikan bahwa bentuk Monas terinspirasi dari filosofi Lingga dan Yoni, melambangkan kesatuan antara langit dan bumi serta keseimbangan kekuatan.

Proses dan Tahapan Pembangunan Monas

Pembangunan Monas terbagi menjadi tiga tahap penting sesuai catatan dari buku Sejarah Pembangunan Monas. Tahap pertama (1961-1965) difokuskan pada pembentukan struktur utama dengan dana sumbangan rakyat Indonesia.

Tahap kedua berlangsung pada 1966-1968 dengan penambahan detail dan perlengkapan, meskipun sempat terhenti oleh gejolak politik seperti Gerakan 30 September.

Tahap ketiga dari 1969 hingga 1975 berhasil menyelesaikan bagian puncak dan diresmikan pada 12 Juli 1975. Proses ini menandai upaya bersama antara pemerintah, arsitek, dan masyarakat untuk mewujudkan simbol kebanggaan nasional.

Peran Monas Sebagai Simbol Nasional dan Pendidikan Sejarah

Monas tidak hanya berfungsi sebagai monumen sejarah, tetapi juga sebagai pusat edukasi bagi masyarakat. Museum di bawah Monas menyimpan diorama perjuangan bangsa sejak zaman pra-kemerdekaan hingga masa modern.

Publik dapat belajar tentang perjalanan sejarah Indonesia secara visual dan interaktif, sebagaimana disampaikan dalam kajian Monas sebagai Simbol Perjuangan Bangsa Indonesia oleh Dewi Astuti. Monas juga menjadi tempat refleksi patriotisme sekaligus pengingat akan pentingnya menjaga keberagaman dan persatuan bangsa.

Warisan dan Dampak Kebudayaan Monas

Monas hari ini berdiri sebagai bukti nyata dari semangat gotong royong dan cinta tanah air Indonesia. Merujuk buku Revitalisasi Kawasan Monas membahas bagaimana Monas berkembang menjadi kawasan wisata sekaligus simbol kota Jakarta yang menghidupkan nilai-nilai sejarah dalam kehidupan modern.

Bentuk arsitektur yang memadukan tradisi dan modernitas ini memberikan pesan bahwa kemerdekaan bukan hanya soal masa lalu, tetapi investasi masa depan yang harus dijaga.

Baca juga: Sejarah Penemuan Candi Muaro Jambi di Sumatera

(NDA)