Konten dari Pengguna

Kisah Pertempuran Laut Aru dan Gugurnya Yos Sudarso

Hendro Ari Gunawan

Hendro Ari Gunawan

Penulis yang percaya setiap kata punya kekuatan. Spesialis di bidang teknologi, personal finance, dan otomotif.

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Hendro Ari Gunawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi TNI Angkatan Laut. Foto: SONNY TUMBELAKA / AFP
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi TNI Angkatan Laut. Foto: SONNY TUMBELAKA / AFP

Pada 15 Januari 1962, perairan Laut Arafura menjadi saksi salah satu pertempuran laut paling heroik dalam sejarah Indonesia. Komodor Yosaphat “Yos” Sudarso memimpin langsung jalannya pertempuran dengan keberanian luar biasa hingga akhirnya gugur sebagai pahlawan. Berikut cerita Pertempuran Laut Aru yang dikutip dari buku Kisah 124 Pahlawan & Pejuang Nusantara karya Gamal Komandoko.

Awal Konflik Indonesia-Belanda

Pertempuran Laut Aru tidak muncul begitu saja. Akar konflik ini berawal dari pengingkaran Belanda terhadap kesepakatan Konferensi Meja Bundar (KMB).

Dalam perjanjian tersebut, Irian Barat seharusnya diserahkan kepada Indonesia. Namun, Belanda justru berusaha membentuk “Negara Boneka Papua” dan menolak menyerahkan wilayah itu.

Langkah Belanda memicu ketegangan diplomatik dan militer. Indonesia kemudian melancarkan Operasi Trikora (Tri Komando Rakyat) sebagai bentuk perlawanan dan penegasan kedaulatan atas Irian Barat. Dalam operasi inilah, pertempuran heroik di Laut Aru menjadi salah satu babak penting.

Strategi Senyap dan Misi Rahasia

Untuk melawan kekuatan Belanda, Indonesia menyusun misi rahasia. Sebuah Satuan Tugas Khusus bernama STC-9 dibentuk dan dikerahkan menuju perairan Irian Barat. Armada laut yang dilibatkan terdiri dari tiga kapal cepat torpedo, yaitu:

  • KRI Macan Tutul (650) - kapal utama yang dipimpin langsung oleh Komodor Yos Sudarso.

  • KRI Macan Kumbang (651).

  • KRI Harimau (652).

Misi utama mereka adalah melakukan pengintaian dan mengalihkan perhatian armada Belanda.

Strategi untuk Mundur

Pertempuran Laut Aru mencapai puncak ketegangan saat armada Indonesia berhadapan langsung dengan kekuatan laut Belanda yang jauh lebih unggul. Berikut rangkaian momen dramatisnya:

  • Menjelang dini hari, tiga kapal cepat torpedo Indonesia berpapasan dengan dua kapal destroyer dan pesawat tempur Belanda. Meski posisi tidak seimbang, pasukan Indonesia tetap melaju dengan keberanian penuh.

  • Menyadari keterbatasan kekuatan tempur, Komodor Yos Sudarso memerintahkan kapal-kapal republik untuk mundur sementara.

  • Dalam situasi tegang tersebut, mesin KRI Macan Tutul tiba-tiba mati, sehingga membuat posisi kapal semakin sulit untuk bermanuver.

KRI Macan Tutul Gugur

Mesin yang mati membuat KRI Macan Tutul tidak punya banyak pilihan. Di sinilah keberanian Komodor Yos Sudarso benar-benar terlihat.

  • Ia memilih mengorbankan kapal yang dipimpinnya agar pasukan lainnya bisa selamat. Yos Sudarso menjadikan KRI Macan Tutul sebagai umpan agar dua kapal republik lainnya bisa meloloskan diri dari kepungan.

  • Kapal tersebut kemudian berhadapan langsung dengan kapal Belanda. Tembakan pertama sempat meleset, tetapi tembakan kedua menghantam telak. Kapal buatan Jerman Barat itu terbakar hebat dan perlahan tenggelam.

  • Melalui radio, terdengar jelas suara Komodor Yos Sudarso yang mengucap: “Kobarkan semangat pertempuran!” sebelum KRI Macan Tutul karam di Laut Aru bersama 24 prajurit lainnya.

  • Komodor Yos Sudarso wafat di usia muda yakni 36 tahun, setelah mengorbankan nyawanya demi keselamatan pasukan dan kehormatan negara.

  • Untuk menghormati jasanya, pemerintah menetapkan Yos Sudarso sebagai pahlawan nasional dan mengabadikan namanya pada KRI Yos Sudarso, salah satu kapal perang TNI AL.

Penetapan Hari Dharma Samudera

Untuk mengenang peristiwa heroik tersebut, 15 Januari diperingati sebagai Hari Dharma Samudera setiap tahunnya. Peringatan ini mengajarkan generasi muda untuk:

  • Meneladani keberanian dan jiwa pengorbanan Komodor Yos Sudarso.

  • Memahami arti penting kedaulatan maritim bagi Indonesia.

  • Menumbuhkan rasa cinta tanah air dan semangat juang.

Baca Juga: Kisah Pertempuran Surabaya 10 November 1945