Konten dari Pengguna

Kisah Perjuangan Bung Tomo di Surabaya yang Menginspirasi Bangsa

Hendro Ari Gunawan

Hendro Ari Gunawan

Penulis yang percaya setiap kata punya kekuatan. Spesialis di bidang teknologi, personal finance, dan otomotif.

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Hendro Ari Gunawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Surabaya. Foto: Shutter Stock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Surabaya. Foto: Shutter Stock

Surabaya, yang kini dikenal sebagai Kota Pahlawan, pernah bergemuruh oleh semangat perlawanan rakyatnya di bawah kepemimpinan Bung Tomo. Sosoknya tidak hanya dikenal melalui pidato heroik, tetapi juga melalui pengabdian dan perjuangan tanpa henti demi kemerdekaan Indonesia. Berikut rangkuman kisah perjuangan Bung Tomo berdasarkan laman resmi Universitas Insan Cita Indonesia.

Kehidupan Awal Bung Tomo

Sebelum dikenal sebagai pahlawan nasional, Bung Tomo melalui masa muda yang penuh pembelajaran dan pengalaman yang membentuk jiwa nasionalismenya. Berikut beberapa fase penting dalam kehidupannya:

  • Sutomo lahir pada 3 Oktober 1920 di Surabaya dari keluarga kelas menengah.

  • Setelah menyelesaikan pendidikan dasar, ia melanjutkan ke sekolah menengah pertama di MULO.

  • Pernah berhenti sekolah untuk bekerja, namun kembali belajar lewat HBS secara korespondensi meski tidak lulus resmi.

  • Bergabung dengan Kepanduan Bangsa Indonesia (KBI) dan meraih tingkat Pandu Garuda pada usia 17 tahun.

  • Aktif menulis sejak remaja: menjadi jurnalis lepas di Harian Soeara Oemoem, redaktur mingguan Pembela Rakyat, hingga penulis di harian berbahasa Jawa Ekspres.

Media sebagai Alat Perjuangan

Setelah menempuh pendidikan, Bung Tomo memanfaatkan tulisan dan media untuk menyebarkan semangat perjuangan. Beberapa langkah pentingnya dalam dunia jurnalistik antara lain:

  • Memulai karier sebagai jurnalis lepas di Harian Soeara Oemoem dan setahun kemudian menjadi Redaktur Mingguan Pembela Rakyat pada usia 18 tahun.

  • Pada 1939, di usia 19 tahun, menulis untuk harian berbahasa Jawa, "Ekspres".

  • Bergabung dengan kantor berita Antara, menangani laporan bahasa Indonesia untuk wilayah Jawa Timur.

  • Di usia 25 tahun, menjadi kepala kantor berita Antara di Surabaya. Ia melaporkan berita kemerdekaan dalam bahasa Jawa agar terhindar dari sensor Jepang.

Hari Pahlawan 10 November 1945

Menjadi jurnalis justru semakin mengobarkan semangat perjuangan Bung Tomo. Selain aktif menulis, ia juga terlibat dalam organisasi perjuangan, termasuk terpilih sebagai anggota Gerakan Rakyat Baru dan pengurus Pemuda Republik Indonesia (PRI) di Surabaya pada 1944.

Puncak perjuangannya terjadi pada 10 November 1945, ketika ia memimpin rakyat Surabaya melawan tentara Inggris yang ingin kembali menguasai Indonesia.

Lewat pidato heroik di radio, Bung Tomo berhasil membakar semangat juang rakyat untuk mempertahankan kemerdekaan, hingga peristiwa itu akhirnya diabadikan sebagai Hari Pahlawan.

Jejak Politik dan Peran Setelah Kemerdekaan

Perjuangan Bung Tomo tidak berhenti setelah Indonesia merdeka. Ia terus mengabdi melalui jalur politik dan pemerintahan. Beberapa peran pentingnya antara lain:

  • Lima tahun pasca-kemerdekaan, Bung Tomo diangkat sebagai Menteri Negara Urusan Bekas Pejuang Bersenjata sekaligus menjabat sebagai Menteri Sosial Ad Interim.

  • Ia menjadi anggota DPR periode 1956–1959, mewakili Partai Rakyat Indonesia.

  • Karier politiknya cukup fluktuatif. Di beberapa kesempatan ia mendukung kebijakan penguasa, sementara di sisi lain ia tidak ragu bersikap kritis terhadap pemerintah.

  • Pada awal Orde Baru tahun 1978, Bung Tomo sempat ditahan karena kritikannya, namun dibebaskan setahun kemudian.

Akhir Perjalanan Hidup Bung Tomo

Setelah pembebasan, Bung Tomo memilih lebih fokus pada keluarga dan pendidikan anak-anaknya. Ia tetap menginspirasi generasi muda melalui pengalaman hidup dan perjuangannya.

Pada 7 Oktober 1981, Bung Tomo meninggal dunia saat menunaikan ibadah haji di Padang Arafah, Arab Saudi. Jenazahnya dibawa pulang dan dimakamkan di Tempat Pemakaman Umum Ngagel, Surabaya.

Peringatan Hari Pahlawan setiap 10 November menjadi wujud penghargaan terhadap jasa dan perjuangan Bung Tomo dalam merebut serta mempertahankan kemerdekaan.

Baca Juga: 4 Ciri-Ciri Organisasi Budi Utomo yang Jadi Pergerakan Nasional Pertama